Sejak aku mulai ambil cuti melahirkan (Pertengahan Januari 2013) kami sudah mulai pindah ke rumah baru di daerah Cimanggis, Depok, dengan pertimbangan aku melahirkan disana dan ga terlalu repot pindahan karena Bara masih di dalem peyut. Cuti sengaja diambil diawal (sebulan sebelum HPL), mengingat pengalaman saat melahirkan si Kakak yang maju diawal. Salah satu konsekuensinya adalah kami harus mencari klinik atau rumah sakit yang dekat dengan rumah dan nyaman untuk melahirkan nanti. Baybay deh dokter Yenny..
Sampai minggu ke-39 belum juga ada tanda-tanda. Kami khawatir lah ya... apalagi beban perutku udah makin berat. Waktu itu kami periksa ke RS Hermina Grand Wisata. Dokter bilang memang belum ada pembukaan, tapi bayi sudah siap di posisi dan air ketuban mulai sedikit keruh, bila belum ada tanda juga, pekan depan kami harus periksa ke dokter lagi.
Pekan ke-40, tanggal 13 Februari, aku minta ikut si Ayah ke cengkareng, pingin liat rumah lama, sekalian mau kontrol ke dr. Yenny lagi. Ga tau ya, tapi aku punya filing (jiaah.. filing) harus ketemu dr. Yenny lagi. Benar saja, pas ketemu dokter Yenny, diutak utik sedikit, Beliau bilang aku sudah bukaan 2, kemungkinan lahir besok pagi. Kami menanyakan apa masih bisa kalau melahirkan di Cimanggis, Dokter meng-iyakan, masih ada waktu, walau jakarta macet malam ini. Sebelum pergi, kandunganku di cek ctg, untuk memastikan bayi baik-baik saja.
Sepanjang jalan aku hanya merasakan kontraksi sedikit-sedikit, ga sehebat waktu lahiran si Kakak (padahal sih belum aja). Karena belum ada tanda-tanda darurat, kami ke rumah Ibu dulu, menjemput Beliau untuk menjaga si Kakak, sementara aku ke klinik.Horor banget nih perjalanan, macet, harap2 cemas, sambil mangku si Kakak pula. Oiya, diperjalanan aku sempatkan live report ke beberapa sahabat, hayaah.. Liana : njawab chat, laporan dan minta doa, mba Sri : laporan dan minta doa, Ena: Laporan,minta doa & diskusi nama.
Setelah menjemput Ibu, kami langsung menuju rumah Cimanggis, yang sebelumnya mampir ke klinik dulu. Sekitar jam 23.00 waktu itu. Bidan yang memeriksa mengatakan aku masih bukaan 3, diminta pulang dulu, karena perkiraan masih besok pagi.
Kami pulang kerumah dan persiapan, apa saja yang dibawa nanti, tas perlengkapan bayi dan perlengkapan aku yang memang sudah siap, kamera, madu, coklat, roti, dan bantal. Selanjutnya aku tidur seperti biasa. Sekitar jam 3 pagi perutku mulai terasa mulas dan keluar lendir darah, sepertinya sudah mulai mendekati waktunya. Suamiku mulai persiapan berangkat. Cium si Kakak, pamit Ibu dan minta restu, berangkatlah kami ke klinik tadi sekitar jam 3.30.
Sekitar15 menit kami sampai di klinik. Bidan mengecek, bukaanku masih 5, aku masih diizinkan jalan, duduk atau apa saja untuk membuat posisi lebih nyaman.Kontraksi mulai terasa kontinyu, tapi aku masih sempat ketiduran juga setelah subuh, hahahaha.
Menjelang jam 6 kontraksi hebat dan dekat mulai terjadi. Masya Alloh rasanya... Bidan terus memberikan dukungan dan kalimat-kalimat positif untuk kami. si Ayah menemani aku di samping tempat ridur, kami berjuang bertiga saja. Aku sempat kaget, karena Ibu Bidan Nani ini hanya sendiri mendampingi persalinan dan memang terbiasa begitu. Beda dengan persalinan Kakak, dimana aku ditangani 4 orang, mungkin 5, atau lebih, karena setiap orang punya tugas yang berbeda-beda, jadi kadang datang terus pergi lagi.
Aku diperbolehkan ambil posisi apapun dan berteriak oleh bidan. Sebenarnya ga dibolehkan pun aku tetap berteriak. Si Ayah tetap tenang di samping tempat tidur, kadang memegang, kadang menyuapi aku madu, kadang membantu merubah posisi aku, dan yang paling sering adalah menerima segala keluhanku. Aku hampir putus asa. Rasa sakit yang luar biasa sempat membuat aku mengeluarkan kata-kata "ga sanggup lagi". Tapi si Ayah dan Ibu Bidan tetap menyemangati.Akhirnya jam 6.45 Bara lahir, setelah di bersihkan oleh bu bidan dan digunting tali pusatnya oleh si Ayah, Bara langsung di letakkan di atas perutku untuk menjalani IMD, alhamdulillah lancar... Jagoan kami telah lahir, El Faris Kembara Adigie dengan berat 3,6kg.
Intermezzzo :
Beberapa fakta saat proses kelahiran Bara:
1. Sewaktu mau berangkat ke klinik untuk melahirkan, si Ayah mau membawa mukena, untuk aku sholat nanti :D
2. Waktu kontraksi di ruang bersalin, sempet ambil video aku, weiits, sebelumnya pake jilbab dulu (sempet gituu..)
3. Air ketuban pecah sesaat menjelang Bara lahir (selisih beberapa detik aja) dan aku ga terasa.
4. Aku sempat marah ke si Ayah, karena ga mau memegangi lututku maktu aku mau mengejan
5. Selama di kamar bersalin, baik saat aku mengalami kontraksi maupun pasca melahirkan (saat dijahit), bu Bidan banyak menerangkan ilmu pada si Ayah. Aku jadi semacam objek pelajaran gitu. Jadi kebayang yah gimana tenangnya si Ibu Bidan yang masih sempet ngasih ilmu, disaat aku teriak-teriak kesakitan kontraksi dan kesakitan dijahit.
Minggu, 25 Agustus 2013
Giliran Catatan Bara kali ini... (2)
3 Agustus 2012, sore sepulang kerja..
Aku hampir tak berhenti menangis selama di kantor, Alhamdulillah si ayah menawari aku menjemput lebih dekat, dan kami pun memutuskan untuk pergi ke dr. Yenny lagi malam ini juga.
Setelah mendengar penyampaianku dr. Yenny masih bersikeras bahwa yang aku alami belum tentu rubella, kami dimintanya untuk tetap berpikir positif, karena akan mempengaruhi janin. namun untuk lebih pastinya aku harus tetap melakukan tes torch dan USG 4d di kehamilan 25an minggu. Kami pun memutuskan untuk menjalani tes torch di RS Hermina ini. Agak mahal tapi ga bikin panik seperti waktu di RS Fatmawati..
ya Alloh lindungi bayi kami...
5 Agustus 2012
Aku menjalani tes torch
11 Agustus 2012
Sejak awal kehamilan ini aku diserbu penyakit gatal, seluruh kulitku gatal terutama di kaki, paha dan tangan, gatal luar biasa, apalagi malam hari. Kami periksakan ke dokter kulit di Hermina pula dengan dr. Detty, senengnya... dokter ramah banget, tapi sayang harga obatnya ga ramah.... dan tentu saja (harus) manjur.
Hasil tes juga sudah selesai, Subhanalloh walhamdulillah, hasilnya negatif, nightmare ini sudah lewat, semoga. Artinya InsyaAlloh bayi kami ga terkena efek virus rubella, tinggal membangun pikiran positif supaya semua lancar. Ga lupa dr. Yenny mengingatkan kami untk melakukan USG 4d di usia 25-26 minggu.
Alhamdulillah lagi, hamil kali ini aku banyak diberi kemudahan oleh Alloh SWT, tidak mual, makan banyak dan suka pedes, ga terlalu capek juga, seperti biasa aja. pulang pergi ngantor bisa dilakoni dengan aman dan lancar (waktu hamil Key dulu kami ambil sewa kost deket kantor).
USG 4 dimensi dengan dr.Dasep juga hasilnya bagus. Alhamdulillah ga ada yg perlu di khawatirkan, tinggal nunggu waktu nya lahir aja..
Aku hampir tak berhenti menangis selama di kantor, Alhamdulillah si ayah menawari aku menjemput lebih dekat, dan kami pun memutuskan untuk pergi ke dr. Yenny lagi malam ini juga.
Setelah mendengar penyampaianku dr. Yenny masih bersikeras bahwa yang aku alami belum tentu rubella, kami dimintanya untuk tetap berpikir positif, karena akan mempengaruhi janin. namun untuk lebih pastinya aku harus tetap melakukan tes torch dan USG 4d di kehamilan 25an minggu. Kami pun memutuskan untuk menjalani tes torch di RS Hermina ini. Agak mahal tapi ga bikin panik seperti waktu di RS Fatmawati..
ya Alloh lindungi bayi kami...
5 Agustus 2012
Aku menjalani tes torch
11 Agustus 2012
Sejak awal kehamilan ini aku diserbu penyakit gatal, seluruh kulitku gatal terutama di kaki, paha dan tangan, gatal luar biasa, apalagi malam hari. Kami periksakan ke dokter kulit di Hermina pula dengan dr. Detty, senengnya... dokter ramah banget, tapi sayang harga obatnya ga ramah.... dan tentu saja (harus) manjur.
Hasil tes juga sudah selesai, Subhanalloh walhamdulillah, hasilnya negatif, nightmare ini sudah lewat, semoga. Artinya InsyaAlloh bayi kami ga terkena efek virus rubella, tinggal membangun pikiran positif supaya semua lancar. Ga lupa dr. Yenny mengingatkan kami untk melakukan USG 4d di usia 25-26 minggu.
Alhamdulillah lagi, hamil kali ini aku banyak diberi kemudahan oleh Alloh SWT, tidak mual, makan banyak dan suka pedes, ga terlalu capek juga, seperti biasa aja. pulang pergi ngantor bisa dilakoni dengan aman dan lancar (waktu hamil Key dulu kami ambil sewa kost deket kantor).
USG 4 dimensi dengan dr.Dasep juga hasilnya bagus. Alhamdulillah ga ada yg perlu di khawatirkan, tinggal nunggu waktu nya lahir aja..
Jumat, 10 Mei 2013
Giliran Catatan Bara kali ini... (1)
Kali ini adalah rekaman kehamilan keduaku. Catatan seadanya aja lah ya, ga sempet moles2, yang penting tercatat dulu, halaah. kayak biasanya dipoles aja. Sebenernya ga sempat, tapi rasanya ga adil kalau ga dibuat, hee... ditengah kesibukan, ciyee.. disempatkan untuk (nyoba) nulis lah ya.
Sekitar awal bulan Juli 2012, iseng2 aku coba testpack dan ternyata muncul garis dua... artinya aku hamil (lagi). Terjawablah kenapa beberapa hari ini sering banget capek, mual dan kembung, pumping asi juga makin sedikit. Sebenarnya sudah beberapa kali si ayah menyarankan aku untuk testpack, tapi aku yang masih merasa ngga mungkin lah hamil, tapi ternyata.... Welcome little baby, ke dokter yuukkk...
11 Juli 2012
Setelah periksa (ke dr. Yenny lagi), usia kandunganku 10 minggu dan Alhamdulillah sehat. Dokter menunjukkan kaki dan tangan sang janin. Si Ayah tertawa sumringah, aku masih senyum kecut. Satu hal yang paling aku khawatirkan adalah usia Key, si kakak, yang baru satu tahun tiga bulan. Ini artinya di usianya saat satu tahun sepuluh bulan ia sudah punya adek, bisakah aku memberi perhatian yang cukup, bisakah aku tetap memberi asi hingga 2tahunnya, dan kekhawatiran-kekhawatiran lain yang bermunculan. Tapi berkat support dari si Ayah, ya ga usah dipikirkan terlalu berat, let it flow...
Sewaktu konsultasi dengan dr. Yenny, kami menyampaikan bahwa di akhir bulan Mei aku pernah mengalami panas tinggi, kira-kira selama tiga hari disertai nyeri sendi, terutama di kaki, sampai sulit jalan. Waktu itu aku belum tau sudah hamil atau belum.Setelah diperiksakan ke dokter, hasilnya flu aja, semua penyakit lain yang kami duga disanggah dokter. Di hari ketiga, setelah demam turun muncul ruam merah di wajah dan seluruh tubuh, mirip campak. Dugaan kami mengerucut menjadi campak jerman (rubella). Dr. Yenny menenangkan kami, campak itu banyak macamnya, belum tentu rubella katanya, itupun kalau benar terinfeksi Namun untuk mengantisipasi keadaan aku diminta untuk melakukan tes torch. Kami mencoba memilih untuk memanfaatkan fasilitas askes, dr. Yenny mengiyakan dan siap menunggu hasilnya.
18 Juli 2012
Aku pergi ke kantor Askes Pasar Minggu untuk merubah Puskesmas rujukan ke Puskesmas Tebet, supaya deket kantor.
19 Juli 2012
Pagi-pagi sekali aku sudah mengantri ke Puskesmas, ternyata antrian rujukan askes beda dengan pasien lain, syukurlah... hee... dokter askes (atau perawat ya? rada ga jelas, maaf ya dok) membuat rujukan, itupun menurutnya harus ke SPOG disana dulu, ga bisa langsung ke lab, pilihan pun hanya bisa ke RS Fatmawati atau RSCM. Aku memilih ke RS Fatmawati, karena aku pikir lebih mudah aksesnya dari pada ke RSCM, tapi ternyata aku salah.... baca di bawah ini.
3 Agustus 2012
Jam 9 pagi aku sampai di RSF, langsung menuju loket pelayanan askes, Alhamdulillah mudah. Perjalanan dilanjut ke lantai tempat periksa, setelah membayar 10ribu saja, aku mengantri dipanggil. Aku pilih dokter SPOG perempuan, namanya dr. Yucca Rosmeilya (kalo ga salah ketik). Sekitar jam 11 baru aku dipanggil.. *pingsan deh, eh ngga ding, Alhamd udah bawa cemilan walau di bulan ramadhan, hee ketauan deh.
Setelah mendengar penjelasanku dan menyampaikan maksud untuk meminta rujukan ke lab untuk tes Torch, dr. Yucca menyampaikan, menurut pendapatnya itu memang benar campak, dan ga ada gunanya lagi melakukan tes torch, karena ga ada yang bisa dilakukan. Bila memang janin sudah terinfeksi maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan. obat pun sudah tidak membantu, namun bila aku membutuhkan, beliau tetap membuatkan rujukan untuk ke Lab, sekaligus membuat pengantar untuk USG, (ternyata ruang periksa dokter ini tidak ada alat untuk USG pasien). Aku diperiksa dokter dengan tangan dan alat doppler untuk mendengarkan denyut jantung bayi. Lamaaa sekali dokter tidak menemukan denyut si bayi, aku khawatir, dokter menggumam, "harusnya janin seusia ini ini sudah mudah terdengar". Akhirnya terdengar juga... sekali lagi dokter menyampaikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan bayi yang terinfeksi virus rubella. Aku keluar ruangan dengan lemas.
Aku menuju ruang USG, dan ternyataa.... Praktik USG sudah tutup dari jam 9, iya jam 9 pagi dan sekarang jam 11.30, Waaattt? untuk ngedapetin surat rujukan USG dari dokter aja antrinya sampe jam 11, kok jam 9 udah tutup. Dan aku pun baru tau kalau pasien yang antri USG adalah pasien yang mendapat surat rujukan dokter dari kemarin2, yang dapet hari ini ya berarti di USG besok2, dengan catatan, datang dari pagi-pagi karena jam 9 udah tutup dan laporan hasil USGnya baru dibaca dokter di konsultasi berikutnya. Udah lemes, pingsan lagi....
dan dengan sok bijaknya aku merenung tentang perkembangan dunia kesehatan Indonesia.
Perjalanan selanjutnya ke laboratorium, urut dada lagi, karena lab hanya buka dari jam 8 - 13 dan karena ini hari Jumat maka lab tutup jam 11.00, Masya Alloh, rumah sakit sebesar ini lab-nya ga buka 24jam... sayang ga keingetan memfoto papan jadwalnya. (karena si ayah pun sempat ga percaya). karena lab sudah tutup, aku sulit menemui pegawainya, sekedar untuk bertanya, pas ketemu pun pegawai seperti terkesan agak males melayani, ya karena diluar jam buka sih. dan kaget (lagi) ternyata di lab ini ga ada fasilitas tes torch, aku disarankan tes di lab luar rumah sakit, kok dr. Yucca tadi ga nyampein kalau di RSF ini ga ada tes torch ya?... kaget (lagi) kalapun ada belum tentu dicover askes... ya Alloh....
Dengan langkah tak bersemangat aku menelepon si Ayah dan menyampaikan semua, keluar deh air mata... tentang pelayanan di rumah sakit ini, tentang ga tersedianya test torch dan yang terberat adalah uraian dr. Yucca tadi tentang kemungkinan kondisi janin kami...
-bersambung-
Sekitar awal bulan Juli 2012, iseng2 aku coba testpack dan ternyata muncul garis dua... artinya aku hamil (lagi). Terjawablah kenapa beberapa hari ini sering banget capek, mual dan kembung, pumping asi juga makin sedikit. Sebenarnya sudah beberapa kali si ayah menyarankan aku untuk testpack, tapi aku yang masih merasa ngga mungkin lah hamil, tapi ternyata.... Welcome little baby, ke dokter yuukkk...
11 Juli 2012
Setelah periksa (ke dr. Yenny lagi), usia kandunganku 10 minggu dan Alhamdulillah sehat. Dokter menunjukkan kaki dan tangan sang janin. Si Ayah tertawa sumringah, aku masih senyum kecut. Satu hal yang paling aku khawatirkan adalah usia Key, si kakak, yang baru satu tahun tiga bulan. Ini artinya di usianya saat satu tahun sepuluh bulan ia sudah punya adek, bisakah aku memberi perhatian yang cukup, bisakah aku tetap memberi asi hingga 2tahunnya, dan kekhawatiran-kekhawatiran lain yang bermunculan. Tapi berkat support dari si Ayah, ya ga usah dipikirkan terlalu berat, let it flow...
Sewaktu konsultasi dengan dr. Yenny, kami menyampaikan bahwa di akhir bulan Mei aku pernah mengalami panas tinggi, kira-kira selama tiga hari disertai nyeri sendi, terutama di kaki, sampai sulit jalan. Waktu itu aku belum tau sudah hamil atau belum.Setelah diperiksakan ke dokter, hasilnya flu aja, semua penyakit lain yang kami duga disanggah dokter. Di hari ketiga, setelah demam turun muncul ruam merah di wajah dan seluruh tubuh, mirip campak. Dugaan kami mengerucut menjadi campak jerman (rubella). Dr. Yenny menenangkan kami, campak itu banyak macamnya, belum tentu rubella katanya, itupun kalau benar terinfeksi Namun untuk mengantisipasi keadaan aku diminta untuk melakukan tes torch. Kami mencoba memilih untuk memanfaatkan fasilitas askes, dr. Yenny mengiyakan dan siap menunggu hasilnya.
18 Juli 2012
Aku pergi ke kantor Askes Pasar Minggu untuk merubah Puskesmas rujukan ke Puskesmas Tebet, supaya deket kantor.
19 Juli 2012
Pagi-pagi sekali aku sudah mengantri ke Puskesmas, ternyata antrian rujukan askes beda dengan pasien lain, syukurlah... hee... dokter askes (atau perawat ya? rada ga jelas, maaf ya dok) membuat rujukan, itupun menurutnya harus ke SPOG disana dulu, ga bisa langsung ke lab, pilihan pun hanya bisa ke RS Fatmawati atau RSCM. Aku memilih ke RS Fatmawati, karena aku pikir lebih mudah aksesnya dari pada ke RSCM, tapi ternyata aku salah.... baca di bawah ini.
3 Agustus 2012
Jam 9 pagi aku sampai di RSF, langsung menuju loket pelayanan askes, Alhamdulillah mudah. Perjalanan dilanjut ke lantai tempat periksa, setelah membayar 10ribu saja, aku mengantri dipanggil. Aku pilih dokter SPOG perempuan, namanya dr. Yucca Rosmeilya (kalo ga salah ketik). Sekitar jam 11 baru aku dipanggil.. *pingsan deh, eh ngga ding, Alhamd udah bawa cemilan walau di bulan ramadhan, hee ketauan deh.
Setelah mendengar penjelasanku dan menyampaikan maksud untuk meminta rujukan ke lab untuk tes Torch, dr. Yucca menyampaikan, menurut pendapatnya itu memang benar campak, dan ga ada gunanya lagi melakukan tes torch, karena ga ada yang bisa dilakukan. Bila memang janin sudah terinfeksi maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan. obat pun sudah tidak membantu, namun bila aku membutuhkan, beliau tetap membuatkan rujukan untuk ke Lab, sekaligus membuat pengantar untuk USG, (ternyata ruang periksa dokter ini tidak ada alat untuk USG pasien). Aku diperiksa dokter dengan tangan dan alat doppler untuk mendengarkan denyut jantung bayi. Lamaaa sekali dokter tidak menemukan denyut si bayi, aku khawatir, dokter menggumam, "harusnya janin seusia ini ini sudah mudah terdengar". Akhirnya terdengar juga... sekali lagi dokter menyampaikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan bayi yang terinfeksi virus rubella. Aku keluar ruangan dengan lemas.
Aku menuju ruang USG, dan ternyataa.... Praktik USG sudah tutup dari jam 9, iya jam 9 pagi dan sekarang jam 11.30, Waaattt? untuk ngedapetin surat rujukan USG dari dokter aja antrinya sampe jam 11, kok jam 9 udah tutup. Dan aku pun baru tau kalau pasien yang antri USG adalah pasien yang mendapat surat rujukan dokter dari kemarin2, yang dapet hari ini ya berarti di USG besok2, dengan catatan, datang dari pagi-pagi karena jam 9 udah tutup dan laporan hasil USGnya baru dibaca dokter di konsultasi berikutnya. Udah lemes, pingsan lagi....
dan dengan sok bijaknya aku merenung tentang perkembangan dunia kesehatan Indonesia.
Perjalanan selanjutnya ke laboratorium, urut dada lagi, karena lab hanya buka dari jam 8 - 13 dan karena ini hari Jumat maka lab tutup jam 11.00, Masya Alloh, rumah sakit sebesar ini lab-nya ga buka 24jam... sayang ga keingetan memfoto papan jadwalnya. (karena si ayah pun sempat ga percaya). karena lab sudah tutup, aku sulit menemui pegawainya, sekedar untuk bertanya, pas ketemu pun pegawai seperti terkesan agak males melayani, ya karena diluar jam buka sih. dan kaget (lagi) ternyata di lab ini ga ada fasilitas tes torch, aku disarankan tes di lab luar rumah sakit, kok dr. Yucca tadi ga nyampein kalau di RSF ini ga ada tes torch ya?... kaget (lagi) kalapun ada belum tentu dicover askes... ya Alloh....
Dengan langkah tak bersemangat aku menelepon si Ayah dan menyampaikan semua, keluar deh air mata... tentang pelayanan di rumah sakit ini, tentang ga tersedianya test torch dan yang terberat adalah uraian dr. Yucca tadi tentang kemungkinan kondisi janin kami...
-bersambung-
Senin, 22 April 2013
Kaos Si Panda
Pekan ini adalah awal aku ambil cuti melahirkan, sengaja aku ambil
jauh hari, ya untuk fokus ke si sulung cantikku, Key alias Sachi alias
Sachiko. Usianya 20bulan sekarang. Sehari2 aku hanya bertemu sepulang
kerja & sabtu minggu atau libur. Menurut cerita si mba, kalau ada
aku, sikap Keiy jauuuh beda. Jadi lebih manja, nempel teruus dan susah
beraktivitas seperti hari-hari biasanya. Sulit makan, sulit tidur dan
sulit main sendiri. Selama ini sih, aku anggap biasa, lah wong aku juga
ga pernah liat perbandingannya di hari biasa, lagipula aku kangen juga,
jadi ya ga masalah nempel sama akyuuu…. Hehehe.
Tapi permasalahan dimulai saat2 cuti ini. Di hari kedua, si mba izin pulang kampung selama 3-4hari, jadi ya kami berdua saja dirumah. Banyak perkembangan Keiy yang aku ngga tau, ternyata daya nalarnya udah sejauh itu, subhanalloh… , mungkin ini hal biasa ya buat anak seusia Keiy atau mungkin terlambat, tapi aku ga peduli, ya kalo dibilang norak banget, karena emang iya, khihihiii…
Dilanjut dengan terus2an meminta barang ini, barang itu, minta liat aku kalo nyuci piring (gendong) lompat sana sini, pipis, cuci tangan dan sebagainya yang memaksa aku harus berdiri-jongkok-duduk dan seperti itu berulang-ulang, teler juga inih… fuuiihhh…
Perang selanjutnya, Keiy ga mau makan, cuma mau ngemil, padahal menurut si mba, maemnya sekarang udah banyak, bisa semangkuk penuh, tapi ini kok sesendok aja udah dilepeh, hiks… emosi lah aku… ditunggu sampe laper dan minta, tapi kok ga minta2, yang ada minta cemilaaaan terus, oowhh. *tepok jidat. Dihari ketiga aku baru nemu triknya, diajak ke tetangga sebelah, Om Berry & Tante Ayu yang punya bayi dan numpang makan disana, maulah Keiy ngunyah dan habis… walau harus tiga kali sehari main kerumah si dedek bayi ini…
Episode selanjutnya, ga mau tidur, sudah jam tidur siang (biasa tidur siang 2x) minta naik ke kasur, setel lagu anak2, dikelonin dan mpok mpok, nyusu, dan berbagai cara lainnya, tapi ga tidur2, Cuma guling sana guling sini, ngelompatin emaknya ini bolak balik, ngoceh apa aja, nyanyi, akhirnya emaknya yang ketiduran… huwaaa…. Padahal menurut cerita si mba juga, Keiy kalo ngantuk, bilang bobo, minta susu, trus kekasur sendiri dan bobo sendiri pula, sesekali di mpok-mpok kalo gelisah. Uhh… ini kenapa lagi yaaa….
Pas ngalamin yang rempong banget, semua capek dan keselku terakumulasi, sholat ga boleh, pipis & mandi apalagi, sambil nangis meraung-raung, udah numpahin sesuatu apa dengan sengaja, rumah berantakan, bolak balik buka kulkas dan minta segala isinya, perutku sakit dan akhirnya kejadian terakhir Keiy numpahin air madu yang dibawa-bawa, aku minta jangan jalan biar ga kepeleset tapi tetep aja ni bocah mau jalan, aku cuma bisa nangis sesenggukan, sambil berucap berulang-ulang dalam hati "jangan sampe mbentak", Keiy bengong ngeliat aku nangis sambil meluk, nyentuh pipiku…dan… minta gendong…. Gubraks.
Jadi ya biasanya di sore hari aku udah tepar banget, makan ga teratur, perut kenceng, ini anak kecil, tapi sudah buat heboh, Ayah, bun pingin ke salon rasanya… #eh
Disini sangat kepikiran, gimana kalo udah lebih besar lagi ya, tambah banyak lagi keinginannya, beragam lagi tingkahnya, tambah bikin kesel lagi. Ini belum apa2, tapi apa2 itu kan berawal dari bukan apa2 ya? Memang sih mungkin ga akan sedramatis ini kalau aku ga lagi hamil besar, Tapi kemana itu teori parenting, nasehat para ibu2 senior, cerita2 orang, kok ga membekas ya, memang mesti balik lagi ke personnya, jadi ibu ga bisa teorinya dipukul rata, karena anak adalah pribadi yang unik, kita yang harus tau celahnya… *ngomong apa sih ni gue*
Satu cerita yang pingin aku share…
Waktu ke mall, suami memilihkan aku kaos rumahan, warnanya salem bergambar panda, sampai dirumah, dicobakan ke Keiy, ketawa2 kami melihatnya pake baju kebesaran sampai menyeret lantai, Keiy pun tertawa sambil jalan2 dan ngaca. Setelah puas, dicopot, trus baju dicuci.
Di salah satu hari milik kami berdua itu, kebetulan hari perdana aku memakai kaos panda. Pagi sebangun dari tidur, Keiy sudah sibuk minta pake kaos si panda, aku bilang santai, “kalau bun buka, trus bun pake apa dong nak?” Key tetap merajuk minta kaos itu dipakainya lagi. Aku sih ga keberatan sama sekali, kaos ku ganti dan pakaikan.
Seperti waktu pertama, ia tertawa2 sambil bilang ucu..ucu… ada… (lucu.. lucu..panda), jalan kesana kemari karena senang kaosnya menyeret ke lantai. kaos itu dipakainya sambil ngemil, nonton lagu anak2, sarapan dan baru mau dilepas setelah mandi.
Sampai siang, drama-drama kecil tetap ada, tapi masih dalam kendali. Saat itu aku mau merendam cucian dikamar mandi, Keiy minta ikut, diambilnya dingklik kecil seperti yang aku gunakan, saat mengambilnya ia menumpahkan ketel air, sabar…sabar… bukan masalah airnya, tapi kain lap ga ada yg kering, air melebar ke mana2, aku takut Keiy kepleset aja. Dingklik plastik kecil berhasil diambil dan dibawanya ke kamar mandi,, ia duduk sebelahku, dingklik bulat itu ada pecahan di tengahnya, bokong Keiy pernah kejepit, kali ini ingin kukasih alas duduk diatasnya, ia ga mau, uhh… ini kalo kejepit kan lumayan, dibujuk sedemikian rupa juga ga mau, ya sudahlah, aku pasrah. Semoga ga kejepit.
Selagi aku merendam cucian, ia duduk anteng sambil berucap macam2, mungkin menyanyi, pas ku tengok, ia pipis di dingklik itu, karena bentuknya yg bolong ditengah mungkin dipikirnya ini mirip kloset…. Masya Alloh,… aku beritau kalo tidak boleh pipis disini,, anak pinter tidak pipis sembarangan, pipis harus bilang, nanti bun angkat ke kloset, oke… ia bertingkah cuek.. aku coba terapkan hukuman. Setelah kubersihkan dan pakai celana baru, kuulang lagi untuk tidak pipis sembarangan lagi, kubilang, Keiy diluar dulu ya, bun hukum karena pipis sembarangan, lalu aku masuk ke kamar mandi dan tutup pintunya, ia yang berada di luar kamar mandi sendirian.
Ia menangis, memelas, "buun..buuuunnn…bukaa.." teriakannya makin kenceng, histeris.. lalu lama2 hilang, aku bingung, kubuka pintu, ternyata ia datang dari kamar sebelah dan muncul di depan pintu kamar mandi, nangis memelas sambil bawa kaos panda minta kupeluk sambil menyerahkan kaos panda itu kepadaku …
Mungkin dia pikir aku bisa luluh kalau kaos panda yang dipakainya itu dia kembalikan padaku, Keiy mencoba menghilangkan marahku dengan memberi kaos panda itu, mungkin kalau bisa lancar bicara dia akan bilang “ bun jangan marah ya, bun jangan tinggalin Keiy sendirian, ini Keiy kembalikan kaos bun, Keiy tidak pakai lagi kok..”
Aku peluk erat dan minta ia mengucap maaf, tidak mengulangi lagi pipis sembarangan. Akupun minta maaf sambil menangis, ga mengira ia sampai berpikir kesana….
Maafkan salah bundamu ini juga Nak…
*bunbun yang selalu ingin jadi bunda seutuhnya untukmu (baca : ftm)
(Posted 23 Januari 2013)
Tapi permasalahan dimulai saat2 cuti ini. Di hari kedua, si mba izin pulang kampung selama 3-4hari, jadi ya kami berdua saja dirumah. Banyak perkembangan Keiy yang aku ngga tau, ternyata daya nalarnya udah sejauh itu, subhanalloh… , mungkin ini hal biasa ya buat anak seusia Keiy atau mungkin terlambat, tapi aku ga peduli, ya kalo dibilang norak banget, karena emang iya, khihihiii…
- Keiy mulai bisa merangkai kata, 2 atau tiga kata, atau bahkan satu kalimat tapi ya tetep lucu dengernya, karena patah-patah atau bahasanya masih ikut orang dewasa, plek, padahal ga ngerti artinya, misalnya pake deh, sih, aja.
- Nadanya kalo lagi merajuk beda dengan biasanya ( udah pinter ngerayu ni)
- Suka tiba-tiba manggil aku dengan gaya maniiiss banget, bun, bubuuun, bubububunnn, sambil senyum trus pegang pipiku & cium seluruh mukaku, so swiiit yah…. Kadang ini dipake kalo lagi ada maunya. Begitu pula ke ayahnya.
- Sudah bisa disuruh minta maaf kalau salah, dengan catatan kita mintanya ga sambil marah2, bisa nangis duluan dianya.
- Udah mulai banyak keinginan yang aku ga bisa penuhin semua, nego ga berhasil, trus berakhir dengan tangisan deh
- Ingatannya kuat banget (ya iyalah anak2…)
- Udah bisa ngitung & nyanyi walau kata terakhir aja ;p
Dilanjut dengan terus2an meminta barang ini, barang itu, minta liat aku kalo nyuci piring (gendong) lompat sana sini, pipis, cuci tangan dan sebagainya yang memaksa aku harus berdiri-jongkok-duduk dan seperti itu berulang-ulang, teler juga inih… fuuiihhh…
Perang selanjutnya, Keiy ga mau makan, cuma mau ngemil, padahal menurut si mba, maemnya sekarang udah banyak, bisa semangkuk penuh, tapi ini kok sesendok aja udah dilepeh, hiks… emosi lah aku… ditunggu sampe laper dan minta, tapi kok ga minta2, yang ada minta cemilaaaan terus, oowhh. *tepok jidat. Dihari ketiga aku baru nemu triknya, diajak ke tetangga sebelah, Om Berry & Tante Ayu yang punya bayi dan numpang makan disana, maulah Keiy ngunyah dan habis… walau harus tiga kali sehari main kerumah si dedek bayi ini…
Episode selanjutnya, ga mau tidur, sudah jam tidur siang (biasa tidur siang 2x) minta naik ke kasur, setel lagu anak2, dikelonin dan mpok mpok, nyusu, dan berbagai cara lainnya, tapi ga tidur2, Cuma guling sana guling sini, ngelompatin emaknya ini bolak balik, ngoceh apa aja, nyanyi, akhirnya emaknya yang ketiduran… huwaaa…. Padahal menurut cerita si mba juga, Keiy kalo ngantuk, bilang bobo, minta susu, trus kekasur sendiri dan bobo sendiri pula, sesekali di mpok-mpok kalo gelisah. Uhh… ini kenapa lagi yaaa….
Pas ngalamin yang rempong banget, semua capek dan keselku terakumulasi, sholat ga boleh, pipis & mandi apalagi, sambil nangis meraung-raung, udah numpahin sesuatu apa dengan sengaja, rumah berantakan, bolak balik buka kulkas dan minta segala isinya, perutku sakit dan akhirnya kejadian terakhir Keiy numpahin air madu yang dibawa-bawa, aku minta jangan jalan biar ga kepeleset tapi tetep aja ni bocah mau jalan, aku cuma bisa nangis sesenggukan, sambil berucap berulang-ulang dalam hati "jangan sampe mbentak", Keiy bengong ngeliat aku nangis sambil meluk, nyentuh pipiku…dan… minta gendong…. Gubraks.
Jadi ya biasanya di sore hari aku udah tepar banget, makan ga teratur, perut kenceng, ini anak kecil, tapi sudah buat heboh, Ayah, bun pingin ke salon rasanya… #eh
Disini sangat kepikiran, gimana kalo udah lebih besar lagi ya, tambah banyak lagi keinginannya, beragam lagi tingkahnya, tambah bikin kesel lagi. Ini belum apa2, tapi apa2 itu kan berawal dari bukan apa2 ya? Memang sih mungkin ga akan sedramatis ini kalau aku ga lagi hamil besar, Tapi kemana itu teori parenting, nasehat para ibu2 senior, cerita2 orang, kok ga membekas ya, memang mesti balik lagi ke personnya, jadi ibu ga bisa teorinya dipukul rata, karena anak adalah pribadi yang unik, kita yang harus tau celahnya… *ngomong apa sih ni gue*
Satu cerita yang pingin aku share…
Waktu ke mall, suami memilihkan aku kaos rumahan, warnanya salem bergambar panda, sampai dirumah, dicobakan ke Keiy, ketawa2 kami melihatnya pake baju kebesaran sampai menyeret lantai, Keiy pun tertawa sambil jalan2 dan ngaca. Setelah puas, dicopot, trus baju dicuci.
Di salah satu hari milik kami berdua itu, kebetulan hari perdana aku memakai kaos panda. Pagi sebangun dari tidur, Keiy sudah sibuk minta pake kaos si panda, aku bilang santai, “kalau bun buka, trus bun pake apa dong nak?” Key tetap merajuk minta kaos itu dipakainya lagi. Aku sih ga keberatan sama sekali, kaos ku ganti dan pakaikan.
Seperti waktu pertama, ia tertawa2 sambil bilang ucu..ucu… ada… (lucu.. lucu..panda), jalan kesana kemari karena senang kaosnya menyeret ke lantai. kaos itu dipakainya sambil ngemil, nonton lagu anak2, sarapan dan baru mau dilepas setelah mandi.
Sampai siang, drama-drama kecil tetap ada, tapi masih dalam kendali. Saat itu aku mau merendam cucian dikamar mandi, Keiy minta ikut, diambilnya dingklik kecil seperti yang aku gunakan, saat mengambilnya ia menumpahkan ketel air, sabar…sabar… bukan masalah airnya, tapi kain lap ga ada yg kering, air melebar ke mana2, aku takut Keiy kepleset aja. Dingklik plastik kecil berhasil diambil dan dibawanya ke kamar mandi,, ia duduk sebelahku, dingklik bulat itu ada pecahan di tengahnya, bokong Keiy pernah kejepit, kali ini ingin kukasih alas duduk diatasnya, ia ga mau, uhh… ini kalo kejepit kan lumayan, dibujuk sedemikian rupa juga ga mau, ya sudahlah, aku pasrah. Semoga ga kejepit.
Selagi aku merendam cucian, ia duduk anteng sambil berucap macam2, mungkin menyanyi, pas ku tengok, ia pipis di dingklik itu, karena bentuknya yg bolong ditengah mungkin dipikirnya ini mirip kloset…. Masya Alloh,… aku beritau kalo tidak boleh pipis disini,, anak pinter tidak pipis sembarangan, pipis harus bilang, nanti bun angkat ke kloset, oke… ia bertingkah cuek.. aku coba terapkan hukuman. Setelah kubersihkan dan pakai celana baru, kuulang lagi untuk tidak pipis sembarangan lagi, kubilang, Keiy diluar dulu ya, bun hukum karena pipis sembarangan, lalu aku masuk ke kamar mandi dan tutup pintunya, ia yang berada di luar kamar mandi sendirian.
Ia menangis, memelas, "buun..buuuunnn…bukaa.." teriakannya makin kenceng, histeris.. lalu lama2 hilang, aku bingung, kubuka pintu, ternyata ia datang dari kamar sebelah dan muncul di depan pintu kamar mandi, nangis memelas sambil bawa kaos panda minta kupeluk sambil menyerahkan kaos panda itu kepadaku …
Mungkin dia pikir aku bisa luluh kalau kaos panda yang dipakainya itu dia kembalikan padaku, Keiy mencoba menghilangkan marahku dengan memberi kaos panda itu, mungkin kalau bisa lancar bicara dia akan bilang “ bun jangan marah ya, bun jangan tinggalin Keiy sendirian, ini Keiy kembalikan kaos bun, Keiy tidak pakai lagi kok..”
Aku peluk erat dan minta ia mengucap maaf, tidak mengulangi lagi pipis sembarangan. Akupun minta maaf sambil menangis, ga mengira ia sampai berpikir kesana….
Maafkan salah bundamu ini juga Nak…
*bunbun yang selalu ingin jadi bunda seutuhnya untukmu (baca : ftm)
(Posted 23 Januari 2013)
Rabu, 07 Maret 2012
I'm not a good mom, but I will...
Sungguh menyenangkan mendapat amanah baru. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Kasih sayang, treatment, asi eksklusif, dan semuanya, aku usahakan seseksama mungkin. Selagi masih masa cuti ini, segalanya aku persiapkan sesempurna mungkin.Tapii...ga semuanya berjalan lancar. Bahagia, bingung, capek, takut, sakit, panas, lapar melanda sepanjang waktu membuat aku super sensitif.
Menurut teori yang aku baca penyakit sensitif, tidak hanya menimpa wanita saat pe-em-es, haid atau hamil, juga pasca melahirkan. Inilah yang terjadi, ditambah (ternyata) aku menemukan sindrom yang aku baru tau, baby blues. Mungkinkah? mungkinkah kita kan slalu bersama... :p
Mungkinkah, syndrom ini yang terjadi padaku.. ini dia curhat eiikkee..
***
Di awal ini, ternyata tidak hanya ujian fisik yang harus aku lewati, namun juga ujian psikis. Aku merasakan begitu beratnya karena seakan-akan menanggung beban sendirian. Anakku bebanku? ya saat itu, pada titik terberat aku sempat berpikir ingin kembali ke masa lalu sebelum punya anak. Astaghfirullah...
Karena kami tetap tinggal dirumah, akhirnya suami meminta Ibu tinggal bersama kami untuk membantuku, namun yang terjadi adalah muncul perasaan-perasaan aku tidak boleh merepotkan Ibu yang sudah tua (tapi kuat luar biasa), aku berusaha mengurus anak, mengurus diriku, suami dan membereskan pekerjaan rumah semaksimal mungkin agar tidak dikerjakan Ibu. Memang sih, kenyataannya tetap saja Ibu yang mengerjakan, namun perasaan "ga enak " inilah akhirnya membebani aku dan akhirnya berkembang menjadi perasaan bahwa aku tidak berguna dan ga bisa diandalkan. Lebay ya? tapi beneran ini bisa bikin mewek peres kain pel.
Hal berat selanjutnya adalah terlalu banyak celetukan, kutipan, komentar, saran atau apalah namanya .. seakan-akan semua orang ingin mengatur caraku mengurus anak sampai menyalahkan apa yang aku lakukan. Mulai dari bayiku bangun tidur sampe tidur lagi hampir semua dikritik. Aku capek.Sedangkan para kritikus tidak membantu aku. Hmm... bila tidak bisa memberi solusi dan bantuan, paling tidak jangan menyakiti aku ya... :(
Cara menyusui, mengelap mulut bayi, memandikan, memakaikan baju, cara menggendong, meluruskan kepalanya saat tidur, gumoh, bayi kedinginan, hal kecil ==> mengambil peralatan bayi yang susahnya ampun, karena masih sakit sisa jahitan melahirkan, mencuci baju, menyetrika, memakai kemben, dan lainnya. Sepertinya semua salah.
Aku menangis, yang aku lakukan adalah kuangkat anakku, kupeluk dan kuciumnya sambil berkata,
"Nak, ibumu ini memang belum jadi ibu yang terbaik, tapi ibu akan berusaha jadi yang baik untukmu. Ibu tidak akan mencelakaimu seperti yang orang lain bilang, maafkan ibu ya.. sayangi ibu Nak... Ibu yakin engkau tau, ibu menyayangimu tulus..."
Akhirnya ada satu malam kuminta suami memeluk aku dan meminta pengertiannya untuk lebih sayang padaku. Sedikit lebih baik.
Menurut teori yang aku baca penyakit sensitif, tidak hanya menimpa wanita saat pe-em-es, haid atau hamil, juga pasca melahirkan. Inilah yang terjadi, ditambah (ternyata) aku menemukan sindrom yang aku baru tau, baby blues. Mungkinkah? mungkinkah kita kan slalu bersama... :p
Mungkinkah, syndrom ini yang terjadi padaku.. ini dia curhat eiikkee..
***
Di awal ini, ternyata tidak hanya ujian fisik yang harus aku lewati, namun juga ujian psikis. Aku merasakan begitu beratnya karena seakan-akan menanggung beban sendirian. Anakku bebanku? ya saat itu, pada titik terberat aku sempat berpikir ingin kembali ke masa lalu sebelum punya anak. Astaghfirullah...
Karena kami tetap tinggal dirumah, akhirnya suami meminta Ibu tinggal bersama kami untuk membantuku, namun yang terjadi adalah muncul perasaan-perasaan aku tidak boleh merepotkan Ibu yang sudah tua (tapi kuat luar biasa), aku berusaha mengurus anak, mengurus diriku, suami dan membereskan pekerjaan rumah semaksimal mungkin agar tidak dikerjakan Ibu. Memang sih, kenyataannya tetap saja Ibu yang mengerjakan, namun perasaan "ga enak " inilah akhirnya membebani aku dan akhirnya berkembang menjadi perasaan bahwa aku tidak berguna dan ga bisa diandalkan. Lebay ya? tapi beneran ini bisa bikin mewek peres kain pel.
Hal berat selanjutnya adalah terlalu banyak celetukan, kutipan, komentar, saran atau apalah namanya .. seakan-akan semua orang ingin mengatur caraku mengurus anak sampai menyalahkan apa yang aku lakukan. Mulai dari bayiku bangun tidur sampe tidur lagi hampir semua dikritik. Aku capek.Sedangkan para kritikus tidak membantu aku. Hmm... bila tidak bisa memberi solusi dan bantuan, paling tidak jangan menyakiti aku ya... :(
Cara menyusui, mengelap mulut bayi, memandikan, memakaikan baju, cara menggendong, meluruskan kepalanya saat tidur, gumoh, bayi kedinginan, hal kecil ==> mengambil peralatan bayi yang susahnya ampun, karena masih sakit sisa jahitan melahirkan, mencuci baju, menyetrika, memakai kemben, dan lainnya. Sepertinya semua salah.
Aku menangis, yang aku lakukan adalah kuangkat anakku, kupeluk dan kuciumnya sambil berkata,
"Nak, ibumu ini memang belum jadi ibu yang terbaik, tapi ibu akan berusaha jadi yang baik untukmu. Ibu tidak akan mencelakaimu seperti yang orang lain bilang, maafkan ibu ya.. sayangi ibu Nak... Ibu yakin engkau tau, ibu menyayangimu tulus..."
Akhirnya ada satu malam kuminta suami memeluk aku dan meminta pengertiannya untuk lebih sayang padaku. Sedikit lebih baik.
Selasa, 10 Januari 2012
Sholat Tepat Waktu
Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)
Mendirikan shalat sudah menjadi rutinitas muslim, karena memang itu salah satu hal yang wajib dari perintah wajib lainnya yang harus ditunaikan. Begitu pentingnya shalat ini sehingga tidak ada ruang untuk kita melalaikannya(terutama bagi laki-laki yang sudah baligh); tidak mampu berdiri, kita bisa dengan duduk, tidak bisa duduk dengan berbaring, dan sebagainya sampai kita bisa melakukannya. Atau ketika tidak ada air kita bisa bertayamum, ketika dalam perjalanan kita bisa mengatur waktu shalat kita dengan menjamak atau mengqashar shalat kita. Inilah yang membedakan shalat dengan ibadah lain. Oleh karena itu, hendaklah kita sebagai seorang muslim terus meningkatkan kualitas ibadah shalat yang kita lakukan setiap harinya dengan baik dan benar. Benar dalam arti sesuai dengan Sunnah, Baik dalam arti mengerjakannya Semata-mata hanya karena Allah dan melaksanakan shalat dengan tidak menunda2 waktunya.
Ketika Adzan berkumandang, sudahkah kita menyegerakan shalat? Sudahkah kita memenuhi langsung seruan Allah itu? Saat waktu shalat tiba, tidak ada yang lebih penting untuk dilakukan selain mendirikan shalat dan bergegaslah mencari air untuk berwudhu lalu segera shalat.
Senang rasanya bila senantiasa bisa shalat tepat pada waktunya, apalagi shalatnya berjamaah di Masjid. Selain akan mendapatkan nilai pahala dua puluh tujuh kali lebih utama dibanding shalat sendirian di rumah, seiring dengan itu ingin membangun prestasi dalam shalat. Setiap mukmin seharusnya ada keinginan untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah.
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.(QS 67:1-2)
Bukankah amal shalat yang pertama akan dihisab nanti di akhirat, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya, “Yang pertama dihisab dari amalan hamba pada hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, ia beruntung dan selamat. Akan tetapi jika shalatnya kurang, ia merugi.” Ini kutipan ayat, kita dianjurkan untuk memakmurkan masjid “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman pada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat” Surah At-Taubah ayat 18.
Utsman bin ‘Affan RA berkata; “Barang siapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemuliaan, yaitu :
Allahu Akbar.. Ya Allah aku hadapkan wajahku di hadapan-MU ya Allah semata-mata untuk mengharapkan RidhaMU Segala Puji Hanya bagiMU Ya Rabb… Yang lain kecil Ya Allah Engkaulah Yang Maha Besar
Sudah shalat 5 waktukah anda hari ini? Sudah baik dan benar kah shalat anda? Berjama’ah kah? Dan sudah tepat waktu kah?
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/12869/mari-biasakan-stw-shalat-tepat-waktu/#ixzz1jBGI9INw
*ngingetin diri sendiri
Mendirikan shalat sudah menjadi rutinitas muslim, karena memang itu salah satu hal yang wajib dari perintah wajib lainnya yang harus ditunaikan. Begitu pentingnya shalat ini sehingga tidak ada ruang untuk kita melalaikannya(terutama bagi laki-laki yang sudah baligh); tidak mampu berdiri, kita bisa dengan duduk, tidak bisa duduk dengan berbaring, dan sebagainya sampai kita bisa melakukannya. Atau ketika tidak ada air kita bisa bertayamum, ketika dalam perjalanan kita bisa mengatur waktu shalat kita dengan menjamak atau mengqashar shalat kita. Inilah yang membedakan shalat dengan ibadah lain. Oleh karena itu, hendaklah kita sebagai seorang muslim terus meningkatkan kualitas ibadah shalat yang kita lakukan setiap harinya dengan baik dan benar. Benar dalam arti sesuai dengan Sunnah, Baik dalam arti mengerjakannya Semata-mata hanya karena Allah dan melaksanakan shalat dengan tidak menunda2 waktunya.
Ketika Adzan berkumandang, sudahkah kita menyegerakan shalat? Sudahkah kita memenuhi langsung seruan Allah itu? Saat waktu shalat tiba, tidak ada yang lebih penting untuk dilakukan selain mendirikan shalat dan bergegaslah mencari air untuk berwudhu lalu segera shalat.
Senang rasanya bila senantiasa bisa shalat tepat pada waktunya, apalagi shalatnya berjamaah di Masjid. Selain akan mendapatkan nilai pahala dua puluh tujuh kali lebih utama dibanding shalat sendirian di rumah, seiring dengan itu ingin membangun prestasi dalam shalat. Setiap mukmin seharusnya ada keinginan untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah.
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.(QS 67:1-2)
Bukankah amal shalat yang pertama akan dihisab nanti di akhirat, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya, “Yang pertama dihisab dari amalan hamba pada hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, ia beruntung dan selamat. Akan tetapi jika shalatnya kurang, ia merugi.” Ini kutipan ayat, kita dianjurkan untuk memakmurkan masjid “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman pada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat” Surah At-Taubah ayat 18.
Utsman bin ‘Affan RA berkata; “Barang siapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemuliaan, yaitu :
- Dicintai Allah
- Badannya selalu sehat;
- Keberadaannya selalu dijaga malaikat;
- Rumahnya diberkahi;
- Wajahnya menampakkan jati diri orang shalih;
- Hatinya dilunakkan oleh Allah;
- Dia akan menyeberang Shirath (jembatan di atas neraka) seperti kilat;
- dia akan diselamatkan Allah dari api neraka; dan Allah Akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati”
Allahu Akbar.. Ya Allah aku hadapkan wajahku di hadapan-MU ya Allah semata-mata untuk mengharapkan RidhaMU Segala Puji Hanya bagiMU Ya Rabb… Yang lain kecil Ya Allah Engkaulah Yang Maha Besar
Sudah shalat 5 waktukah anda hari ini? Sudah baik dan benar kah shalat anda? Berjama’ah kah? Dan sudah tepat waktu kah?
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/12869/mari-biasakan-stw-shalat-tepat-waktu/#ixzz1jBGI9INw
*ngingetin diri sendiri
curhatan
Sejak dulu aku anti banget sama laki-laki yang suka menebar pesona, gombal sana sini. Padahal kebanyakan bukan aku yang digombalin.. hahahaha biarin...
Aku bisa berubah jadi jutek banget (tapi kok sering banget berubahnya daripada enggaknya). Tu cowok (kalo temenan) bisa ku perlakukan dengan tidak baik. percayalah...
Alasannya, cowok type ini biasanya pingin "menjaring" banyak cewek, ga tau ya, mau dijadiin istrinya (padahal ada yang udah punya istri loo) atauuu.. pingin dibilang ramah dan lembut oleh kaum perempuan ini.. uhhh so sweeet..
Ya terserah sih, emang selera - seleraan ya.. yang jelas aku antipati banget,...
Aku ga suka cowok menebar pesona, berkata lembut dan perhatian ke banyak perempuan, tapi kalo ke istrinya sendiri gapapa kali ya....
Imam Muslim meriwayatkan dari Hadits Aisyah tentang puasa , Aisyah berkata: Rasulullah saw. Mencium salah satu isterinya ketika beliau sedang berpuasa , kemudian dia (isterinya) tertawa". (HR. Muslim, shahih, sumber: Musnad shahih hal: 1106).
Dalam hadits yang lain yang di riwayatkan oleh Aisyah, beliau berkata: Rasulullah saw. Bersabda: " Sesungguhnya diantara kesempurnaan iman orang-orang Mukmin ialah mereka yang paling bagus akhlaknya dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya". (HR. Tirmidzi, shahih namun tidak diketahui apakah Abi kilabah mendengarnya dari Aisyah, sumber: Sunan Tirmidzi hal: 2612).
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).*
ngawur
Cewek pasti kagum sama cowok yang suka membantu a.k.a ringan tangan a.k.a helpful. Apalagi yg mbantuin dia dan tanpa diminta...
uuhh... bisa luluh terkagum kagum sampe pingin dapet suami yang kayak gitu..., dan selanjutnya kenyataan yang terjadi :
Cewek : (kok gue ga dibantu-bantuin ya?) *manyun
Cowok : "Kenapa sih manyun aja? Kalo mau dibantuin bilang dong... aku kan ga ngerti kalo ga diomongin,
emang bisa ngerti bahasa isyarat?"
Cewek "Ohh... ok ok"
Cowok : " Nah, jangan ragu-ragu minta tolong, bilang aja ya... yang jelas..."
Cewek : *tersenyum lebar
***
Cowok : "Kamu kok minta tolong terus, manja banget!! mandiri dikit dong..kerjain sendiri"
Cewek : *diem, manyun lama, lamaaaaa banget
Cowok : (bingung)
Cowok : (masih bingung, karena lamaaaa banget)
Cowok : *daftar les bahasa isyarat
Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (HR Bukhari)
Seorang sahabat Nabi saw. yang bernama Abu Hurairah, pernah suatu ketika hendak melakukan I'tikaf di masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah. Namun di dalam masjid itu beliau melihat seseorang yang sedang duduk bersedih di pojok masjid. Sahabat Nabi itu segera mendatanginya dan menanyakan perihal kesedihannya. Setelah mengetahui masalahnya, Abu Hurairah r.a. berkata: "Ayo berdirilah bersamaku, aku akan memenuhi kebutuhanmu". Orang itu berkata: "Apakah engkau akan meninggalkan I'tikafmu di masjid Rasul ini hanya demi aku?". Sahabat Nabi saw. itu menangis dan berkata: "Aku mendengar penghuni kubur ini (Rasulullah saw.) bersabda: 'Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu sekalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada ber'tikaf di masjidku ini selama sepuluh tahun". (HR. Muslim).
uuhh... bisa luluh terkagum kagum sampe pingin dapet suami yang kayak gitu..., dan selanjutnya kenyataan yang terjadi :
Cewek : (kok gue ga dibantu-bantuin ya?) *manyun
Cowok : "Kenapa sih manyun aja? Kalo mau dibantuin bilang dong... aku kan ga ngerti kalo ga diomongin,
emang bisa ngerti bahasa isyarat?"
Cewek "Ohh... ok ok"
Cowok : " Nah, jangan ragu-ragu minta tolong, bilang aja ya... yang jelas..."
Cewek : *tersenyum lebar
***
Cowok : "Kamu kok minta tolong terus, manja banget!! mandiri dikit dong..kerjain sendiri"
Cewek : *diem, manyun lama, lamaaaaa banget
Cowok : (bingung)
Cowok : (masih bingung, karena lamaaaa banget)
Cowok : *daftar les bahasa isyarat
Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (HR Bukhari)
Seorang sahabat Nabi saw. yang bernama Abu Hurairah, pernah suatu ketika hendak melakukan I'tikaf di masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah. Namun di dalam masjid itu beliau melihat seseorang yang sedang duduk bersedih di pojok masjid. Sahabat Nabi itu segera mendatanginya dan menanyakan perihal kesedihannya. Setelah mengetahui masalahnya, Abu Hurairah r.a. berkata: "Ayo berdirilah bersamaku, aku akan memenuhi kebutuhanmu". Orang itu berkata: "Apakah engkau akan meninggalkan I'tikafmu di masjid Rasul ini hanya demi aku?". Sahabat Nabi saw. itu menangis dan berkata: "Aku mendengar penghuni kubur ini (Rasulullah saw.) bersabda: 'Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu sekalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada ber'tikaf di masjidku ini selama sepuluh tahun". (HR. Muslim).
Kamis, 22 Desember 2011
dan amanah itu pun dimulai...
Bayi kami sudah lahir, aku terus memandanginya. Makhluk kecil ini yang ada dalam rahimku dulu, makhluk kecil ini yang harus kami jaga dan kami didik, makhluk kecil ini yang akan menjadi tanggungjawab kami…
Mengenai nama, sesungguhnya kami belum terlalu sepakat dengan pilihan yang ada, namun ketika lahir, spontan pilihan kami mantap pada : Sachiatifa Kelana Adigie
Sachi = diambil dari bahasa Jepang, artinya anak yang bahagia & ceria (akuuh banget)
Athifa = diambil dari bahasa Arab artinya lemah lembut, harapan si Ayah biar ga kayak emaknya nie ^^
Kelana = diambil dari bahasa Indonesia,
Adi = dari nama si Ayah
Gie = diambil dari nama tokoh idola si Ayah yang suka naik gunung, sekaligus suka demo, siapa hayooo heheheee
Di rumah sakit pula Ayah menemukan nama Key, karena mau buat video dan launching nama, ya jadilah diambil dari -K- pada Kelana.
*sebenernya sih sejak awal aku tidak setuju pada nama yg universal, aku ingin ada unsur feminin bila bayi perempuan, sebaliknya, maskulin pada bayi laki-laki, itulah kenapa aku setuju pada Sachiatifa.. tapi kok akhirnya lebih terfokus pada Kelana-nya ya…
Hari Selasa aku melahirkan, Kamis sore sudah diperbolehkan pulang. Perjalanan menjadi ibu dimulai…
Sesuai perjanjian saat hamil, aku diminta tinggal dirumah keluarga di Tambun, tapi kok aku rasa sangat berat ya… wajah si Ayah ga rela kalo dipisahkan dengan bayinya. Aku sendiri bingung, antara menuruti keluarga (sesuai janji) atau menuruti rasa ketidakrelaan si ayah.
Akhirnya aku minta ditangguhkan supaya hari Minggu Key baru dibawa ke Tambun, dengan alasan hari Sabtu masih ada teman2 yang mau datang. Dan memang betul sabtu itu banyak tamu, tapi aku lebih memilih didalam kamar, menangis.. huhuhuuu.. ga sanggup pergi besok harinya…
Kakak2ku jemput hari Minggu, ga sanggup juga ngliat wajah suamiku. Sampe disana aku banyak bengong, sms-an sama si Ayah. Dan nangis..
Malam Senin-nya Key nangis terus, kemungkinan karena nippleku tiba2 jd ga muncul, hiks.. ditambah bermacam-macam perasaan aneh muncul, ngeliat pakaian kotor, ndenger tangisan Key, bangun jam 2 – jam 5 begadang sendirian, sebenernya ditemenin kakakku nomor 3, tapi dia ga sanggup melek, emang sih udah capek seharian… so, aku makin parah lah rintihan hati ini…
Besoknya, Senin, aku minta pulang, alasannya : hari Selasa mau control ke RS, tepat seminggu setelah Key lahir, tadinya aku nekat minta sore itu juga pulang dijemput sodara, tapi batal, mo naik taxy ga boleh trus nangis2 sesenggukan, tapi akhirnya diizininnya Selasa pagi, bareng kakak berangkat kerja. Sempat ada konflik juga disini, kakak-kakakku pingin Key aqiqah disini, tapi ternyata aku & suami sudah aqiqah di rumah kami. Ya sudahlah…
Alhamdulillah Selasa pagi aku sudah dirumah, berkumpul layaknya sebuah keluarga, keluarga kecil baru, dan kami pun akhirnya berpelukaaaaannn…(lebay tapi bermakna, beneran)
Kamis, 13 Oktober 2011
brownies kukus air mata
Kayaknya ini kejadian bikin kue yang paling ga enak. Kalo sekedar bantet, gagal atau ga enak sih biasa, (lhoo!??), maksudnya masih bisa di evaluasi dan diulangi dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tapi brokus buatanku kali ini bener-bener bikin kapok. Rasanya semua keadaan dan kondisi membuat brokusku gagal total. Berlebihan ya? Tp ni beneran lo :(
Awalnya nyontek dari resepnya Ena yang asal muasalnya dari sajian sedap katanya. Brownies kukus coklat keju, kupilih karena pembuatannya yang ga di oven seperti kue kebanyakan, tapi dikukus, jadi kucoba deh…
Tanya2 Ena, udahhh. dilanjut, ok…
Lanjut beli semua bahan-bahan yg ga punya, coklat blok, coklat pasta mentega, tepung, lengkap, sip. ok
Beli peralatan yang belum punya, mm.. belum sip, ga OK. Loyang yang ku beli cuma ngira2 ukurannya (inilah awal petaka terjadi). Perkiraan kan mau ngukus di ricecooker, jadi pilih loyang yang kecil.
Kekecewaan pertamaku, sampe dirumah ternyata loyangnya penyok, kedesak-desak bawaan yang lain dan kedorong2 di busway, bentuknya udah ga kotak lagi, jadi belah ketupat kayaknya. Bagian dasarnya jadi cembung pula, yah dibayangkan begitulah, ya Alloh, mana belinya pake uang makan lagi.. *ga nyambung*
Udah gitu dirumah dicoba di panci kukusannya ternyata masih kegedean… hiks…
Aku kurang bisa menerima kenyataan, tetep pingin terus nyoba, yang penting nanti rasanya enak, pikirku. Hari yang dinanti tiba, aku ambil pulang kantor lebih awal, salah satu alasannya ya pingin buat brokus ini. Karena kalo pulang kerja normal biasanya udah ga bisa diganggu gugat, ada klien penting, sedangkan sabtu-ahad mau ada rencana pergi.
Sejak sore, aku blum mulai ngebaking juga, masih blum konsen. Akhirnya jam 21 baru mulai (tetep aja malem2). Nah, karena ada klien penting yang lain lagi, aku mendelegasikan tugas ini pada art-ku yang emang doyan eksplor ngebaking. Ku kasih instruksi dari jarak 2meter sejelas-jelasnya. Ukuran bahan pun sangat diperhatikan, jangan sampe nanti hasilnya ga pas karena kita terlalu kreatif. Seperti pesan si Ayah, jangan nambahin atau ngurangin takaran bahan, ikutin aja yang di resep. Siaappp!!!
Senyum kami optimis, adonan yang oke, baunya harum, bentuknya memikat, teksturnya juga meyakinkan. Ternyata itu semua ga menjamin keberhasilan brokus kami. Kalo ngikutin resep Ena yang dipanasin dulu 10 menit, trus dikukus 15 menit-15 menit, ternyata panci ajaib kami ga bisa ikutin pakem. Panci-nya ga panas-panas sodara sodara.
Jam 23.00. belum ada perubahan.. kusambi ngelonin Key kalo bangun
Jam 23.30.. ART ku suruh tidur, kasian kalo besok jaga Key ngantuk, nanti ga konsen.
Aku masih tetap nunggu, sesekali nambahin air. Tapi kok ga ada tanda2 mateng ya
Jam 24.00.. kusambi nyuci pakaian
Jam 01.00… bentuk masih sama
Jam 02.00 atas saran si Ayah proses dihentikan.. kami menyerah
Jam 5.00 pagi, kue kucoba, mmm… enak juga, tapi lebih mirip makan adonan, hehehe… ga tega menampakkan fotonya.
*yang ini bagian air matanya*
Suara hatiku berkata Aku Terlalu Memaksakan Membuat Kue,
ga punya kukusan mau ngukus, ya beginilah jadinya, apa yang dibanggakan… hiks.
Aku ga pernah berhasil membuat kue.
Walaupun kubeli peralatan dan bahan di pasar naik bajay dan gotong2 barang dengan cinta
Walau berdesak-desakan dibusway dan berat bawanya di tangga, kulalui dengan cinta
Walau kuambil pulang cepat dari kantor dengan cinta
Walau kubuat dan kukus dengan cinta
Walau kutunggui begadang dengan penuh cinta
Dengan harapan akan menumbuhkan cinta, cinta dan cinta lagi, tapi ternyata gagal…
Ga ada esensinya aku ngebaking lagi.. ga ngaruh juga.males.
Ya sudah ya… babay bakiiing.. sampai ketemu lagi (semoga)
sekarang beberes peralatan dulu, masukkan loyang, cetakan, adukan telur, mixer ke dalam kotak penyimpanan
Aku emang ga bisa njait rapi, ngerawat tanaman, ngerawat binatang, menyulam, mbungkus kado, tadinya masih ngarep setidaknya masih berharap bisa masak, ternyata juga engga.. *nangis*
Kamis, 06 Oktober 2011
catatan kelahiran Key kami
Rabu, 13 April 2011
Kamis, 14 April 2011
Jumat, 15 April 2011
Sabtu, 16 April 2011
Setelah sholat subuh, sakitku makin menjadi, aku muntah. uffhh.. maagku kambuh. Mas memutuskan untuk ke RS, awalnya aku menolak karena ini hanya maag, tapi akhirnya aku iyakan. Setelah pamit dengan teman kantornya karena tidak jadi ikut ke Anyer, barulah kami ke RS.
Sekitar jam 8 aku ditangani medis dan masuk ruang observasi melahirkan. Diagnosa nya ternyata aku sudah mengalami bukaan 2 di kehamilan 35 minggu ini, tapi berat bayi masih kurleb 2,4kg. Belum dianggap cukup untuk lahir. Dr Yenny memutuskan aku untuk opname, bedrest, agar bukaan lahir tidak bertambah dan disuntikkan penguat paru-paru, yang kalaupun harus lahir, bayi memiliki paru-paru yang lebih kuat.
Setelah opname 4 hari di rumah sakit, aku dibolehkan pulang dan kembali cek seminggu lagi.
Selasa, 26 April 2011
Selasa, 3 Mei 2011
Jam 14.00
Jam 14.30
Perutku mulai mulas, aku sempatkan makan nasi goreng yang disediakan rumah sakit pas lagi jeda ga mulas. Mas kembali ke kantor dan berencana balik setelah jam pulang, jam 5. aku titip pesen untuk bawa kelengkapan di rumah, perlengkapan bayi, perlengkapan aku, kamera, handycam, quran, madu, sarkum, coklat, loh kok jadi banyak makanan ?!!!?...
Jam 15.00
Mulas terus berlanjut, tapi aku masih sempat sms temen kantorku Mba Dian, nanya soal cuti, sms temenku yang jualan T*pperware, dan beberapa temen, hiyaaa.... mulasku makin hebat, kubilang mas untuk datang sekarang aja..
Di sebelah ada ibu juga yang akan melahirkan juga, untuk anak ketiganya. Ku dengar ia sering berteriak bila mulas melanda, kupikir mungkin lebih baik juga buatku, akupun ikut berteriak, hwaaa... dan jadilah ruangan itu lebih rame, hehehe...
saat terasa ingin pip, aku diizinkan suster ke toilet dengan membawa infus, tapi tiba2 kakiku basah terkena tumpahan air, aku kaget.. ketuban pecah ternyata, suster tetap mengizinkan aku ke toilet. sekembalinya ke tempat tidur, air ketuban tidak berhenti mengalir, aku diminta untuk tidur miring dan tidak banyak bergerak.
Jam 15.30
mas gagah ku datang.. Alhamdulillah, ada yang bisa dijadikan sandaran... (baca: objek gigitan)
Jam 16.00
mulasku semakin tak berhenti, sepertinya sudah waktunya, tapi suster masih melarang aku mengejan.
Jam 16.20
dokter datang, prosesi melahirkan dimulai.. Alhamdulillah dimudahkan Alloh, Jam 16.35, bidadari kecil kami lahir, lega, terharu, bahagia, Mas tersenyum bangga padaku... Kami menjadi orangtua.
Subhanalloh Walhamdulillah... terimakasih Alloh..
hari ini adalah hari lahirku yang bertepatan dengan jadwal kontrol dengan dr Yenny, sehingga sepulang dari kantor, aku tidak pulang ke kost, melainkan lanjut ke rumah sakit di Cengkareng. Alhamdulillah begitu datang bisa langsung periksa, jadi tidak menunggu sampai malam. Keluar dari rumah sakit, ternyata sudah ada kejutan dari Mas, aku dibawanya ke tempat makan favoritnya dan disuguh menu-menu Kepiting, yihaa...nyam nyam nyam...
Kamis, 14 April 2011
Malam ini Mas ada urusan kantor yang kemungkinan jadi harus pulang malem, kasian kalo Mas harus ke kost dalam kondisi capek & malem banget ( padahal lagi manja aja, ga mau menunggu di kost sendirian sampe malem ). Setelah membujuk rayu, akhirnya Mas ngebolehin aku pulang ke Cengkareng lagi.
Jumat, 15 April 2011
Pagi ini terasa berat, aku hampir ngga sanggup naik tangga busway, pelan-pelan akhirnya terlambat sampe kantor :(..
Pulang jumat ini memang jadwal pulang Cengkareng, besok kan Sabtu.. Sebelum pulang, aku sempatkan dulu ketemu temen2 di TA. Menuju jalan pulang, sekitar jam 9 malam, perutku terasa sakit, sepertinya efek belum makan kenyang, tadi di TA aku makan sedikit batagor. Duuh.. padahal udah janji akan bawakan mas makan malem. Kalo lagi sakit perut gini aku ngga sanggup cari makanan, apalagi si adek sudah terasa beraatt..
Sampe di rumah, Mas belum pulang, masih ada yang dikerjakan, padahal besok pagi juga mau ke anyer. Pasti capek.
Perutku masih sakit, aku rebahan dan ketiduran, bangun jam 12 Malam, Mas belum juga pulang dan aku pun belum membeli makanan, ku ambil menu delivery 24jam dan coba memesan, tapi gagal.. uuhh janji palsu katanya bisa pesen kapan aja.
Sekitar jam 2 Mas pulang. Hingga subuh, sakit perutku belum sembuh juga.
Sabtu, 16 April 2011
Setelah sholat subuh, sakitku makin menjadi, aku muntah. uffhh.. maagku kambuh. Mas memutuskan untuk ke RS, awalnya aku menolak karena ini hanya maag, tapi akhirnya aku iyakan. Setelah pamit dengan teman kantornya karena tidak jadi ikut ke Anyer, barulah kami ke RS.
Sekitar jam 8 aku ditangani medis dan masuk ruang observasi melahirkan. Diagnosa nya ternyata aku sudah mengalami bukaan 2 di kehamilan 35 minggu ini, tapi berat bayi masih kurleb 2,4kg. Belum dianggap cukup untuk lahir. Dr Yenny memutuskan aku untuk opname, bedrest, agar bukaan lahir tidak bertambah dan disuntikkan penguat paru-paru, yang kalaupun harus lahir, bayi memiliki paru-paru yang lebih kuat.
Setelah opname 4 hari di rumah sakit, aku dibolehkan pulang dan kembali cek seminggu lagi.
Selasa, 26 April 2011
Kontrol kehamilan minggu ke 37 ini, Dokter menyatakan aku sudah mengalami bukaan 3 dan sudah boleh melahirkan. Padahal aku tidak mengalami sakit (kontraksi) sama sekali. Setelah di-CTG untuk mengecek detak jantung bayi, yang Alhamdulillah normal, aku diperbolehkan pulang dan kembali bila tanda-tanda melahirkan semakin terasa.
Deg2an nunggu dirumah.. nunggu waktunya tiba, aku banyak melakukan hal-hal yang disarankan orang-orang, ngepel-ngepel, jalan-jalan, bersih-bersih dan hal-hal dengan pengulangan kata yang lain...
Setiap waktu kami memantau ada tanda-tanda kelahiran ngga ya, ketuban pecah, flek, kontraksi, tapi kok belum ada... padahal katanya udah bukaan tiga. Dengan informasi nomor hape dr.Yenny dari Enno, ku konsultasikan ke beliau, aku diminta tetap dirumah sampai tanda-tanda melahirkan muncul dan kontrol lagi Selasa nanti.
Selasa, 3 Mei 2011
Kontrol lagi. jam 12.30 WIB. dokter Yenny cek, ternyata aku sudah di bukaan 4 (ga terasa juga, hee) tapi ketika di usg, air ketuban sudah berkurang, kemungkinan rembes dan bisa berpengaruh ke bayi . Akhirnya dokter menyegerakan aku untuk melahirkan hari ini dengan proses induksi. Aku dibawa ke ruang observasi, mas urus2 administrasi. Bener-bener deg-degan...
Jam 14.00
Suster mulai pasang infus induksi, Mas udah balik ke kantor, nyelesaiin kerjaan dulu, karena kemungkinan proses kerja induksi masih 12 jam-an kata dokter.
Jam 14.30
Perutku mulai mulas, aku sempatkan makan nasi goreng yang disediakan rumah sakit pas lagi jeda ga mulas. Mas kembali ke kantor dan berencana balik setelah jam pulang, jam 5. aku titip pesen untuk bawa kelengkapan di rumah, perlengkapan bayi, perlengkapan aku, kamera, handycam, quran, madu, sarkum, coklat, loh kok jadi banyak makanan ?!!!?...
Jam 15.00
Mulas terus berlanjut, tapi aku masih sempat sms temen kantorku Mba Dian, nanya soal cuti, sms temenku yang jualan T*pperware, dan beberapa temen, hiyaaa.... mulasku makin hebat, kubilang mas untuk datang sekarang aja..
Di sebelah ada ibu juga yang akan melahirkan juga, untuk anak ketiganya. Ku dengar ia sering berteriak bila mulas melanda, kupikir mungkin lebih baik juga buatku, akupun ikut berteriak, hwaaa... dan jadilah ruangan itu lebih rame, hehehe...
saat terasa ingin pip, aku diizinkan suster ke toilet dengan membawa infus, tapi tiba2 kakiku basah terkena tumpahan air, aku kaget.. ketuban pecah ternyata, suster tetap mengizinkan aku ke toilet. sekembalinya ke tempat tidur, air ketuban tidak berhenti mengalir, aku diminta untuk tidur miring dan tidak banyak bergerak.
Jam 15.30
mas gagah ku datang.. Alhamdulillah, ada yang bisa dijadikan sandaran... (baca: objek gigitan)
Jam 16.00
mulasku semakin tak berhenti, sepertinya sudah waktunya, tapi suster masih melarang aku mengejan.
Jam 16.20
dokter datang, prosesi melahirkan dimulai.. Alhamdulillah dimudahkan Alloh, Jam 16.35, bidadari kecil kami lahir, lega, terharu, bahagia, Mas tersenyum bangga padaku... Kami menjadi orangtua.
Subhanalloh Walhamdulillah... terimakasih Alloh..
Rabu, 13 April 2011
matriks, lakaran minda-ku..
Betapa inginku diami sebuah daerah
seindah lakaran minda
Dunia anganan yang damai terlalu sempurna
Bagaikan gambaran syurga
Kesantunan murni menjadi wiritan
Segalanya tunduk dalam ketaatan
Semua manusia merasa dirinya bersalah
Dan lantas memohon ampun
Mendermakan harta sehingga tiada siapa
Yang sudi menrimanya
Tiada terdengar tangis kelaparan
Tiada sengketa peperangan
Kupadamkan mentari kehangatan
Kunyalakan bulan kegelapan
Bebintang kusentuh kupetik
Kutabur di jalanan
Menjadi lampu alam
Berkelip kelipan
Anak-anak minta dipukul
Kerana merasa sakitnya ibu melahirkan
Para isteri memukul diri
Kerana merasa diri derhaka pada suami
Keluarga bagai syurga disegerakan
Para suami rela akui kelemahan
Begitu indahnya dunia mimpiku
Dapatkah kubawa dalam realitiku
seindah lakaran minda
Dunia anganan yang damai terlalu sempurna
Bagaikan gambaran syurga
Kesantunan murni menjadi wiritan
Segalanya tunduk dalam ketaatan
Semua manusia merasa dirinya bersalah
Dan lantas memohon ampun
Mendermakan harta sehingga tiada siapa
Yang sudi menrimanya
Tiada terdengar tangis kelaparan
Tiada sengketa peperangan
Kupadamkan mentari kehangatan
Kunyalakan bulan kegelapan
Bebintang kusentuh kupetik
Kutabur di jalanan
Menjadi lampu alam
Berkelip kelipan
Anak-anak minta dipukul
Kerana merasa sakitnya ibu melahirkan
Para isteri memukul diri
Kerana merasa diri derhaka pada suami
Keluarga bagai syurga disegerakan
Para suami rela akui kelemahan
Begitu indahnya dunia mimpiku
Dapatkah kubawa dalam realitiku
Lirik nasyid asal Malaysia ini telah menginspirasi aku & teman2 (sikut Ena) untuk punya impian indah di masa datang nanti. Ya kurang lebih kondisi keluarga dan lingkungan masyarakat ideal seperti di lirik itu lah, yang akhirnya sedikit menghasilkan mimpi yang ternyata (harusnya) bisa juga terealisasi di dunia.
Awalnya tahun 2007, teman-teman di lingkungan rumah dengan lingkup kecamatan seringkali mengadakan bakti sosial kepada masyarakat, bisa berupa pelayanan kesehatan, pembagian sembako, peralatan tulis, perlombaan anak-anak, bazzar murah dan lain-lain dengan titik lokasi yang berpindah-pindah. Namun kegiatan yang positif ini masih aku rasa kurang efektif, karena warga hanya merasakan manfaat berupa uang dan barang sesaat tanpa tindaklanjut. Menurutku ini adalah lahan untuk menjangkau masyarakat penerima bantuan untuk lebih maju dan mengenal Islam. Ketika hal ini kusampaikan kepada teman-teman panitia dan aku menawarkan program-program tindak lanjut, sepertinya kurang mendapat respon yang baik. Mungkin mereka sedang lelah memikirkan kegiatan-kegiatan baksos selanjutnya.
Akhirnya ide ini aku tawarkan kepada teman-teman dekat yang aku yakini memiliki kegelisahan yang sama (saahhhh… ). Untuk lebih memvisualisasikan ide ini aku buatkan konsep proposal kepada mereka. Semangat, terinspirasi lagu lakaran minda tadi dan membawa ide dusun binaan BEM FE dulu akhirnya aku bentuk lembaga bernama MATRIKS, kepanjangan dari Masyarakat Pencinta Generasi Kreatif dan Sholeh. Artinya ini adalah kumpulan orang-orang yang peduli kepada masyarakat untuk lebih cerdas dan terdidik secara berkelanjutan.
Program yang aku tawarkan adalah program beasiswa bagi anak asuh berprestasi, taman pendidikan alquran gratis, taman bacaan, pembinaan remaja, pengajian ibu-ibu yang diutamakan orangtua anak asuh dan murid TPA, serta pembinaan ekonomi. Dana yang didapat adalah dari donatur rutin masyarakat yang mungkin diawal adalah dari teman-teman kita ini (hee…) baik berupa uang (kami terima mulai dari 10ribu perbulan hingga tak terbatas) atau barang (alat tulis misalnya) ataupun donatur insidental yang biasanya ramai di bulan Ramadhan. Kelebihan dari program ini adalah, kami tidak perlu mencari peserta karena telah terdata pada teman-teman panitia baksos lalu dan sudah kami kenal, tinggal kita datang blok tempat tinggal keluarga-keluarga ini lantas jalani program.
Mengenai dana, ingin rasanya aku tidak membebani teman-teman yang nantinya akan bekerja menguras tenaga dan pikiran, namun aku belum menemukan model lembaga hukum seperti apa yang bisa membuat donator-donatur besar atau lembaga percaya kepada kami, sedangkan untuk membuat yayasan dibutuhkan dana 6juta rupiah.. dooohh… oleh sebab itu sambil menunggu perkembangan kami coba dulu jalani program-program ini dengan dana yang ada.
Teman-teman terlihat antusias dan setuju, mereka siap membantu sesuai dengan apa yang mereka bisa. Sebagai langkah awal terkumpul dana 385ribu rupiah dari teman-teman dan sumbangan buku dari PKS kecamatan larangan. Ditambah dengan dana zakat profesi (setelah aku berkonsultasi dengan seorang ustadzah tentang dibolehkannya pemanfaatan zakat bagi lembaga ini) akhirnya dimulailah proyek ini.
Ku gunakan dana awal itu untuk membeli lemari buku dan peralatan TPA (meja, buku Iqro, buku tulis, alat mewarnai dsb). Sebelumnya aku meminta izin kepada tetangga yang juga membuka pengajian anak-anak, aku menginformasikan bahwa TPA yang akan didirikan ini adalah berorientasi social dan tidak akan mengganggu kepesertaaan TPA milik tetangga tersebut. Beliau memahami. Alhamdulillah.
Alhamdulillah program pertama, TPA, setiap hari senin-kamis jam 18.30-19.30, diasuh oleh dua kakakku bisa berjalan. Sedangkan aku tidak bisa membantu operasional, karena baru sampai dirumah jam 7-8 malam, padahal sih karena tidak bakat mengajar anak-anak, hee…
Program selanjutnya adalah pengajian ibu-ibu. Hufft.. agak berat sih, karena ini debut pertama, aku mengajak ibu-ibu yang jauh lebih tua dari aku, dan biasanya mereka telah mengikuti pengajian mingguan di Masjid, ada kekhawatiran mereka mencurigai undangan kajianku.
Pertemuan pertama diagendakan membaca alquran dan taklim dengan mengundang Ustadzah Ratmi kerumah. Belum banyak pesertanya, tapi Alhamdulillah, mereka tertarik dan aku sudah cukup puas mendobrak kekhawatiran selama ini, heee..
Selanjutnya adalah program anak asuh, sebagai sasaran pertama aku memilih Wahyu, tinggal di ujung gang, orangtuanya memiliki banyak anak, wahyu sebagai putra pertama telah putus sekolah sejak SMP. Saat penawaran itu, orang tuanya memang terkesan tidak terlalu antusias, namun mereka bersedia memberikan dukungan bila kami mau menyekolahkan Wahyu. Langkah selanjutnya aku mencari sekolah gratis yang dekat, agar bisa menghemat transport. Setelah searching, telepon sana-sini, survey ke sekolah-sekolah, akhirnya kami memilih sekolah binaan BaytulMall di jurangmangu. Subhanalloh dari proses pemilihan sekolah ini aku banyak mendapat pelajaran baru. Ada sekolah di atas panggung yang aku temui di daerah bintaro, yang belajar di tengah alam. Siswanya banyak terdiri dari pedagang di sekitar bintaro (yang ternyata masih usia sekolah. Sekolah ini juga menyediakan komputer dan peminjaman sepeda. Namun karena jarak, kami tidak memilih sekolah ini untuk Wahyu.
Kebutuhan Wahyu untuk sekolah kami penuhi, peralatan sekolah, seragam dan transport, namun sayang kegiatan ini tidak bisa berjalan lama, karena Wahyu tidak mau sekolah lagi, sering bolos dan tidak mau mengikuti TPA. Akhirnya belum sampai setahun program ini terhenti.
Namun tidak hanya Wahyu, kami pun memberikan santunan kepada anak-anak berprestasi dan tidak mampu di wilayah sekitar, namun hanya dalam bentuk santunan bulanan dan tetap mengikat mereka untuk ikut pembinaan pekanan.
Program selanjutnya adalah program dua pekanan pembinaan bagi remaja. Pesertanya adalah anak usia diatas murid TPA untuk dibina lebih intens, namun yang lebih sering dating tidak jauh berbeda dengan murid TPA pula, hehehe... Biasanya berlokasi di Masjid Nurul Amal dan dibimbing oleh rekan-rekan mentor yang nantinya peserta diarahkan menjadi remaja Masjid aktif.
Sedangkan program terakhir yaitu pembinaan ekonomi, masih dipikirkan, kegiatan produktif apa yang cocok dan prospek bila dilakukan oleh Ibu-ibu.
Selain itu masih ada kegiatan-kegiatan yang kami lakukan bersifat tahunan dan incidental, misalnya outbond anak-anak, rihlah (rekreasi) keluarga, kegiatan ramadhan, penyaluran zakat, infak, dan fidyah masyarakat.
***
Hingga tahun 2011 ini, program telah berjalan kurang lebih empat tahun. Sejak setahun lalu aku sudah tidak tinggal di daerah Larangan lagi. Kegiatan dipimpin dan dilakukan (sebagian besar sendiri) oleh sahabatku mba Sri, hmm.. maafkan aku mba…
Donasi pun belum bisa berjalan lancar, aku memahami ini, karena mungkin para donator punya kebutuhan lain, apalagi tenaga dan pikiran mereka turut tersumbang bagi program-program Matriks.
- Kegiatan TPA sudah dibubarkan, :( . hal ini terkait dengan tidak tersedianya tempat dan pengajar. Rumahku sudah dijual dan kami sudah pindah dari sana, dan memang sejak TPA berjalan tidak ada tenaga pengajar yang bersedia mengajar rutin seperti kakakku. Sungguh amat disayangkan harus melepas anak-anak yang antusias belajar. Semua peralatan dan sarana dipindahkan ke rumah mba Sri.
- Taman Bacaan memang tidak pernah dibuka secara resmi, karena ketiadaan tenaga penjaga pada siang hari. Jadi, biasanya buku-buku hanya dibaca saat TPA aktif, sambil menunggu, anak-anak bisa membaca.
- Santunan belum bisa berjalan lagi, karena kami tidak berani memberikan santunan rutin bila donasi tidak bisa dipastikan rutin pula. Apalagi terkait dengan ditiadakannya pembinaan bagi remaja karena tak ada kakak-kakak pembinanya. Miris. Padahal asset produktif nih.
- Kegiatan yang berjalan sangat baik adalah taklim ibu-ibu, diadakan seminggu sekali. Kami sudah memiliki dua basis massa (halaah bahasane…). Jalan gotong royong dan gang buntu. Insya Alloh ibu-ibu sudah cukup solid. Semula diadakan bergantian di rumah salah satu ibu di gang buntu, namun sekarang telah rutin di adakan di rumah mba Sri. Dengan agenda yang jelas dan familiar, ibu-ibu telah dirangkul dengan baik. Kegiatan ekonomi pun mulai berjalan, sempat ada penawaran program sulam pita dengan system komisi (bener ngga mba) dari seorang teman yang memproduksi barang-barang rumahtangga kerajinan tangan, trus apa lagi mba? hee.. ketauan ga update sekarang.
Masih perlu banyak pembenahan di berbagai sisi, tapi saat ini aku masih belum bisa berbuat banyak. TPA membutuhkan tempat dan pengajar, beasiswa memerlukan dana, bimbingan memerlukan mentor, Taman bacaan memerlukan tempat dan tenaga, begitu pula dengan taklim ibu-ibu, membutuhkan tenaga. Keinginanku sih semua dikelola dengan professional, penyewaaan tempat khusus (tidak menumpang) dan pemberian insentif bagi SDM yang terlibat. Namun saat ini belum bisa dilakukan, selain karena factor dana juga SDM pengelola.
Mungkin masih mimpi untuk menyempurnakan ini semua. Semoga terbentuknya sebuah yayasan, tersuplainya dana secara rutin dan SDM pengelola yang cukup bisa segera terwujud.
Saat ini akupun baru hanya bisa mensupport mba Sri untuk terus semangat membina ibu-ibu dan berkali-kali meminta maaf karena belum juga bisa membantu atau bahkan datang kesana. Padahal ibu-ibu masih rajin hubungi aku, sms dan telepon.. hiks…
Terimakasih, Jazakumullaoh khoir katsir teman-teman dan/atau donatur yang sudah membantu, baik dana, tenaga maupun pikiran selama ini, semoga Alloh mengganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak
Ya Alloh ridhoi mimpi-mimpi kami… amin.
Sabtu, 02 April 2011
menunggu kehilangan
Tak akan ada yang bisa lepas dari kematian, misterinya hanya Alloh yang Tahu dan Maha Menentukan. Kita pasti akan bertemu dengan kematian, entah kapan dan dengan cara apa. Bila belum bertemu dengan kematian, bisa jadi kita akan berhadapan dengan kematian orang-orang terdekat yang kita cintai. Sehingga meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal biasa dalam hidup, yang terpenting adalah mengisi bekal terbaik untuk kehidupan setelah kematian.
Aku termasuk orang yang paham teori ini, sudah lama… tapi tak mengira bila harus aku yang mengalami kejadian ini. Sampai ditinggal Ibu, 1,5 tahun yang lalu, hampir tak percaya, tak sadar dan hampir tak bisa menerima kenyataan bila kematian tidak milik orang lain saja, aku juga…
Agustus 2009, awal mulai mengerti pelajaran kematian ini. Saat itu aku harus berada di rumah sakit dan ruangan bernama Ruang Tunggu ICU. Hari pertama datang aku hanya menangis melihat ibu didorong tak berdaya diatas ranjang dengan berbagai selang dipasang di tubuhnya untuk kemudian masuk ke ruang ICU, kami tidak boleh masuk. Aku dan keluarga, hanya menangis sambil sesekali dihibur oleh kerabat yang datang. Aku melihat di selasar lorong banyak keluarga penunggu pasien, karena tidak muat lagi berada di dalam ruang tunggu. Setiap keluarga hanya dibatasi tas atau perbedaan alas duduk. Aku melihat mereka yang kebingungan melihat kami yang sedang histeris, seakan-akan mereka tahu apa yang aku rasakan dan mengatakan “selamat datang di dunia nyata ini, sayang…”
Karena jam besuk yang terbatas (jam 12-13 dan jam 19-20) dan ada panggilan sewaktu-waktu dari petugas medis maka kami sekeluarga harus siaga dan bergantian menunggu diluar ruang ICU. Akhirnya kamipun menjadi bagian dari barisan selasar rumah sakit. Kami menggelar tikar panjang, ada tas sebagai bantal, jaket, minum dan sedikit makanan. Pada satu waktu kami bisa saja maju beberapa petak porselen karena ada keluarga pasien yang pindah atau bahkan mengangkat seluruh perangkat karena ada razia dari manajemen rumah sakit.
Dari pengalaman ini aku baru mengerti apa yang dimaksud ruang ICU itu, telat ya… boleh dikatakan, ICU ini ruang yang paling menegangkan, semua perawat difungsikan maksimal, karena kekritisan kondisi pasien, sedang disebelahnya ada ruang Intermediate ICU (lupa apa sebutannya), pasien yang dirawat lebih ringan tingkat kekritisannya dan boleh dijenguk keluarga tanpa dibatasi jam, kecuali pengunjung non penunggu tentu saja dan... pasien yang dirawat masih memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik dari pasien ICU.
Hari-hari pertama aku berada disana, ada kejadian yang membuat aku kaget.. tiba-tiba ada ranjang keluar dari ruang ICU, pasien ditutup selimut, meninggal. Keluarga sebelahku berbisik.. “itu pasien di bangsal sekian.. iya, yang sakit…, sudah beberapa hari..hhuuufftt..” tak lama kemudian kami bergeser pindah tempat karena ada keluarga yang pergi dan membereskan peralatannya, rupanya keluarga pasien yang meninggal tadi.
Semakin lama, hal ini menjadi kebiasaan. Semua keluarga penunggu yang berada disana, harus bersiap dengan panggilan perawat yang mendadak, karena bisa jadi pasien dalam keadaan kritis. Sedangkan kami tak perlu khawatir bila dipanggil pada jam-jam tertentu yang dipanggil untuk diberi resep obat, yaitu sekitar jam 7.30 pagi atau jam 20.00 malam bila ada panggilan konsultasi dokter. Selain jam-jam tersebut, kami hanya saling beradu pandang bila ada nama pasien yang disebut untuk memanggil keluarganya…
Pada saat jam besuk dibuka, seluruh keluarga telah mengantri di depan pintu ruangan dan mengambil baju khusus, rebutan pula. Dua jam perhari itu sangat kami manfaatkan untuk bertemu Ibu. Mengajaknya ngobrol, mendoakan atau sekedar memeluk dan menyentuhnya. Kadang ada perasaan enggan untuk masuk, kami tidak bisa menerima kenyataan melihat ibu tersiksa. Tubuhnya dingin, dipasang alat bantu pernafasan, belasan infuse dan bengkak di beberapa bagian. Namun. Inilah yang harus dihadapi, siapa yang akan menemui Ibu jika bukan kami, aku mencoba tegar dan terlihat biasa saat berkomunikasi dengan ibu, walau hati ini terasa pedih tersayat. Sedang kakakku kadang tidak sanggup, melihat ibu hanya menangis, lalu keluar, karena tidak ingin ibu melihat kami sedih lalu pesimis.
Di rumah malam harinya, aku selalu memikirkan ibu menanggung rasa sakitnya, sedang aku tidur dan makan dengan nyaman. Saat itu aktivitasku terasa hampa, tak bermakna, semua seperti berpura-pura. Makan terasa sakit di tenggorokan, kulit kering, sariawan dan tidak ada semangat kecuali untuk segera menemui Ibu.
Semakin lama, kami semakin akrab dengan sesama keluarga penunggu. Terutama yang memiliki masa tunggu yang sama. Posisinya semakin bergeser mendekat. Keakraban kadang diselingi canda, namun tetap miris, seperti terpaksa. Membicarakan keuangan dan biaya yang mahal, dan entah darimana kami mengusahakannya namun ada saja rezeki tersebut, yang dicandakan bahwa “uang yang ada dan bertebaran diruang tunggu ini tak akan hilang diambil, karena beraroma infuse dan obat…” , juga membicarakan keluarga dan kesehatan pasien masing-masing, ini yang biasanya membuat iri hati. Aku iri terhadap satu keluarga yang menunggu ayahnya di Intermediate, huuhh… sang ayah mengalami pendarahan di otak, diduga karena fisiknya terlalu lelah, kemungkinan karena ia adalah guru olahraga.
Diumpamakan pula istilah naik kelas/naik pangkat, yaitu bila pasien Intermediate berhasil pindah ke rawat jalan, atau pasien ICU berhasil pindah ke Intermediate atau langsung ke rawat jalan. Iri. Sedang Ibu termasuk pasien yang menghuni lama di dalam ruang ICU, kurang lebih 28hari.
Berbagai macam keluarga aku temui, banyak pelajaran berharga mengenai perhatian, kasih sayang, kesedihan dan pengorbanan keluarga. Kami semua merasakan berada dalam kondisi ketidakjelasan dan terombang-ambing, namun tidak boleh lemah atau sakit. Seperti berdiri tegak sambil diiris-iris.
Satu waktu, pasien sebelah ibu, yang dalam keadaan koma, akhirnya meninggal dunia, seorang laki-laki keturunan, saat jam besuk aku sering melihat banyak pendeta (atau rahib ya? ) yang datang untuk mendoakan bapak itu. Keluarganya pun terlihat siap dengan kematiannya, ada yang mengatakan ingin segera berbagi warisan, namun aku pikir keluarga sudah pasrah karena sudah lama koma, sehingga terlihat biasa saja.
Lalu ada seorang laki-laki berusia 45an tahun. Tersenyum indah, istrinya lulus masuk ke rawat jalan. Ia bercerita istrinya memang sering sesak mendadak dan beberapa kali masuk keluar ruang ICU, namun Alhamdulillah menurut dokter kali ini bisa pindah ke ruang perawatan, semoga tidak masuk ke ruang menyeramkan ini lagi.
Penunggu disebelahku ada beberapa anak muda, katanya menunggu paman mereka yang organ pencernaannya sudah tak berfungsi, entah apa, aku pun kurang paham, sehingga diperlukan alat bantu. Sang Paman pun sudah dirawat lebih dahulu daripada Ibu. Tak berapa lama ia pun meninggal.
Kemudian ada pula seorang anak, mungkin usianya baru 12-13 tahun. Masuk ruang ICU karena kecelakaan motor, tidak memakai helm dan melawan arus. Kepalanya diperban dan memakai alat bantu pernafasan. Sang Ibu yang mendampinginya, tidak banyak berbicara pada kami, wajahnya terlihat tegang dan bingung. Yang aku dengar, suami nya belum lama meninggal dan ia masih memiliki satu anak lagi. Beberapa hari kemudian anak itu meninggal, sang ibu sering kali terlihat ada di tangga darurat, merokok.
Satu malam ada lagi seorang laki-laki masuk ke ruang ICU, di ruang ventilasi, keluarganya seorang perempuan ( istri ) dan dua anaknya yang masih kecil mengantar. Dua anaknya terlihat sangat ceria, sepertinya belum mengerti keadaaan ayahnya. Keesokan pagi, sang ayah meninggal, si anak pun masih tetap ceria bermain, sambil mengucapkan bila boss (ayahnya) sedang sakit..
Satu keluarga lagi, keturunan Arab, yang dirawat adalah Ibu mereka, usianya masih muda, 40an tahun, dalam kondisi tidak sadar, terkena serangan darah tinggi, sehingga pembuluh darah di otaknya ada yang pecah. Keluarganya banyak menunggu diluar, tidak juga banyak bercerita pada kami. Beberapa hari kemudian, aku dengar pasien sudah keluar dari ruang ICU, entah lulus atau kemana…
Dan yang paling dekat adalah keluarga Teh Yenny, suaminya dirawat hampir selama ibu dirawat. Usianya masih muda dan baru memiliki satu anak. Hmm.. mungkin aku tidak setegar dirinya bila itu terjadi padaku. Karena tepat di awal Ramadhan, sang suami dipanggil menghadap Alloh SWT, masih berusia 33 tahun.
Setelah itu aku hampir tidak lagi mengenal keluarga pasien, semua terasa asing. Apalagi seminggu kemudian ibu mengalami kritis kemudian koma dan tidak sadar lagi.
***
Bila ada pilihan aku ingin segera men-skip masa ini. Terlalu perih dilalui, pelan-pelan dan menyakitkan. Aku dipaksa untuk tetap tegar dan logis menghadapi kenyataan dan mengambil langkah terbaik untuk ibu, padahal airmata ini sudah terbendung lama dan tertahan di dada, apalagi godaan untuk putus asa selalu datang. Doa bisa menenangkan, dukungan saudara dan teman-teman juga membantu tapi tidak lama. Aku tetap sakit.
Kemudian aku berpikir, di hidupku yang normal, saat menjalani aktivitas seperti biasa, menunggu bis, menunggu jemputan, menjalani hal-hal menyenangkan, tak terpikirkan disini ada segelintir orang yang sedang menunggu, setia menunggu sesuatu yang mungkin akan menyakitkan, menunggu ketentuan Alloh SWT malaikat Izrail mencabut dan membawa nyawa orang-orang yang mereka sayangi, menjalani siklus kegiatan tidak seperti biasanya, memiliki tabungan air mata atau bahkan sudah kering sama sekali.
Setiap kerabat yang datang, hampir semua berkomentar, bila tiba masanya nanti, mereka tidak ingin merepotkan keluarga, tidak ingin dirawat begitu lama di rumah sakit, ia ingin langsung mati saja. Hah, seperti menyalahkan ibu ...
Ibu sama sekali tidak merepotkan kami. biaya yang dikeluarkan adalah dari uang ibu sendiri, waktu dan tenaga yang digunakan untuk menunggu pun anggaplah balas jasa atas pengorbanan ibu yang tidak akanpernah bisa kami balas. Dan sekali lagi ibu tidak perlu merasa merepotkan, kami persembahkan sebagai tanda cinta kami pada Ibu, paling tidak untuk yang terakhir kali di masa hidupnya.
Kita tidak pernah tahu bagaimana kematian akan menyapa, cepat atau lambat, dirumah sakit atau bukan, dan dengan cara apapun… jadi anggaplah semua yang dilakukan keluarga adalah yang terbaik buat kita dan wujud kasih sayang mereka…
Aku termasuk orang yang paham teori ini, sudah lama… tapi tak mengira bila harus aku yang mengalami kejadian ini. Sampai ditinggal Ibu, 1,5 tahun yang lalu, hampir tak percaya, tak sadar dan hampir tak bisa menerima kenyataan bila kematian tidak milik orang lain saja, aku juga…
Agustus 2009, awal mulai mengerti pelajaran kematian ini. Saat itu aku harus berada di rumah sakit dan ruangan bernama Ruang Tunggu ICU. Hari pertama datang aku hanya menangis melihat ibu didorong tak berdaya diatas ranjang dengan berbagai selang dipasang di tubuhnya untuk kemudian masuk ke ruang ICU, kami tidak boleh masuk. Aku dan keluarga, hanya menangis sambil sesekali dihibur oleh kerabat yang datang. Aku melihat di selasar lorong banyak keluarga penunggu pasien, karena tidak muat lagi berada di dalam ruang tunggu. Setiap keluarga hanya dibatasi tas atau perbedaan alas duduk. Aku melihat mereka yang kebingungan melihat kami yang sedang histeris, seakan-akan mereka tahu apa yang aku rasakan dan mengatakan “selamat datang di dunia nyata ini, sayang…”
Karena jam besuk yang terbatas (jam 12-13 dan jam 19-20) dan ada panggilan sewaktu-waktu dari petugas medis maka kami sekeluarga harus siaga dan bergantian menunggu diluar ruang ICU. Akhirnya kamipun menjadi bagian dari barisan selasar rumah sakit. Kami menggelar tikar panjang, ada tas sebagai bantal, jaket, minum dan sedikit makanan. Pada satu waktu kami bisa saja maju beberapa petak porselen karena ada keluarga pasien yang pindah atau bahkan mengangkat seluruh perangkat karena ada razia dari manajemen rumah sakit.
Dari pengalaman ini aku baru mengerti apa yang dimaksud ruang ICU itu, telat ya… boleh dikatakan, ICU ini ruang yang paling menegangkan, semua perawat difungsikan maksimal, karena kekritisan kondisi pasien, sedang disebelahnya ada ruang Intermediate ICU (lupa apa sebutannya), pasien yang dirawat lebih ringan tingkat kekritisannya dan boleh dijenguk keluarga tanpa dibatasi jam, kecuali pengunjung non penunggu tentu saja dan... pasien yang dirawat masih memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik dari pasien ICU.
Hari-hari pertama aku berada disana, ada kejadian yang membuat aku kaget.. tiba-tiba ada ranjang keluar dari ruang ICU, pasien ditutup selimut, meninggal. Keluarga sebelahku berbisik.. “itu pasien di bangsal sekian.. iya, yang sakit…, sudah beberapa hari..hhuuufftt..” tak lama kemudian kami bergeser pindah tempat karena ada keluarga yang pergi dan membereskan peralatannya, rupanya keluarga pasien yang meninggal tadi.
Semakin lama, hal ini menjadi kebiasaan. Semua keluarga penunggu yang berada disana, harus bersiap dengan panggilan perawat yang mendadak, karena bisa jadi pasien dalam keadaan kritis. Sedangkan kami tak perlu khawatir bila dipanggil pada jam-jam tertentu yang dipanggil untuk diberi resep obat, yaitu sekitar jam 7.30 pagi atau jam 20.00 malam bila ada panggilan konsultasi dokter. Selain jam-jam tersebut, kami hanya saling beradu pandang bila ada nama pasien yang disebut untuk memanggil keluarganya…
Pada saat jam besuk dibuka, seluruh keluarga telah mengantri di depan pintu ruangan dan mengambil baju khusus, rebutan pula. Dua jam perhari itu sangat kami manfaatkan untuk bertemu Ibu. Mengajaknya ngobrol, mendoakan atau sekedar memeluk dan menyentuhnya. Kadang ada perasaan enggan untuk masuk, kami tidak bisa menerima kenyataan melihat ibu tersiksa. Tubuhnya dingin, dipasang alat bantu pernafasan, belasan infuse dan bengkak di beberapa bagian. Namun. Inilah yang harus dihadapi, siapa yang akan menemui Ibu jika bukan kami, aku mencoba tegar dan terlihat biasa saat berkomunikasi dengan ibu, walau hati ini terasa pedih tersayat. Sedang kakakku kadang tidak sanggup, melihat ibu hanya menangis, lalu keluar, karena tidak ingin ibu melihat kami sedih lalu pesimis.
Di rumah malam harinya, aku selalu memikirkan ibu menanggung rasa sakitnya, sedang aku tidur dan makan dengan nyaman. Saat itu aktivitasku terasa hampa, tak bermakna, semua seperti berpura-pura. Makan terasa sakit di tenggorokan, kulit kering, sariawan dan tidak ada semangat kecuali untuk segera menemui Ibu.
Semakin lama, kami semakin akrab dengan sesama keluarga penunggu. Terutama yang memiliki masa tunggu yang sama. Posisinya semakin bergeser mendekat. Keakraban kadang diselingi canda, namun tetap miris, seperti terpaksa. Membicarakan keuangan dan biaya yang mahal, dan entah darimana kami mengusahakannya namun ada saja rezeki tersebut, yang dicandakan bahwa “uang yang ada dan bertebaran diruang tunggu ini tak akan hilang diambil, karena beraroma infuse dan obat…” , juga membicarakan keluarga dan kesehatan pasien masing-masing, ini yang biasanya membuat iri hati. Aku iri terhadap satu keluarga yang menunggu ayahnya di Intermediate, huuhh… sang ayah mengalami pendarahan di otak, diduga karena fisiknya terlalu lelah, kemungkinan karena ia adalah guru olahraga.
Diumpamakan pula istilah naik kelas/naik pangkat, yaitu bila pasien Intermediate berhasil pindah ke rawat jalan, atau pasien ICU berhasil pindah ke Intermediate atau langsung ke rawat jalan. Iri. Sedang Ibu termasuk pasien yang menghuni lama di dalam ruang ICU, kurang lebih 28hari.
Berbagai macam keluarga aku temui, banyak pelajaran berharga mengenai perhatian, kasih sayang, kesedihan dan pengorbanan keluarga. Kami semua merasakan berada dalam kondisi ketidakjelasan dan terombang-ambing, namun tidak boleh lemah atau sakit. Seperti berdiri tegak sambil diiris-iris.
Satu waktu, pasien sebelah ibu, yang dalam keadaan koma, akhirnya meninggal dunia, seorang laki-laki keturunan, saat jam besuk aku sering melihat banyak pendeta (atau rahib ya? ) yang datang untuk mendoakan bapak itu. Keluarganya pun terlihat siap dengan kematiannya, ada yang mengatakan ingin segera berbagi warisan, namun aku pikir keluarga sudah pasrah karena sudah lama koma, sehingga terlihat biasa saja.
Lalu ada seorang laki-laki berusia 45an tahun. Tersenyum indah, istrinya lulus masuk ke rawat jalan. Ia bercerita istrinya memang sering sesak mendadak dan beberapa kali masuk keluar ruang ICU, namun Alhamdulillah menurut dokter kali ini bisa pindah ke ruang perawatan, semoga tidak masuk ke ruang menyeramkan ini lagi.
Penunggu disebelahku ada beberapa anak muda, katanya menunggu paman mereka yang organ pencernaannya sudah tak berfungsi, entah apa, aku pun kurang paham, sehingga diperlukan alat bantu. Sang Paman pun sudah dirawat lebih dahulu daripada Ibu. Tak berapa lama ia pun meninggal.
Kemudian ada pula seorang anak, mungkin usianya baru 12-13 tahun. Masuk ruang ICU karena kecelakaan motor, tidak memakai helm dan melawan arus. Kepalanya diperban dan memakai alat bantu pernafasan. Sang Ibu yang mendampinginya, tidak banyak berbicara pada kami, wajahnya terlihat tegang dan bingung. Yang aku dengar, suami nya belum lama meninggal dan ia masih memiliki satu anak lagi. Beberapa hari kemudian anak itu meninggal, sang ibu sering kali terlihat ada di tangga darurat, merokok.
Satu malam ada lagi seorang laki-laki masuk ke ruang ICU, di ruang ventilasi, keluarganya seorang perempuan ( istri ) dan dua anaknya yang masih kecil mengantar. Dua anaknya terlihat sangat ceria, sepertinya belum mengerti keadaaan ayahnya. Keesokan pagi, sang ayah meninggal, si anak pun masih tetap ceria bermain, sambil mengucapkan bila boss (ayahnya) sedang sakit..
Satu keluarga lagi, keturunan Arab, yang dirawat adalah Ibu mereka, usianya masih muda, 40an tahun, dalam kondisi tidak sadar, terkena serangan darah tinggi, sehingga pembuluh darah di otaknya ada yang pecah. Keluarganya banyak menunggu diluar, tidak juga banyak bercerita pada kami. Beberapa hari kemudian, aku dengar pasien sudah keluar dari ruang ICU, entah lulus atau kemana…
Dan yang paling dekat adalah keluarga Teh Yenny, suaminya dirawat hampir selama ibu dirawat. Usianya masih muda dan baru memiliki satu anak. Hmm.. mungkin aku tidak setegar dirinya bila itu terjadi padaku. Karena tepat di awal Ramadhan, sang suami dipanggil menghadap Alloh SWT, masih berusia 33 tahun.
Setelah itu aku hampir tidak lagi mengenal keluarga pasien, semua terasa asing. Apalagi seminggu kemudian ibu mengalami kritis kemudian koma dan tidak sadar lagi.
***
Selama menunggu Ibu ini, aku memang tidak full sehari semalam, biasanya aku datang dari kantor jam 11 siang (untuk mengejar jam besuk yang jam 12.00) kemudian pulang jam 20-21an setelah jam besuk kedua, begitu setiap hari. Alhamdulillah mendapat kemudahan dari kantor untuk datang hanya dari pagi hingga jam 11 siang. Kakak pertamaku lah yang menjaga dari pagi dan mendapat giliran membeli obat, dan kadang bertemu dokter. Kecuali sabtu minggu, aku bisa ikut membeli obat.
Bila ada pilihan aku ingin segera men-skip masa ini. Terlalu perih dilalui, pelan-pelan dan menyakitkan. Aku dipaksa untuk tetap tegar dan logis menghadapi kenyataan dan mengambil langkah terbaik untuk ibu, padahal airmata ini sudah terbendung lama dan tertahan di dada, apalagi godaan untuk putus asa selalu datang. Doa bisa menenangkan, dukungan saudara dan teman-teman juga membantu tapi tidak lama. Aku tetap sakit.
Kemudian aku berpikir, di hidupku yang normal, saat menjalani aktivitas seperti biasa, menunggu bis, menunggu jemputan, menjalani hal-hal menyenangkan, tak terpikirkan disini ada segelintir orang yang sedang menunggu, setia menunggu sesuatu yang mungkin akan menyakitkan, menunggu ketentuan Alloh SWT malaikat Izrail mencabut dan membawa nyawa orang-orang yang mereka sayangi, menjalani siklus kegiatan tidak seperti biasanya, memiliki tabungan air mata atau bahkan sudah kering sama sekali.
Kematian begitu ramah disini, nyata, lewat begitu saja dan terlihat biasa. Baik untuk lebih dekat dan semakin menggantungkan diri pada Alloh SWT.
Setiap kerabat yang datang, hampir semua berkomentar, bila tiba masanya nanti, mereka tidak ingin merepotkan keluarga, tidak ingin dirawat begitu lama di rumah sakit, ia ingin langsung mati saja. Hah, seperti menyalahkan ibu ...
Ibu sama sekali tidak merepotkan kami. biaya yang dikeluarkan adalah dari uang ibu sendiri, waktu dan tenaga yang digunakan untuk menunggu pun anggaplah balas jasa atas pengorbanan ibu yang tidak akanpernah bisa kami balas. Dan sekali lagi ibu tidak perlu merasa merepotkan, kami persembahkan sebagai tanda cinta kami pada Ibu, paling tidak untuk yang terakhir kali di masa hidupnya.
Kita tidak pernah tahu bagaimana kematian akan menyapa, cepat atau lambat, dirumah sakit atau bukan, dan dengan cara apapun… jadi anggaplah semua yang dilakukan keluarga adalah yang terbaik buat kita dan wujud kasih sayang mereka…
Jumat, 18 Maret 2011
andai
Teringat lagi, dan sepertinya tak akan pernah lupa, penyesalan besarku adalah bila mengingat ibu. Ga habis-habis… Memang, menyesal ga akan membuat ibu kembali, tapi sulit untuk mengingat ibu tidak berbarengan dengan penyesalan .
Andai aku punya kemampuan lebih. Mampu tenaga, mampu waktu , mampu uang, aku akan lakukan lebih untuk Ibu.
Aku akan bawa ibu berobat serius sebelum terlambat. Ga peduli walau menolak, aku bawa ibu cek-up, ikhtiar untuk sembuh. Toh, pada dasarnya ibu mau diperhatikan, hanya ibu tidak mau merepotkan anaknya.
Aku juga akan jauhkan ibu dari orang-orang yang menambah beban pikirannya, aku usir kerabat yang memicu sesak napas ibu kemarin. Aku benci mereka…
Dan yang terbesar, aku akan luangkan waktuku lebih banyak untuk ibu, menemaninya.. sekarang baru aku rasakan, waktu itu sangat berharga, andai saja… apalagi sampai sekarang kakakku masih menyinggung sikapku dulu yang lebih mementingkan waktu untuk diri sendiri dibanding bersama ibu, sedih rasanya…
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ibu pergi menyisakan sedih dan penyesalan…
Ibu, maafin andi ya..
si keling & sang pengelana
Aku, perempuan sederhana dari keluarga kurang berada, tidak cantik, tidak juga putih dan menarik. Sejak kecil, aku suka sekali bermain di lapangan, lari-lari, memanjat pohon, mencari ikan di got, mencari tanaman di kebon, naik sepeda keliling kampung, mengolah tanah, kayu pohon & pasir jadi mainan (berani kotor itu baik :D), maka itu, ibu selalu mencari aku sepulang sekolah.
Bila aktifitas outdoor tadi dilakukan setelah pulang kerumah (tidak langsung dari sekolah), maka kakak dan ibu selalu berpesan supaya aku tidak bermain kotor-kotoran, tempat yang panas atau berhubungan dengan daun/pohon pisang, karena khawatir menimbulkan noda di pakaian dan wujud dan aromaku bisa lebih buruk ( hahaha...). gampaaang yang penting ga dilarang. Oh ya..tak jarang aku dijuluki si keling, karena saking hitamnya dan banyak bekas luka sisa-sisa kejayaan saat itu disana sini.
Di sekolah pun, aktifitasku tidak jauh berbeda. Mulai SMP, saat mulai ada pengidolaan (baik karena kecantikan atau kekayaan) di sekolah, aku pun termasuk anak yang (hampir) tidak pernah terlihat, maka itu aku mengupayakan hal lain, prestasi. Tidak terlalu menonjol sih, tapi paling tidak, bisa puas dengan hasil sendiri. Maka terbentuklah aku yang harus mencari keunggulan lain dalam diri yang bisa membuat percaya diri. Persaingan prestasi dimulai.
Teman-teman dekatku juga orang yang tidak terlalu terkenal pula, lebih nyaman bersama mereka, polos, apa adanya. Ada beberapa segelintir, tak banyak, temen-temen nge-top pun ada (dari sisi manapun) tapi sedikit, hee... sebagian dari mereka teman SD, teman berangkat ke sekolah, atau teman ya teman aja.. Jangan bicarakan lawan jenis ya, mana ada yang mau ngelirik aku.. wuahahha...
Disaat menumpuk kepercayaan diri selapis selapis, keluarga memutuskan aku harus sekolah di SMK, sama sekali bukan pilihanku, pupus deh.. waktu itu aku merasakan, apa yang aku bangun pelan-pelan ga terlalu bermanfaat. Jadilah tiga tahun di SMK rasanya datar saja..
Di akhir kelas 1 SMK aku mengalihkan konsentrasi dari prestasi ke pencarian pohon jati. dengan bimbingan kakak kelas, aku mulai mengenal Islam, yang berlanjut ke menutup aurat. Alhamdulillah, dengan segala proses pencarian kali ini, baru sadar ternyata selama ini aku salah. Kepuasan diri bukan begini caranya, prestasi & percaya diri hanyalah sebagian kecil dari kepuasan batin. Aku mulai merasa percaya diri ketika mulai belajar islam dan bisa menjalankan sedikit-sedikit, kepuasan didapat atas pandangan Alloh, bukan pandangan manusia, ternyata masih banyak yang belum aku pelajari dan yang selama ini aku pahami banyak yang salah.
Aku masih harus banyak belajar dan proses ini tak akan pernah selesai. Fokus hidup beralih, semua terasa lebih jelas & menenangkan. Aku tidak lagi "berambisi", tidak lagi minder di depan teman-teman dan orang lain (baca: ga terlalu peduli selama aku ngga ngerugiin mereka, hee), karena mereka pun tak memikirkan aku. Cuma berpikir menabung kebaikan, cari yang benar dan belajar konsep-konsep tarbiyah untuk ngumpulin pahala dari Alloh SWT. Aku yakin kemudahan, nikmat dan ujian hidup adalah bagian dari kasih sayang Alloh dan kebaikan-kebaikan manusia adalah bonusnya. Mudah-mudahan selalu istiqomah.
Begitu juga, pandangan tentang jodoh. Sebelum hijrah aku masih berpendapat bahwa jodoh segaris lurus dengan kecantikan, kekayaan kepandaian dan sebagainya, jadi perasaan pesimis lebih banyak mendominasi. Namun sejak mengenal tarbiyah, aku semakin yakin bila Alloh Maha Menentukan, manusia tidak bisa memaksakan keinginan sendiri, serahkan pada skenarioNya saja, Alloh menjanjikan lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, begitu juga sebaliknya, berpasangan. maka tugasku hanyalah mengusahakan menjadi baik karena Alloh saja. Aku yakin, walau tidak cantik, tidak kaya, tidak pintar dan tidak banyak keunggulan juga, tapi Alloh akan memberikan seorang yang tidak mementingkan kriteria itu. Ia Maha Tahu Yang Terindah, siapa dan kapan.
Sampai tiba waktunya (menurutku sih sudah waktunya), ternyata sang pangeran belum datang juga. keluarga mulai mengkhawatirkan, aku tidak, karena sudah sangat yakin bila ia akan tiba pada waktunya nanti, urusan Alloh itu tidak perlu dipikirkan, fokuskan saja pada yang ada didepan mata, keluarga, pekerjaan, dan teman-teman (plus proyek akhirat bersama mereka).
Bertukar pikiran dan banyak mendengar pengalaman teman-teman juga membuat aku lebih paham kalau pernikahan bukan awal kebahagiaan dan akhir dari masalah, tetapi, ia adalah fase dari kehidupan ini, bertambahnya amanah dan tanggungjawab, jadi tak usah diburu-buru, ikuti saja alurNya dan nikmati apa yang ada. Belum menikah bukan berarti tidak bisa bahagia, dan menikah bukanlah alasan besar seseorang menjadi bahagia, namun personalnya lah yang harus mengupayakan kebahagiaan di dalam pernikahan. Subhanalloh, terlalu banyak alasan yang membuat aku harus banyak bersyukur dengan kondisi yang ada. aku semakin yakin Alloh telah menyiapkan pasangan terbaik dalam waktu dekat, di masa datang atau bahkan di akhirat nanti.
Seketika Alloh telah mengatur semua, ia mengirimkan seseorang buat aku. Pintu gerbang amanah itu telah terbuka. Tidak terlalu lama, namun diwaktu yang tepat. Ada yang mau menerima aku, yang awalnya saja keluargaku hampir tak percaya, hahahha, ia siap menjaga dan mencintai sampai nanti. mengerti kelemahanku dan memperbaikinya. Bersama belajar menuju Alloh.
Alhamdulillah, kini ia nyata berada di sampingku, kupandang tidurnya, kupeluk, tak percaya, Alloh mengirimkan seorang ini. melebihi apa yang aku uraikan dalam doa. Kata seorang sahabat, pangeranmu tuh masih menumpas naga jahat, jadi datengnya agak lama, eh ngga ding, dia traveling dulu, nyari kamu dimana... heee
Syukur pada Alloh, si keling yang minder ini, walau tidak cantik, ngetop dan gaul, telah memiliki tautan hati yang dicintai, utuh... (huhuuuu gr)..
terimakasih ya mas..
Kini aku sedang mengandung calon buah hati pertama kami, belum percaya juga, dititipi Alloh amanah ini, semoga Ia memberikan kemudahan bagi kami menjadi orangtua yang baik. Subhanalloh, aku akan punya bayi, duhh, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?
upss.. dia bergerak, wuaaah... "tidur dek.. "
katanya aku aneh, suka ngliatin kalo tidur, xixixiiiiiii
uppss...
Bila aktifitas outdoor tadi dilakukan setelah pulang kerumah (tidak langsung dari sekolah), maka kakak dan ibu selalu berpesan supaya aku tidak bermain kotor-kotoran, tempat yang panas atau berhubungan dengan daun/pohon pisang, karena khawatir menimbulkan noda di pakaian dan wujud dan aromaku bisa lebih buruk ( hahaha...). gampaaang yang penting ga dilarang. Oh ya..tak jarang aku dijuluki si keling, karena saking hitamnya dan banyak bekas luka sisa-sisa kejayaan saat itu disana sini.
Di sekolah pun, aktifitasku tidak jauh berbeda. Mulai SMP, saat mulai ada pengidolaan (baik karena kecantikan atau kekayaan) di sekolah, aku pun termasuk anak yang (hampir) tidak pernah terlihat, maka itu aku mengupayakan hal lain, prestasi. Tidak terlalu menonjol sih, tapi paling tidak, bisa puas dengan hasil sendiri. Maka terbentuklah aku yang harus mencari keunggulan lain dalam diri yang bisa membuat percaya diri. Persaingan prestasi dimulai.
Teman-teman dekatku juga orang yang tidak terlalu terkenal pula, lebih nyaman bersama mereka, polos, apa adanya. Ada beberapa segelintir, tak banyak, temen-temen nge-top pun ada (dari sisi manapun) tapi sedikit, hee... sebagian dari mereka teman SD, teman berangkat ke sekolah, atau teman ya teman aja.. Jangan bicarakan lawan jenis ya, mana ada yang mau ngelirik aku.. wuahahha...
Disaat menumpuk kepercayaan diri selapis selapis, keluarga memutuskan aku harus sekolah di SMK, sama sekali bukan pilihanku, pupus deh.. waktu itu aku merasakan, apa yang aku bangun pelan-pelan ga terlalu bermanfaat. Jadilah tiga tahun di SMK rasanya datar saja..
Di akhir kelas 1 SMK aku mengalihkan konsentrasi dari prestasi ke pencarian pohon jati. dengan bimbingan kakak kelas, aku mulai mengenal Islam, yang berlanjut ke menutup aurat. Alhamdulillah, dengan segala proses pencarian kali ini, baru sadar ternyata selama ini aku salah. Kepuasan diri bukan begini caranya, prestasi & percaya diri hanyalah sebagian kecil dari kepuasan batin. Aku mulai merasa percaya diri ketika mulai belajar islam dan bisa menjalankan sedikit-sedikit, kepuasan didapat atas pandangan Alloh, bukan pandangan manusia, ternyata masih banyak yang belum aku pelajari dan yang selama ini aku pahami banyak yang salah.
Aku masih harus banyak belajar dan proses ini tak akan pernah selesai. Fokus hidup beralih, semua terasa lebih jelas & menenangkan. Aku tidak lagi "berambisi", tidak lagi minder di depan teman-teman dan orang lain (baca: ga terlalu peduli selama aku ngga ngerugiin mereka, hee), karena mereka pun tak memikirkan aku. Cuma berpikir menabung kebaikan, cari yang benar dan belajar konsep-konsep tarbiyah untuk ngumpulin pahala dari Alloh SWT. Aku yakin kemudahan, nikmat dan ujian hidup adalah bagian dari kasih sayang Alloh dan kebaikan-kebaikan manusia adalah bonusnya. Mudah-mudahan selalu istiqomah.
Begitu juga, pandangan tentang jodoh. Sebelum hijrah aku masih berpendapat bahwa jodoh segaris lurus dengan kecantikan, kekayaan kepandaian dan sebagainya, jadi perasaan pesimis lebih banyak mendominasi. Namun sejak mengenal tarbiyah, aku semakin yakin bila Alloh Maha Menentukan, manusia tidak bisa memaksakan keinginan sendiri, serahkan pada skenarioNya saja, Alloh menjanjikan lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, begitu juga sebaliknya, berpasangan. maka tugasku hanyalah mengusahakan menjadi baik karena Alloh saja. Aku yakin, walau tidak cantik, tidak kaya, tidak pintar dan tidak banyak keunggulan juga, tapi Alloh akan memberikan seorang yang tidak mementingkan kriteria itu. Ia Maha Tahu Yang Terindah, siapa dan kapan.
Sampai tiba waktunya (menurutku sih sudah waktunya), ternyata sang pangeran belum datang juga. keluarga mulai mengkhawatirkan, aku tidak, karena sudah sangat yakin bila ia akan tiba pada waktunya nanti, urusan Alloh itu tidak perlu dipikirkan, fokuskan saja pada yang ada didepan mata, keluarga, pekerjaan, dan teman-teman (plus proyek akhirat bersama mereka).
Bertukar pikiran dan banyak mendengar pengalaman teman-teman juga membuat aku lebih paham kalau pernikahan bukan awal kebahagiaan dan akhir dari masalah, tetapi, ia adalah fase dari kehidupan ini, bertambahnya amanah dan tanggungjawab, jadi tak usah diburu-buru, ikuti saja alurNya dan nikmati apa yang ada. Belum menikah bukan berarti tidak bisa bahagia, dan menikah bukanlah alasan besar seseorang menjadi bahagia, namun personalnya lah yang harus mengupayakan kebahagiaan di dalam pernikahan. Subhanalloh, terlalu banyak alasan yang membuat aku harus banyak bersyukur dengan kondisi yang ada. aku semakin yakin Alloh telah menyiapkan pasangan terbaik dalam waktu dekat, di masa datang atau bahkan di akhirat nanti.
Seketika Alloh telah mengatur semua, ia mengirimkan seseorang buat aku. Pintu gerbang amanah itu telah terbuka. Tidak terlalu lama, namun diwaktu yang tepat. Ada yang mau menerima aku, yang awalnya saja keluargaku hampir tak percaya, hahahha, ia siap menjaga dan mencintai sampai nanti. mengerti kelemahanku dan memperbaikinya. Bersama belajar menuju Alloh.
Alhamdulillah, kini ia nyata berada di sampingku, kupandang tidurnya, kupeluk, tak percaya, Alloh mengirimkan seorang ini. melebihi apa yang aku uraikan dalam doa. Kata seorang sahabat, pangeranmu tuh masih menumpas naga jahat, jadi datengnya agak lama, eh ngga ding, dia traveling dulu, nyari kamu dimana... heee
Syukur pada Alloh, si keling yang minder ini, walau tidak cantik, ngetop dan gaul, telah memiliki tautan hati yang dicintai, utuh... (huhuuuu gr)..
terimakasih ya mas..
Kini aku sedang mengandung calon buah hati pertama kami, belum percaya juga, dititipi Alloh amanah ini, semoga Ia memberikan kemudahan bagi kami menjadi orangtua yang baik. Subhanalloh, aku akan punya bayi, duhh, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?
upss.. dia bergerak, wuaaah... "tidur dek.. "
katanya aku aneh, suka ngliatin kalo tidur, xixixiiiiiii
uppss...
Senin, 07 Maret 2011
aneh ^^
tengah malam aku terbangun..
minum
loh kok kulkas menghadap ke tempat berbeda?
loh kok ini bukan dapurku?
aku jalan ke kamar
bukan kamarku juga
ada laki-laki...
haaaa... bukan tempat tidurku...
bukan rumahku juga..
ini dimana?..
tak seharusnya aku disini
***
kupikirkan baik-baik
***
hufft..
inilah rumahku
sekarang dan besok
dan dia suamiku
yang kan selalu disini,
sekarang dan besok
***
ternyata aku sudah menikah....
minum
loh kok kulkas menghadap ke tempat berbeda?
loh kok ini bukan dapurku?
aku jalan ke kamar
bukan kamarku juga
ada laki-laki...
haaaa... bukan tempat tidurku...
bukan rumahku juga..
ini dimana?..
tak seharusnya aku disini
***
kupikirkan baik-baik
***
hufft..
inilah rumahku
sekarang dan besok
dan dia suamiku
yang kan selalu disini,
sekarang dan besok
***
ternyata aku sudah menikah....
Selasa, 22 Februari 2011
ini aku
aku,
pengulang salah yang tulus menyayangimu dengan banyak alasan,
si banyak kekurangan dan akan terus mencintaimu tanpa syarat.
inilah aku.
pengulang salah yang tulus menyayangimu dengan banyak alasan,
si banyak kekurangan dan akan terus mencintaimu tanpa syarat.
inilah aku.
Senin, 21 Februari 2011
kata orang...
Kata orang, ibu hamil :
kata orang (lagi), ibu hamil :
pokoknya harus berpikir positif dan bahagia selalu
Kenapa?
karena bisa mempengaruhi psikologis bayi nanti.
Pertanyaan saya selanjutnya, (bukan dari orang lain) :
Bayangkan, bila ibu hamil harus diam, tidak berpendapat dan tidak berekspresi bila diperlakukan seperti apapun. Menurut saya, asalkan tindakan ibu hamil tersebut masih bermuatan positif, solutif dan tidak berlebihan ya tidak masalah.
Mungkin ungkapan orang lain diatas tadi untuk menyikapi agar ibu hamil lebih berpikir positif dalam kesehariannya, bukan untuk mematikan peran dan perasaan. Yups, itulah kekhususan ibu hamil, sikap, reaksi dan tindakannya lebih diperhatikan orang lain, dibandingkan orang yang tidak hamil dengan segala sikap negatifnya.
Atau seharusnya pernyataan diubah menjadi ditujukan pada orang-orang sekitar ibu hamil,
Bagi saya, tak mengapa saya berbicara (yang kata orang protes), bersedih, menangis, kecewa dan beragam emosi lainnya. Toh saya juga memiliki canda, tawa, bahagia, sayang dan cinta (jiaaahh)..
Pesan Bun,
Nak, didunia itu tidak hanya akan ada bahagia, tapi juga ada tangis.
Engkau akan berani berkata benar dengan santun dan berilmu, sehingga engkau tak hanya diam dan menunggu,
Engkau mungkin akan merasakan ketidaknyamanan, namun agar engkau mampu bertindak untuk perbaikan,
Bisa jadi engkau akan merasakan kesulitan agar mampu bangun untuk meraih kemudahan dan kesuksesan,
Engkau akan memiliki rasa ketidaksukaan pada kekerasan, karena engkau memiliki kelembutan dan rasa cinta,
Engkau akan bisa merasakan empati kepada orang lain bila memiliki kesedihan dan air mata,
Dan Engkau pun akan mengalami ketidakberdayaan, agar selalu mengingat dan kembali pada Yang Maha Memiliki Daya Upaya..
Anakku sayang,
Ayah dan Bunbun sayang padamu
Selamat (hampir) lahir kedunia nak.
Kecup sayang dari sini, tapi Bun ngga bisa, jadi titip Ayah aja ya ^^
*terinspirasi obrolan Bun pada seorang sahabat, makasih Tante Vinna Dien..
- tak boleh marah,
- tak boleh protes,
- tak boleh kesal,
- tak boleh memendam perasaan,
- tak boleh sedih,
- tak boleh menangis.
kata orang (lagi), ibu hamil :
pokoknya harus berpikir positif dan bahagia selalu
Kenapa?
karena bisa mempengaruhi psikologis bayi nanti.
Pertanyaan saya selanjutnya, (bukan dari orang lain) :
- bagaimana bila berada dalam kondisi ibu hamil harus marah?
- apa yang harus dilakukan kalau ibu hamil harus memprotes sesuatu? sedangkan memendam perasaaan pun tak boleh?
- bagaimana bila kondisi membuat ibu hamil menjadi kesal?
- apakah semua perasaan harus dipendam menunggu sampai tidak hamil lagi?
- bagaimana bila orang-orang sekitar dan lingkungan membuat ibu hamil harus sedih?
- dan apakah airmata bisa dibendung?
Bayangkan, bila ibu hamil harus diam, tidak berpendapat dan tidak berekspresi bila diperlakukan seperti apapun. Menurut saya, asalkan tindakan ibu hamil tersebut masih bermuatan positif, solutif dan tidak berlebihan ya tidak masalah.
Mungkin ungkapan orang lain diatas tadi untuk menyikapi agar ibu hamil lebih berpikir positif dalam kesehariannya, bukan untuk mematikan peran dan perasaan. Yups, itulah kekhususan ibu hamil, sikap, reaksi dan tindakannya lebih diperhatikan orang lain, dibandingkan orang yang tidak hamil dengan segala sikap negatifnya.
Atau seharusnya pernyataan diubah menjadi ditujukan pada orang-orang sekitar ibu hamil,
- jangan membuat ibu hamil sedih
- jangan membuat ibu hamil marah
- jangan membuat ibu hamil menangis
Bagi saya, tak mengapa saya berbicara (yang kata orang protes), bersedih, menangis, kecewa dan beragam emosi lainnya. Toh saya juga memiliki canda, tawa, bahagia, sayang dan cinta (jiaaahh)..
Pesan Bun,
Nak, didunia itu tidak hanya akan ada bahagia, tapi juga ada tangis.
Engkau akan berani berkata benar dengan santun dan berilmu, sehingga engkau tak hanya diam dan menunggu,
Engkau mungkin akan merasakan ketidaknyamanan, namun agar engkau mampu bertindak untuk perbaikan,
Bisa jadi engkau akan merasakan kesulitan agar mampu bangun untuk meraih kemudahan dan kesuksesan,
Engkau akan memiliki rasa ketidaksukaan pada kekerasan, karena engkau memiliki kelembutan dan rasa cinta,
Engkau akan bisa merasakan empati kepada orang lain bila memiliki kesedihan dan air mata,
Dan Engkau pun akan mengalami ketidakberdayaan, agar selalu mengingat dan kembali pada Yang Maha Memiliki Daya Upaya..
Anakku sayang,
Ayah dan Bunbun sayang padamu
Selamat (hampir) lahir kedunia nak.
Kecup sayang dari sini, tapi Bun ngga bisa, jadi titip Ayah aja ya ^^
*terinspirasi obrolan Bun pada seorang sahabat, makasih Tante Vinna Dien..
Sabtu, 19 Februari 2011
transjakarta koridor ix, solusi bun untuk pulang?
Sebentar lagi, aku segera cabut dari kost-an di Tebet untuk kembali PP Tebet-Cengkareng. Selain boros, aku juga mau membiasakan diri lagi pulang pergi ngebis, udah gitu males juga euy disana, suka kangen sama rumah cengkareng, apa sih hehehe.
Namun, karena jalur Pancoran-Grogol yang biasa ditempuh menggunakan P46 atau P6, sekarang ngga bisa lagi. Tergantikan dengan Transjakarta koridor IX. aku sudah beberapa kali mencoba jalur busway ini kalau weekend dengan transit di grogol, lanjut ke jalur Kalideres, entahlah koridor berapa.
Dari pengalaman kemarin, berikut kesulitan yang kemungkinan akan aku hadapi kedepan :
1. Di halte pancoran ngga ada petugas yang atur turun naik penumpang dari bus, jadi penumpang agak crowded, so hukum rimba dan hukum sikut berlaku deh... padahal halte ini selalu rame karena strategis. Aku liat banyak petugas yang berkumpul di tempat beli tiket, ngobrol, dll, ngga tersentuh tuh jiwa membantunya (atau semangat kerjanya ya?).
2. Jam pulang kerja selalu penuh, mungkin armada yang kurang kali ya. Apalagi jalur macet yang dilalui membuat jarak tempuh jadi lebih lama, siap-siap bawa betis cadangan.
3. Jalurnya masih tetep macet, terutama dari semanggi ke slipi, katanya sih karena jalur bus bersinggungan dengan pintu tol. Lalu di slipi palmerah yang emang semrawut, udah sering banget bustrans keluar jalur, baru deh bisa jalan, sampe nyenggol2 ke kiri menuju trotoar gitu, ngeriii...
4. Tangga & jalur penumpang berliku dan jauh, uhh.. ada ngga sih yang bisa memperpendek jarak, serasa masuk ke dalam labirin sambil diajak ber-ular tangga. Belum lagi kalo hujan, licin.. ini aku alami di halte Grogol dan Tugu Pancoran.
5. Klo arah berangkat (Grogol ke Pancoran) ada satu halte yang aku ngga tau kenapa, bisa berhenti lama banget. Halte Kuningan. bisa 15menit sendiri. aku berangkat jam 6.15 dari rumah, mepet, berangkat jam 6 juga hampir telat, nyoba jam 6 kurang sama aja. selalu terhambat di halte ini, kenapa ya?
6. aku pikirkan juga, kalo orang-orang pulang setelah jam 22.00, naik apa ya? bustrans udah ngga beroperasi, bus sejalur juga udah dieliminasi. weww... Jakarta semakin ngga ramah..
7. Yang paling aku harapkan dan kayaknya susah terwujud, yaitu ada mushola dan toilet di halte, mimpi kali ya. Hmm..paling ngga halte-halte transit yang besar dan ramai, contoh : harmoni dan grogol. ngarep banget. Kabulkan ya Alloh. amin.
Setelah melahirkan nanti, mungkin naik motor ke kantor jadi pertimbangan juga, haii akechi.. bun kangen nih ^^. Sepertinya bisa mempercepat waktu aku untuk bisa ketemu adek mungil dirumah..
Oke, untuk kali ini menyemangati diri ya kalo tantangan di depan begitu besar, yang tangguh ya nak.. (yel buat bun maksudnya, hee)
Namun, karena jalur Pancoran-Grogol yang biasa ditempuh menggunakan P46 atau P6, sekarang ngga bisa lagi. Tergantikan dengan Transjakarta koridor IX. aku sudah beberapa kali mencoba jalur busway ini kalau weekend dengan transit di grogol, lanjut ke jalur Kalideres, entahlah koridor berapa.
Dari pengalaman kemarin, berikut kesulitan yang kemungkinan akan aku hadapi kedepan :
1. Di halte pancoran ngga ada petugas yang atur turun naik penumpang dari bus, jadi penumpang agak crowded, so hukum rimba dan hukum sikut berlaku deh... padahal halte ini selalu rame karena strategis. Aku liat banyak petugas yang berkumpul di tempat beli tiket, ngobrol, dll, ngga tersentuh tuh jiwa membantunya (atau semangat kerjanya ya?).
2. Jam pulang kerja selalu penuh, mungkin armada yang kurang kali ya. Apalagi jalur macet yang dilalui membuat jarak tempuh jadi lebih lama, siap-siap bawa betis cadangan.
3. Jalurnya masih tetep macet, terutama dari semanggi ke slipi, katanya sih karena jalur bus bersinggungan dengan pintu tol. Lalu di slipi palmerah yang emang semrawut, udah sering banget bustrans keluar jalur, baru deh bisa jalan, sampe nyenggol2 ke kiri menuju trotoar gitu, ngeriii...
4. Tangga & jalur penumpang berliku dan jauh, uhh.. ada ngga sih yang bisa memperpendek jarak, serasa masuk ke dalam labirin sambil diajak ber-ular tangga. Belum lagi kalo hujan, licin.. ini aku alami di halte Grogol dan Tugu Pancoran.
5. Klo arah berangkat (Grogol ke Pancoran) ada satu halte yang aku ngga tau kenapa, bisa berhenti lama banget. Halte Kuningan. bisa 15menit sendiri. aku berangkat jam 6.15 dari rumah, mepet, berangkat jam 6 juga hampir telat, nyoba jam 6 kurang sama aja. selalu terhambat di halte ini, kenapa ya?
6. aku pikirkan juga, kalo orang-orang pulang setelah jam 22.00, naik apa ya? bustrans udah ngga beroperasi, bus sejalur juga udah dieliminasi. weww... Jakarta semakin ngga ramah..
7. Yang paling aku harapkan dan kayaknya susah terwujud, yaitu ada mushola dan toilet di halte, mimpi kali ya. Hmm..paling ngga halte-halte transit yang besar dan ramai, contoh : harmoni dan grogol. ngarep banget. Kabulkan ya Alloh. amin.
Setelah melahirkan nanti, mungkin naik motor ke kantor jadi pertimbangan juga, haii akechi.. bun kangen nih ^^. Sepertinya bisa mempercepat waktu aku untuk bisa ketemu adek mungil dirumah..
Oke, untuk kali ini menyemangati diri ya kalo tantangan di depan begitu besar, yang tangguh ya nak.. (yel buat bun maksudnya, hee)
Senin, 31 Januari 2011
cengengnya bunbun... (_ _!)
Many things happen :D bisa untuk pelajaran, sayang juga kalo di lupakan
Satu : Mba di Patas 46
Kejadiannya waktu kira-kira kehamilan 3 bulan. Setiap pulang kantor biasanya aku naik bis 46 jurusan Grogol. Walaupun selalu penuh, Alhamdulillah kali ini aku dapet duduk. Tepatnya di deret paling belakang. Posisi duduk : pojokan (kosong), si mba-mba (tersangka yang akan aku bahas), aku, penumpang lain-lain.
Nah, aku liat mba ini ga mau geser ke pojokan yang kosong, ia malah naro tas nya di pojokan itu, padahal bis lama-kelamaan penuh, kasian banyak penumpang yang berdiri. Aku coba menegur untuk geser ke pojokan, tapi si mba ga respon, ga tau kenapa. Lama kelamaan aku sering geser aja pake badan, tapi ga bergerak juga, dia malah sibuk megangin hidungnya karena lagi pilek, bunyi-bunyi soalnya. Aku sebel sampe ketiduran (padahal ga sebel juga di bis pasti tidur :D). Sampe rumah aku cuman manyun trus nangis dikit. Mas bingung, aku bilang lagi sensi ajah.
Dua : Petugas busway yang sokteu
Waktu itu kira-kira kehamilan 4 bulan. Perutku belum keliatan besar. Pulang kerja aku mencoba jalur berbeda : kantor-pancoran-dukuh atas (metromini 640)-busway harmoni-busway kalideres. Nyoba jalur baru karena menurut info dari Mas, di harmoni ada jalur khusus ibu hamil. Sesampai di Harmoni, antrian ke Kalideres udah mengular, aku pede aja kedepan, yang aku pikir jalur ibu hamil, tapi disana kosong, mungkin antrian sebelumnya udah naik.
Aku tanya ke petugas : “Pak, maaf ini jalur ke Kalideres?”, aku baru mau melanjutkan pertanyaan apa bener ini jalur ibu hamil, eh si petugas langsung ngeloyor pergi ke arah antrian paling depan trus pidato keras2 di depan orang banyak sambil ngeliat ke aku, “ibu liat ngga? Disini antrian ke kalideres banyak sekali, ibu malah maju kedepan, sudah banyak yang antri disini dan ngga rela kalo ibu nyerobot duluan, antri di belakang dong Bu.. ”
Hiks, tanpa sempat membela diri menjawab apa-apa, aku langsung ngeloyor ke antrian, orang2 ngliatin aku, malu… trus jadi ragu juga, kalo di harmoni ini ada jalur khusus ibu hamil.
Sambil berkaca-kaca, aku sms Mas, trus akhirnya di telepon, nangis deh… ngantri sambil ngadu sesenggukan huhuhu…
“huu dasar petugas sokteu, bukannya dengerin dulu, malah mempermalukan orang”
“hiks.. mas kan baik banget sama perempuan, kok aku ga dibaikin.. hiks”
“biar aja Alloh yang bales..”
Tapi akhirnya pas sampe depan, petugas tengil tadi ngga ada, aku bilang ke petugas lain, kalo aku hamil trus dapet deh jalur prioritas naik duluan & duduk.. akhirnya, walau harus lewat antrian panjang yang bikin pegel.
Tiga : Sholat jamaah yang berairmata
Di kantorku cuma ada satu mushola dan ga begitu besar, hanya berisi 4 shaf. Satu shaf kira-kira untuk 5-6 orang. Shaft pertama untuk satu orang aja, imam lah ya, sedangkan shaft terakhir hanya bisa untuk 3 orang, karena kepotong pintu dan rak mukena. Nah, di shaft terakhir inilah aku biasanya sholat bersama jamaah muslimah lainnya, yang memang pegawai wanitanya sedikit.
Biasanya ndak pernah ada masalah kalo kami (muslimah) ikut di shaft terakhir itu. Cuma beberapa hari belakangan, di sholat gelombang pertama (setelah adzan) lebih rame dari biasanya, dan saat itu aku sering sholat sendiri (mungkin temanku sedang berhalangan), kadang aku mengalah juga (ok, bukan ngalah sih, tapi pengertian karena wudhu belakangan), beberapa kali membiarkan jamaah bapak2 memakai shaft terakhir itu, karena bisa maksimal dipakai 3 orang.
Tapi di hari itu aku kepingin banget sholat duluan, walaupun ngga ada temen muslimah lain. Mungkin karena aku mudah batal wudhu (maklumlah..), juga aku berpikir, sholat kan bisa bertahap, yang wudhu belakangan masih bisa sholat setelah gelombang pertama selesai, no problemo kan... dan... yang terjadi beberapa bapak-bapak di shaft depan "mengusir" aku, untuk sholat belakangan, karena cuma sendiri, lebih baik shaft itu dipakai bapak2 yang sedang mengantri juga. Kata2 itu bersahut-sahutan, semua seakan setuju..grrr... emosi juga, aku pingin menjawab, tapi airmata keluar duluan, akhirnya aku pergi dari jamaah sholat, masih memakai mukena menuju meja kerjaku.
Sejak saat itu aku ngga pernah lagi sholat di gelombang pertama, males ketemu dengan wajah2 pengusir jamaah sholat... aku sih punya argumen (dan akhirnya sempat tersampaikan juga):
1. Sejak dulu juga ga masalah muslimah sholat di shaft terakhir itu
2. Harusnya fair dong, kalo wudhu belakangan ya sholat ikut antrian, jangan dateng belakangan maunya duluan, apa ituh? aku juga fair kok, kalo dateng belakangan ya sholatnya sesuai aja.
toh sholat belakangan juga berjamaah, lagipula kalo aku mundur, yang bisa sholat cuman 3 orang, trus yang lain?
3. Trus aku dikenakan syarat, kalo mau sholat jamaah, harus mengumpulkan 2 jamaah muslimah lagi, syarat yang aneh. aku juga bisa buat syarat, kalo mau sholat jamaah yg full laki2 , kumpulkan dong jamaah laki2 itu, suruh siap sholat buru2 di gelombang awal, jangan maunya dateng belakangan tapi minta diistimewakan. orba juga.
4. Kalo mau solusi lebih konkrit, buatkan kami mushola khusus muslimah dong, aku juga ga pingin2 banget sholat sama mereka kalo ngga kepepet.
huh, jadi emosi juga nulis ini :p
Empat: Annoying person
Ada tiga kejadian :
Satu. Waktu itu di busway, ada dua orang ngobrol di depanku, ngobrol banyaaaaak banget. Aku kurang suka dengernya, karena berisik, laki-laki, suaranya nyaring dan berlogat salah satu suku, maaf ya bukan sara, tapi emang kedengeran lembut tapi ngga berhenti2 ngomongnya dan ngga berspasi. Pingin aku suruh diem sambil aku getok, tapi kan mereka ngga salah ya…
Dua. temen kantor aku. Dia ini sih ga banyak omong, tapi banyak komen. Di awal-awal hamil dia sering ngajak aku ngobrol, kalo dia dateng ke mejaku, kalo aku dateng ke seksi-nya, ketemu di toilet, ketemu di aula, dimanapun, pasti ada aja yg diobrolin, menyenangkan sih awalnya, tapi kok lama2 aku ngga nyaman dg komen2nya. Hmm.. biasanya bernada kurang enak dan kurang penting dibahas. Misalnya barang apa yang aku bawa, ditanyakanlah olehnya, ketemu aku dijalan yg emang lagi diem (karna mau milih tempat sarapan) dibahas juga. Aku butuh sesuatu ke tempatnya dibahas, aku muntah dibahas, apa yang aku lakukan trus dia liat dibahas.. semuanya dehhh, want to know banget.. sampe sekarang kalo ketemu dia aku suka pura-pura ngumpet gitu hahahhaha.. lebay ngga sih
Sebenernya ga ada yg salah dg dia kali ya, tp buat aku ni temen bagaikan alien, ups..
Tiga, ini sih ngga spesifik pelakunya, agak panik juga kalo deket2 sama orang yang banyak geraknya, biasanya ini rawan terjadi di dalam bus (kalo berdiri) atau di antrian sesuatu atau kalo berdesakan lah. Biasanya orang2 ini berdiri di samping atau depanku. Sambil ngobrol atau entah ngapain, tapi sambil nggerak-nggerakin tangannya, aku udah berusaha ngeles, masih bagus kalu “cuma” dapet kibasan rambut, tapi susah juga menghindar gerakannya yang ngga terprediksi, tas atau sikutnya kena perut ku deh… lumayaaan…
Peringatan buat kita semua, kalo di tempat rame jangan terlalu banyak gerak ya, gaya kanan, gaya kiri, karena siapa tau di belakang atau di samping anda ada ibu hamil yang sibuk menghindar dari rambut, tas dan atau sikut anda, kasian kan…
***
Banyak ya ujian psikisnya, harus banyak banyak bersabar, harus pinter-pinter menjaga mood, walaupun ga hamil ya memang mesti banyak sabar, tapi demi kenyamanan adek & perilakunya nanti, jangan kayak bunbun-nya ini, hikss...
Jangan terpengaruh sikap jelek bun-mu ini ya nak sholeh.. love you...
Satu : Mba di Patas 46
Kejadiannya waktu kira-kira kehamilan 3 bulan. Setiap pulang kantor biasanya aku naik bis 46 jurusan Grogol. Walaupun selalu penuh, Alhamdulillah kali ini aku dapet duduk. Tepatnya di deret paling belakang. Posisi duduk : pojokan (kosong), si mba-mba (tersangka yang akan aku bahas), aku, penumpang lain-lain.
Nah, aku liat mba ini ga mau geser ke pojokan yang kosong, ia malah naro tas nya di pojokan itu, padahal bis lama-kelamaan penuh, kasian banyak penumpang yang berdiri. Aku coba menegur untuk geser ke pojokan, tapi si mba ga respon, ga tau kenapa. Lama kelamaan aku sering geser aja pake badan, tapi ga bergerak juga, dia malah sibuk megangin hidungnya karena lagi pilek, bunyi-bunyi soalnya. Aku sebel sampe ketiduran (padahal ga sebel juga di bis pasti tidur :D). Sampe rumah aku cuman manyun trus nangis dikit. Mas bingung, aku bilang lagi sensi ajah.
Dua : Petugas busway yang sokteu
Waktu itu kira-kira kehamilan 4 bulan. Perutku belum keliatan besar. Pulang kerja aku mencoba jalur berbeda : kantor-pancoran-dukuh atas (metromini 640)-busway harmoni-busway kalideres. Nyoba jalur baru karena menurut info dari Mas, di harmoni ada jalur khusus ibu hamil. Sesampai di Harmoni, antrian ke Kalideres udah mengular, aku pede aja kedepan, yang aku pikir jalur ibu hamil, tapi disana kosong, mungkin antrian sebelumnya udah naik.
Aku tanya ke petugas : “Pak, maaf ini jalur ke Kalideres?”, aku baru mau melanjutkan pertanyaan apa bener ini jalur ibu hamil, eh si petugas langsung ngeloyor pergi ke arah antrian paling depan trus pidato keras2 di depan orang banyak sambil ngeliat ke aku, “ibu liat ngga? Disini antrian ke kalideres banyak sekali, ibu malah maju kedepan, sudah banyak yang antri disini dan ngga rela kalo ibu nyerobot duluan, antri di belakang dong Bu.. ”
Hiks, tanpa sempat membela diri menjawab apa-apa, aku langsung ngeloyor ke antrian, orang2 ngliatin aku, malu… trus jadi ragu juga, kalo di harmoni ini ada jalur khusus ibu hamil.
Sambil berkaca-kaca, aku sms Mas, trus akhirnya di telepon, nangis deh… ngantri sambil ngadu sesenggukan huhuhu…
“huu dasar petugas sokteu, bukannya dengerin dulu, malah mempermalukan orang”
“hiks.. mas kan baik banget sama perempuan, kok aku ga dibaikin.. hiks”
“biar aja Alloh yang bales..”
Tapi akhirnya pas sampe depan, petugas tengil tadi ngga ada, aku bilang ke petugas lain, kalo aku hamil trus dapet deh jalur prioritas naik duluan & duduk.. akhirnya, walau harus lewat antrian panjang yang bikin pegel.
Tiga : Sholat jamaah yang berairmata
Di kantorku cuma ada satu mushola dan ga begitu besar, hanya berisi 4 shaf. Satu shaf kira-kira untuk 5-6 orang. Shaft pertama untuk satu orang aja, imam lah ya, sedangkan shaft terakhir hanya bisa untuk 3 orang, karena kepotong pintu dan rak mukena. Nah, di shaft terakhir inilah aku biasanya sholat bersama jamaah muslimah lainnya, yang memang pegawai wanitanya sedikit.
Biasanya ndak pernah ada masalah kalo kami (muslimah) ikut di shaft terakhir itu. Cuma beberapa hari belakangan, di sholat gelombang pertama (setelah adzan) lebih rame dari biasanya, dan saat itu aku sering sholat sendiri (mungkin temanku sedang berhalangan), kadang aku mengalah juga (ok, bukan ngalah sih, tapi pengertian karena wudhu belakangan), beberapa kali membiarkan jamaah bapak2 memakai shaft terakhir itu, karena bisa maksimal dipakai 3 orang.
Tapi di hari itu aku kepingin banget sholat duluan, walaupun ngga ada temen muslimah lain. Mungkin karena aku mudah batal wudhu (maklumlah..), juga aku berpikir, sholat kan bisa bertahap, yang wudhu belakangan masih bisa sholat setelah gelombang pertama selesai, no problemo kan... dan... yang terjadi beberapa bapak-bapak di shaft depan "mengusir" aku, untuk sholat belakangan, karena cuma sendiri, lebih baik shaft itu dipakai bapak2 yang sedang mengantri juga. Kata2 itu bersahut-sahutan, semua seakan setuju..grrr... emosi juga, aku pingin menjawab, tapi airmata keluar duluan, akhirnya aku pergi dari jamaah sholat, masih memakai mukena menuju meja kerjaku.
Sejak saat itu aku ngga pernah lagi sholat di gelombang pertama, males ketemu dengan wajah2 pengusir jamaah sholat... aku sih punya argumen (dan akhirnya sempat tersampaikan juga):
1. Sejak dulu juga ga masalah muslimah sholat di shaft terakhir itu
2. Harusnya fair dong, kalo wudhu belakangan ya sholat ikut antrian, jangan dateng belakangan maunya duluan, apa ituh? aku juga fair kok, kalo dateng belakangan ya sholatnya sesuai aja.
toh sholat belakangan juga berjamaah, lagipula kalo aku mundur, yang bisa sholat cuman 3 orang, trus yang lain?
3. Trus aku dikenakan syarat, kalo mau sholat jamaah, harus mengumpulkan 2 jamaah muslimah lagi, syarat yang aneh. aku juga bisa buat syarat, kalo mau sholat jamaah yg full laki2 , kumpulkan dong jamaah laki2 itu, suruh siap sholat buru2 di gelombang awal, jangan maunya dateng belakangan tapi minta diistimewakan. orba juga.
4. Kalo mau solusi lebih konkrit, buatkan kami mushola khusus muslimah dong, aku juga ga pingin2 banget sholat sama mereka kalo ngga kepepet.
huh, jadi emosi juga nulis ini :p
Empat: Annoying person
Ada tiga kejadian :
Satu. Waktu itu di busway, ada dua orang ngobrol di depanku, ngobrol banyaaaaak banget. Aku kurang suka dengernya, karena berisik, laki-laki, suaranya nyaring dan berlogat salah satu suku, maaf ya bukan sara, tapi emang kedengeran lembut tapi ngga berhenti2 ngomongnya dan ngga berspasi. Pingin aku suruh diem sambil aku getok, tapi kan mereka ngga salah ya…
Dua. temen kantor aku. Dia ini sih ga banyak omong, tapi banyak komen. Di awal-awal hamil dia sering ngajak aku ngobrol, kalo dia dateng ke mejaku, kalo aku dateng ke seksi-nya, ketemu di toilet, ketemu di aula, dimanapun, pasti ada aja yg diobrolin, menyenangkan sih awalnya, tapi kok lama2 aku ngga nyaman dg komen2nya. Hmm.. biasanya bernada kurang enak dan kurang penting dibahas. Misalnya barang apa yang aku bawa, ditanyakanlah olehnya, ketemu aku dijalan yg emang lagi diem (karna mau milih tempat sarapan) dibahas juga. Aku butuh sesuatu ke tempatnya dibahas, aku muntah dibahas, apa yang aku lakukan trus dia liat dibahas.. semuanya dehhh, want to know banget.. sampe sekarang kalo ketemu dia aku suka pura-pura ngumpet gitu hahahhaha.. lebay ngga sih
Sebenernya ga ada yg salah dg dia kali ya, tp buat aku ni temen bagaikan alien, ups..
Tiga, ini sih ngga spesifik pelakunya, agak panik juga kalo deket2 sama orang yang banyak geraknya, biasanya ini rawan terjadi di dalam bus (kalo berdiri) atau di antrian sesuatu atau kalo berdesakan lah. Biasanya orang2 ini berdiri di samping atau depanku. Sambil ngobrol atau entah ngapain, tapi sambil nggerak-nggerakin tangannya, aku udah berusaha ngeles, masih bagus kalu “cuma” dapet kibasan rambut, tapi susah juga menghindar gerakannya yang ngga terprediksi, tas atau sikutnya kena perut ku deh… lumayaaan…
Peringatan buat kita semua, kalo di tempat rame jangan terlalu banyak gerak ya, gaya kanan, gaya kiri, karena siapa tau di belakang atau di samping anda ada ibu hamil yang sibuk menghindar dari rambut, tas dan atau sikut anda, kasian kan…
***
Banyak ya ujian psikisnya, harus banyak banyak bersabar, harus pinter-pinter menjaga mood, walaupun ga hamil ya memang mesti banyak sabar, tapi demi kenyamanan adek & perilakunya nanti, jangan kayak bunbun-nya ini, hikss...
Jangan terpengaruh sikap jelek bun-mu ini ya nak sholeh.. love you...
Langganan:
Postingan (Atom)