Sabtu, 02 April 2011

menunggu kehilangan

Tak akan ada yang bisa lepas dari kematian, misterinya hanya Alloh yang Tahu dan Maha Menentukan.  Kita pasti akan bertemu dengan kematian, entah kapan dan dengan cara apa. Bila belum bertemu dengan kematian, bisa jadi kita akan berhadapan dengan kematian orang-orang terdekat yang kita cintai. Sehingga meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal biasa dalam hidup, yang terpenting adalah mengisi bekal terbaik untuk kehidupan setelah kematian.

Aku termasuk orang yang paham teori ini, sudah lama… tapi tak mengira bila harus aku yang mengalami kejadian ini.  Sampai ditinggal Ibu, 1,5 tahun yang lalu, hampir tak percaya, tak sadar dan hampir tak bisa menerima kenyataan bila kematian tidak milik orang lain saja, aku juga…

Agustus 2009, awal mulai mengerti pelajaran kematian ini. Saat itu aku harus berada di rumah sakit dan ruangan bernama Ruang Tunggu ICU. Hari pertama datang aku hanya menangis melihat ibu didorong  tak berdaya diatas ranjang dengan berbagai selang dipasang di tubuhnya untuk kemudian masuk ke ruang ICU, kami tidak boleh masuk. Aku dan keluarga, hanya menangis sambil sesekali dihibur oleh kerabat yang datang. Aku melihat di selasar lorong banyak keluarga penunggu pasien, karena tidak muat lagi berada di dalam ruang tunggu. Setiap keluarga hanya dibatasi tas atau perbedaan alas duduk. Aku melihat mereka yang kebingungan melihat kami yang sedang histeris, seakan-akan mereka tahu apa yang aku rasakan dan mengatakan “selamat datang di dunia nyata ini, sayang…”

Karena jam besuk yang terbatas (jam 12-13 dan jam 19-20) dan ada panggilan sewaktu-waktu dari petugas medis maka kami sekeluarga harus siaga dan bergantian menunggu diluar ruang ICU. Akhirnya kamipun menjadi bagian dari barisan selasar rumah sakit. Kami menggelar tikar panjang, ada tas sebagai bantal, jaket, minum dan sedikit makanan. Pada satu waktu kami bisa saja maju beberapa petak porselen karena ada keluarga pasien yang pindah atau bahkan mengangkat seluruh perangkat karena ada razia dari manajemen rumah sakit.

Dari pengalaman ini aku baru mengerti apa yang dimaksud ruang ICU itu, telat ya… boleh dikatakan, ICU ini ruang yang paling menegangkan, semua perawat difungsikan maksimal, karena kekritisan kondisi pasien, sedang disebelahnya ada ruang Intermediate ICU (lupa apa sebutannya), pasien yang dirawat lebih ringan tingkat kekritisannya dan boleh dijenguk keluarga tanpa dibatasi jam, kecuali pengunjung non penunggu tentu saja dan... pasien yang dirawat masih  memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik dari pasien ICU.

Hari-hari pertama aku berada disana, ada kejadian yang membuat aku kaget.. tiba-tiba ada ranjang keluar dari ruang ICU, pasien ditutup selimut, meninggal. Keluarga sebelahku berbisik.. “itu pasien di bangsal sekian.. iya, yang sakit…, sudah beberapa hari..hhuuufftt..” tak lama kemudian kami bergeser pindah tempat karena ada keluarga yang pergi dan membereskan peralatannya, rupanya keluarga pasien yang meninggal tadi.

Semakin lama, hal ini menjadi kebiasaan. Semua keluarga penunggu yang berada disana, harus bersiap dengan panggilan perawat yang mendadak, karena bisa jadi pasien dalam keadaan kritis. Sedangkan kami tak perlu khawatir bila dipanggil pada jam-jam tertentu yang dipanggil untuk diberi resep obat, yaitu sekitar jam 7.30 pagi atau jam 20.00 malam bila ada panggilan konsultasi dokter.  Selain jam-jam tersebut, kami hanya saling beradu pandang bila ada nama pasien yang disebut untuk memanggil keluarganya…

Pada saat jam besuk dibuka, seluruh keluarga telah mengantri di depan pintu ruangan dan mengambil baju khusus, rebutan pula. Dua jam perhari itu sangat kami manfaatkan untuk bertemu Ibu. Mengajaknya ngobrol, mendoakan atau sekedar memeluk dan menyentuhnya. Kadang ada perasaan enggan untuk masuk, kami tidak bisa menerima kenyataan melihat ibu tersiksa. Tubuhnya dingin, dipasang alat bantu pernafasan, belasan infuse dan bengkak di beberapa bagian. Namun. Inilah yang harus dihadapi, siapa yang akan menemui Ibu jika bukan kami, aku mencoba tegar dan terlihat biasa saat berkomunikasi dengan ibu, walau hati ini terasa pedih tersayat. Sedang kakakku kadang tidak sanggup, melihat ibu hanya menangis, lalu keluar, karena tidak ingin ibu melihat kami sedih lalu pesimis.

Di rumah malam harinya, aku selalu memikirkan ibu menanggung rasa sakitnya, sedang aku tidur dan makan dengan nyaman. Saat itu aktivitasku terasa hampa, tak bermakna, semua seperti berpura-pura. Makan terasa sakit di tenggorokan, kulit kering, sariawan dan tidak ada semangat kecuali untuk segera menemui Ibu.

Semakin lama, kami semakin akrab dengan sesama keluarga penunggu. Terutama yang memiliki masa tunggu yang sama. Posisinya semakin bergeser mendekat. Keakraban kadang diselingi canda, namun tetap miris, seperti terpaksa. Membicarakan keuangan dan biaya yang mahal, dan entah darimana kami mengusahakannya namun ada saja rezeki tersebut, yang dicandakan bahwa “uang yang ada dan bertebaran diruang tunggu ini tak akan hilang diambil, karena beraroma infuse dan obat…” , juga membicarakan keluarga dan kesehatan pasien masing-masing, ini yang biasanya membuat iri hati. Aku iri terhadap satu keluarga yang menunggu ayahnya di Intermediate, huuhh… sang ayah mengalami pendarahan di otak, diduga karena fisiknya terlalu lelah, kemungkinan karena ia adalah guru olahraga.

Diumpamakan pula istilah naik kelas/naik pangkat, yaitu bila pasien Intermediate berhasil pindah ke rawat jalan, atau pasien ICU berhasil pindah ke Intermediate atau langsung ke rawat jalan. Iri. Sedang Ibu termasuk pasien yang menghuni lama di dalam ruang ICU, kurang lebih 28hari.

Berbagai macam keluarga aku temui, banyak pelajaran berharga mengenai perhatian, kasih sayang, kesedihan dan pengorbanan keluarga.  Kami semua merasakan berada dalam kondisi ketidakjelasan dan terombang-ambing, namun tidak boleh lemah atau sakit. Seperti berdiri tegak sambil diiris-iris.

Satu waktu, pasien sebelah ibu, yang dalam keadaan koma, akhirnya meninggal dunia, seorang laki-laki keturunan, saat jam besuk aku sering melihat banyak pendeta (atau rahib ya? ) yang datang untuk mendoakan bapak itu. Keluarganya pun terlihat siap dengan kematiannya, ada yang mengatakan ingin segera berbagi warisan, namun aku pikir keluarga sudah pasrah karena sudah lama koma, sehingga terlihat biasa saja.

Lalu ada seorang laki-laki berusia 45an tahun. Tersenyum indah, istrinya lulus masuk ke rawat jalan. Ia bercerita istrinya memang sering sesak mendadak dan beberapa kali masuk keluar ruang ICU, namun Alhamdulillah menurut dokter kali ini bisa pindah ke ruang perawatan, semoga tidak masuk ke ruang menyeramkan ini lagi.

Penunggu disebelahku ada beberapa anak muda, katanya menunggu paman mereka yang organ pencernaannya sudah tak berfungsi, entah apa, aku pun kurang paham, sehingga diperlukan alat bantu. Sang Paman pun sudah dirawat lebih dahulu daripada Ibu. Tak berapa lama ia pun meninggal.

Kemudian ada pula seorang anak, mungkin usianya baru 12-13 tahun. Masuk ruang ICU karena kecelakaan motor, tidak memakai helm dan melawan arus. Kepalanya diperban dan memakai alat bantu pernafasan. Sang Ibu yang mendampinginya, tidak banyak berbicara pada kami, wajahnya terlihat tegang dan bingung. Yang aku dengar, suami nya belum lama meninggal dan ia masih memiliki satu anak lagi. Beberapa hari kemudian anak itu meninggal, sang ibu sering kali terlihat ada di tangga darurat, merokok.

Satu malam ada lagi seorang laki-laki masuk ke ruang ICU, di ruang ventilasi, keluarganya seorang perempuan ( istri ) dan dua anaknya yang masih kecil mengantar. Dua anaknya terlihat sangat ceria, sepertinya belum mengerti keadaaan ayahnya. Keesokan pagi, sang ayah meninggal, si anak pun masih tetap ceria bermain, sambil mengucapkan bila boss (ayahnya) sedang sakit..

Satu keluarga lagi, keturunan Arab, yang dirawat adalah Ibu mereka, usianya masih muda, 40an tahun, dalam kondisi tidak sadar, terkena serangan darah tinggi, sehingga pembuluh darah di otaknya ada yang pecah. Keluarganya banyak menunggu diluar, tidak juga banyak bercerita pada kami. Beberapa hari kemudian, aku dengar pasien sudah keluar dari ruang ICU, entah lulus atau kemana…

Dan yang paling dekat adalah keluarga Teh Yenny, suaminya dirawat hampir selama ibu dirawat. Usianya masih muda dan baru memiliki satu anak. Hmm.. mungkin aku tidak setegar dirinya bila itu terjadi padaku. Karena tepat di awal Ramadhan, sang suami dipanggil menghadap Alloh SWT, masih berusia 33 tahun.

Setelah itu aku hampir tidak lagi mengenal keluarga pasien, semua terasa asing. Apalagi seminggu kemudian ibu mengalami kritis kemudian koma dan tidak sadar lagi.

***

Selama menunggu Ibu ini, aku memang tidak full sehari semalam, biasanya aku datang dari kantor jam 11 siang (untuk mengejar jam besuk yang jam 12.00) kemudian pulang jam 20-21an setelah jam besuk kedua, begitu setiap hari. Alhamdulillah mendapat kemudahan dari kantor untuk datang hanya dari pagi hingga jam 11 siang. Kakak pertamaku lah yang menjaga dari pagi dan mendapat giliran membeli obat, dan kadang bertemu dokter. Kecuali sabtu minggu, aku bisa ikut membeli obat.

Bila ada pilihan aku ingin segera men-skip masa ini. Terlalu perih dilalui, pelan-pelan dan menyakitkan. Aku dipaksa untuk tetap tegar dan logis menghadapi kenyataan dan mengambil langkah terbaik untuk ibu, padahal airmata ini sudah terbendung lama dan tertahan di dada, apalagi godaan untuk putus asa selalu datang. Doa bisa menenangkan, dukungan saudara dan teman-teman juga membantu tapi tidak lama. Aku tetap sakit.

Kemudian aku berpikir, di hidupku yang normal, saat menjalani aktivitas seperti biasa, menunggu bis, menunggu jemputan, menjalani hal-hal menyenangkan, tak terpikirkan disini ada segelintir orang yang sedang menunggu, setia menunggu sesuatu yang mungkin akan menyakitkan, menunggu ketentuan Alloh SWT malaikat Izrail mencabut dan membawa nyawa orang-orang yang mereka sayangi, menjalani siklus kegiatan tidak seperti biasanya, memiliki tabungan air mata atau bahkan sudah kering sama sekali.
Kematian begitu ramah disini, nyata, lewat begitu saja dan terlihat biasa. Baik untuk lebih dekat dan semakin menggantungkan diri pada Alloh SWT.

Setiap kerabat yang datang, hampir semua berkomentar, bila tiba masanya nanti, mereka tidak ingin merepotkan keluarga, tidak ingin dirawat begitu lama di rumah sakit, ia ingin langsung mati saja. Hah, seperti menyalahkan ibu ...

Ibu sama sekali tidak merepotkan kami. biaya yang dikeluarkan adalah dari uang ibu sendiri, waktu dan tenaga yang digunakan untuk menunggu pun anggaplah balas jasa atas pengorbanan ibu yang tidak akanpernah bisa kami balas. Dan sekali lagi ibu tidak perlu merasa merepotkan, kami persembahkan sebagai tanda cinta kami pada Ibu, paling tidak untuk yang terakhir kali di masa hidupnya.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kematian akan menyapa, cepat atau lambat, dirumah sakit atau bukan, dan dengan cara apapun…  jadi  anggaplah semua yang dilakukan keluarga adalah yang terbaik buat kita dan wujud kasih sayang mereka…


Jumat, 18 Maret 2011

andai

Teringat lagi, dan sepertinya tak akan pernah lupa, penyesalan besarku adalah bila mengingat ibu. Ga habis-habis… Memang, menyesal ga akan membuat ibu kembali, tapi sulit untuk mengingat ibu tidak berbarengan dengan penyesalan .
Andai  aku punya kemampuan lebih. Mampu tenaga, mampu waktu , mampu uang, aku akan lakukan lebih untuk Ibu.
Aku akan bawa ibu berobat  serius sebelum terlambat. Ga peduli walau menolak, aku bawa ibu cek-up, ikhtiar untuk sembuh. Toh, pada dasarnya ibu mau diperhatikan, hanya ibu tidak mau merepotkan anaknya.
Aku juga akan jauhkan ibu dari orang-orang yang menambah beban pikirannya, aku usir kerabat yang memicu sesak napas ibu kemarin. Aku benci mereka…
Dan yang terbesar, aku akan luangkan waktuku lebih banyak untuk ibu, menemaninya.. sekarang baru aku rasakan, waktu itu sangat berharga, andai saja… apalagi sampai sekarang kakakku masih menyinggung  sikapku dulu yang lebih mementingkan waktu untuk diri sendiri dibanding bersama ibu, sedih rasanya…
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ibu pergi menyisakan sedih dan penyesalan…
Ibu, maafin andi ya..

si keling & sang pengelana

Aku, perempuan sederhana dari keluarga kurang berada, tidak cantik, tidak juga putih dan menarik. Sejak kecil, aku suka sekali bermain di lapangan, lari-lari, memanjat pohon, mencari ikan di got, mencari tanaman di kebon, naik sepeda keliling kampung, mengolah tanah, kayu pohon & pasir jadi mainan (berani kotor itu baik :D), maka itu, ibu selalu mencari aku sepulang sekolah.

Bila aktifitas outdoor tadi dilakukan setelah pulang kerumah (tidak langsung dari sekolah), maka kakak dan ibu selalu berpesan supaya aku tidak bermain kotor-kotoran, tempat yang panas atau berhubungan dengan daun/pohon pisang, karena khawatir menimbulkan noda di pakaian dan wujud dan aromaku bisa lebih buruk ( hahaha...). gampaaang yang penting ga dilarang. Oh ya..tak jarang aku dijuluki si keling, karena saking hitamnya dan banyak bekas luka sisa-sisa kejayaan saat itu disana sini.

Di sekolah pun, aktifitasku tidak jauh berbeda. Mulai SMP, saat mulai ada pengidolaan (baik karena kecantikan atau kekayaan) di sekolah, aku pun termasuk anak yang (hampir) tidak pernah terlihat, maka itu aku mengupayakan hal lain, prestasi. Tidak terlalu menonjol sih, tapi paling tidak, bisa puas dengan hasil sendiri. Maka terbentuklah aku yang harus mencari keunggulan lain dalam diri yang bisa membuat percaya diri. Persaingan prestasi dimulai.

Teman-teman dekatku juga orang yang tidak terlalu terkenal pula, lebih nyaman bersama mereka, polos, apa adanya. Ada beberapa segelintir, tak banyak, temen-temen nge-top pun ada (dari sisi manapun) tapi sedikit, hee... sebagian dari mereka teman SD, teman berangkat ke sekolah, atau teman ya teman aja.. Jangan bicarakan lawan jenis ya, mana ada yang mau ngelirik aku.. wuahahha...

Disaat menumpuk kepercayaan diri selapis selapis, keluarga memutuskan aku harus sekolah di SMK, sama sekali bukan pilihanku, pupus deh.. waktu itu aku merasakan, apa yang aku bangun pelan-pelan ga terlalu bermanfaat. Jadilah tiga tahun di SMK rasanya datar saja..

Di akhir kelas 1 SMK aku mengalihkan konsentrasi dari prestasi ke  pencarian pohon jati. dengan bimbingan kakak kelas, aku mulai mengenal Islam, yang berlanjut ke menutup aurat. Alhamdulillah, dengan segala proses pencarian kali ini, baru sadar ternyata selama ini aku salah. Kepuasan diri bukan begini caranya, prestasi & percaya diri hanyalah sebagian kecil dari kepuasan batin. Aku mulai merasa percaya diri ketika mulai belajar islam dan bisa menjalankan sedikit-sedikit, kepuasan didapat atas pandangan Alloh, bukan pandangan manusia, ternyata masih banyak yang belum aku pelajari dan yang selama ini aku pahami banyak yang salah.

Aku masih harus banyak belajar dan proses ini tak akan pernah selesai. Fokus hidup beralih, semua terasa lebih jelas & menenangkan. Aku tidak lagi "berambisi", tidak lagi minder di depan teman-teman dan orang lain (baca: ga terlalu peduli selama aku ngga ngerugiin mereka, hee), karena mereka pun tak memikirkan aku. Cuma berpikir menabung kebaikan, cari yang benar dan belajar konsep-konsep tarbiyah untuk ngumpulin pahala dari Alloh SWT. Aku yakin kemudahan, nikmat dan ujian hidup adalah bagian dari kasih sayang Alloh dan kebaikan-kebaikan manusia adalah bonusnya. Mudah-mudahan selalu istiqomah.

Begitu juga, pandangan tentang jodoh. Sebelum hijrah aku masih berpendapat bahwa jodoh segaris lurus dengan kecantikan, kekayaan kepandaian dan sebagainya, jadi perasaan pesimis lebih banyak mendominasi. Namun sejak mengenal tarbiyah, aku semakin yakin bila Alloh Maha Menentukan, manusia tidak bisa memaksakan keinginan sendiri, serahkan pada skenarioNya saja, Alloh menjanjikan lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, begitu juga sebaliknya, berpasangan. maka tugasku hanyalah mengusahakan menjadi baik karena Alloh saja. Aku yakin, walau tidak cantik, tidak kaya, tidak pintar dan tidak banyak keunggulan juga, tapi Alloh akan memberikan seorang yang tidak mementingkan kriteria itu. Ia Maha Tahu Yang Terindah, siapa dan kapan.

Sampai tiba waktunya (menurutku sih sudah waktunya), ternyata sang pangeran belum datang juga. keluarga mulai mengkhawatirkan, aku tidak, karena sudah sangat yakin bila ia akan tiba pada waktunya nanti, urusan Alloh itu tidak perlu dipikirkan, fokuskan saja pada yang ada didepan mata, keluarga, pekerjaan, dan teman-teman (plus proyek akhirat bersama mereka).

Bertukar pikiran dan banyak mendengar pengalaman teman-teman juga membuat aku lebih paham kalau pernikahan bukan awal kebahagiaan dan akhir dari masalah, tetapi, ia adalah fase dari kehidupan ini, bertambahnya amanah dan tanggungjawab, jadi tak usah diburu-buru, ikuti saja alurNya dan nikmati apa yang ada. Belum menikah bukan berarti tidak bisa bahagia, dan menikah bukanlah alasan besar seseorang menjadi bahagia, namun personalnya lah yang harus mengupayakan kebahagiaan di dalam pernikahan. Subhanalloh, terlalu banyak alasan yang membuat aku harus banyak bersyukur dengan kondisi yang ada. aku semakin yakin Alloh telah menyiapkan pasangan terbaik dalam waktu dekat, di masa datang atau bahkan di akhirat nanti.

Seketika Alloh telah mengatur semua, ia mengirimkan seseorang buat aku. Pintu gerbang amanah itu telah terbuka. Tidak terlalu lama, namun diwaktu yang tepat. Ada yang mau menerima aku, yang awalnya saja keluargaku hampir tak percaya, hahahha, ia siap menjaga dan mencintai sampai nanti. mengerti kelemahanku dan memperbaikinya. Bersama belajar menuju Alloh.

Alhamdulillah, kini ia nyata berada di sampingku, kupandang tidurnya, kupeluk, tak percaya, Alloh mengirimkan seorang ini. melebihi apa yang aku uraikan dalam doa. Kata seorang sahabat, pangeranmu tuh masih menumpas naga jahat, jadi datengnya agak lama, eh ngga ding, dia traveling dulu, nyari kamu dimana... heee

Syukur pada Alloh, si keling yang minder ini, walau tidak cantik, ngetop dan gaul, telah memiliki tautan hati yang dicintai, utuh... (huhuuuu gr).. 
terimakasih ya mas..

Kini aku sedang mengandung calon buah hati pertama kami, belum percaya juga, dititipi Alloh amanah ini, semoga Ia memberikan kemudahan bagi kami menjadi orangtua yang baik. Subhanalloh, aku akan punya bayi, duhh, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?

upss.. dia bergerak, wuaaah... "tidur dek.. "
katanya aku aneh, suka ngliatin kalo tidur, xixixiiiiiii

uppss...

Senin, 07 Maret 2011

aneh ^^

tengah malam aku terbangun..
minum
loh kok kulkas menghadap ke tempat berbeda?
loh kok ini bukan dapurku?
aku jalan ke kamar
bukan kamarku juga
ada laki-laki...
haaaa... bukan tempat tidurku...
bukan rumahku juga..
ini dimana?..
tak seharusnya aku disini

***

kupikirkan baik-baik

***

hufft..
inilah rumahku
sekarang dan besok
dan dia suamiku
yang kan selalu disini,
sekarang dan besok

***
ternyata aku sudah menikah....

Selasa, 22 Februari 2011

ini aku

aku,
pengulang salah yang tulus menyayangimu dengan banyak alasan,
si banyak kekurangan dan akan terus mencintaimu tanpa syarat.
inilah aku.

Senin, 21 Februari 2011

kata orang...

Kata orang, ibu hamil :
  • tak boleh marah, 
  • tak boleh protes,
  • tak boleh kesal,
  • tak boleh memendam perasaan,
  • tak boleh sedih, 
  • tak boleh menangis. 
Lantas, perasaan apa yang boleh dimiliki ?
kata orang (lagi), ibu hamil :
pokoknya harus berpikir positif dan bahagia selalu

Kenapa?
karena bisa mempengaruhi psikologis bayi nanti.

Pertanyaan saya selanjutnya, (bukan dari orang lain) :
  • bagaimana bila berada dalam kondisi ibu hamil harus marah?
  • apa yang harus dilakukan kalau ibu hamil harus memprotes sesuatu? sedangkan memendam perasaaan pun tak boleh?
  • bagaimana bila kondisi membuat ibu hamil menjadi kesal?
  • apakah semua perasaan harus dipendam menunggu sampai tidak hamil lagi? 
  • bagaimana bila orang-orang sekitar dan lingkungan membuat ibu hamil harus sedih?
  • dan apakah airmata bisa dibendung?
Ibu hamil juga manusia berperasaan yang memiliki emosi beragam, wanita tidak hamil pun juga begitu, tinggal bagaimana menyikapinya dengan berpikir dan bertindak positif. Bagi saya, kekhawatiran itu malah akan berpengaruh pada psikologis bayi, jangan terlalu jadikan momok negatif, hal itu malah membuat takut melangkah dan tidak punya sikap.

Bayangkan, bila ibu hamil harus diam, tidak berpendapat dan tidak berekspresi bila diperlakukan seperti apapun. Menurut saya, asalkan tindakan ibu hamil tersebut masih bermuatan positif, solutif dan tidak berlebihan ya tidak masalah.

Mungkin ungkapan orang lain diatas tadi untuk menyikapi agar ibu hamil lebih berpikir positif dalam kesehariannya, bukan untuk mematikan peran dan perasaan. Yups, itulah kekhususan ibu hamil, sikap, reaksi dan tindakannya lebih diperhatikan orang lain, dibandingkan orang yang tidak hamil dengan segala sikap negatifnya.

Atau seharusnya pernyataan diubah menjadi ditujukan pada orang-orang sekitar ibu hamil,
  • jangan membuat ibu hamil sedih
  • jangan membuat ibu hamil marah
  • jangan membuat ibu hamil menangis
bisa? kayaknya engga.. :(


Bagi saya, tak mengapa saya berbicara (yang kata orang protes), bersedih, menangis, kecewa dan beragam emosi lainnya. Toh saya juga memiliki canda, tawa, bahagia, sayang dan cinta (jiaaahh)..


Pesan Bun,
Nak, didunia itu tidak hanya akan ada bahagia, tapi juga ada tangis.
Engkau akan berani berkata benar dengan santun dan berilmu, sehingga engkau tak hanya diam dan menunggu,
Engkau mungkin akan merasakan ketidaknyamanan, namun agar engkau mampu bertindak untuk perbaikan,
Bisa jadi engkau akan merasakan kesulitan agar mampu bangun untuk meraih kemudahan dan kesuksesan,
Engkau akan memiliki rasa ketidaksukaan pada kekerasan, karena engkau memiliki kelembutan dan rasa cinta,
Engkau akan bisa merasakan empati kepada orang lain bila memiliki kesedihan dan air mata,
Dan Engkau pun akan mengalami ketidakberdayaan, agar selalu mengingat dan kembali pada Yang Maha Memiliki Daya Upaya..

Anakku sayang,
Ayah dan Bunbun sayang padamu
Selamat (hampir) lahir kedunia nak. 
Kecup sayang dari sini, tapi Bun ngga bisa, jadi titip Ayah aja ya ^^

*terinspirasi obrolan Bun pada seorang sahabat, makasih Tante Vinna Dien..

Sabtu, 19 Februari 2011

transjakarta koridor ix, solusi bun untuk pulang?

Sebentar lagi, aku segera cabut dari kost-an di Tebet untuk kembali PP Tebet-Cengkareng. Selain boros, aku juga mau membiasakan diri lagi pulang pergi ngebis, udah gitu males juga euy disana, suka kangen sama rumah cengkareng, apa sih hehehe. 

Namun, karena jalur Pancoran-Grogol yang biasa ditempuh menggunakan P46 atau P6, sekarang ngga bisa lagi. Tergantikan dengan Transjakarta koridor IX. aku sudah beberapa kali mencoba jalur busway ini kalau weekend dengan transit di grogol, lanjut ke jalur Kalideres, entahlah koridor berapa.

Dari pengalaman kemarin, berikut kesulitan yang kemungkinan akan aku hadapi kedepan :
1. Di halte pancoran ngga ada petugas yang atur turun naik penumpang dari bus, jadi penumpang agak crowded, so hukum rimba dan hukum sikut berlaku deh... padahal halte ini selalu rame karena strategis. Aku liat banyak petugas yang berkumpul di tempat beli tiket, ngobrol, dll, ngga tersentuh tuh jiwa membantunya (atau semangat kerjanya ya?).

2. Jam pulang kerja selalu penuh, mungkin armada yang kurang kali ya. Apalagi jalur macet yang dilalui membuat jarak tempuh jadi lebih lama, siap-siap bawa betis cadangan.

3. Jalurnya masih tetep macet, terutama dari semanggi ke slipi, katanya sih karena jalur bus bersinggungan dengan pintu tol. Lalu di slipi palmerah yang emang semrawut, udah sering banget bustrans keluar jalur, baru deh bisa jalan, sampe nyenggol2 ke kiri menuju trotoar gitu, ngeriii...

4. Tangga & jalur penumpang berliku dan jauh, uhh.. ada ngga sih yang bisa memperpendek jarak, serasa masuk ke dalam labirin sambil diajak ber-ular tangga. Belum lagi kalo hujan, licin.. ini aku alami di halte Grogol dan Tugu Pancoran.

5. Klo arah berangkat (Grogol ke Pancoran) ada satu halte yang aku ngga tau kenapa, bisa berhenti lama banget. Halte Kuningan. bisa 15menit sendiri. aku berangkat jam 6.15 dari rumah, mepet, berangkat jam 6 juga hampir telat, nyoba jam 6 kurang sama aja. selalu terhambat di halte ini, kenapa ya?

6. aku pikirkan juga, kalo orang-orang pulang setelah jam 22.00, naik apa ya? bustrans udah ngga beroperasi, bus sejalur juga udah dieliminasi. weww... Jakarta semakin ngga ramah..

7. Yang paling aku harapkan dan kayaknya susah terwujud, yaitu ada mushola dan toilet di halte, mimpi kali ya. Hmm..paling ngga halte-halte transit yang besar dan ramai, contoh : harmoni dan grogol. ngarep banget. Kabulkan ya Alloh. amin.

Setelah melahirkan nanti, mungkin naik motor ke kantor jadi pertimbangan juga, haii akechi.. bun kangen nih ^^. Sepertinya bisa mempercepat waktu aku untuk bisa ketemu adek mungil dirumah..

Oke, untuk kali ini menyemangati diri ya kalo tantangan di depan begitu besar, yang tangguh ya nak.. (yel buat bun maksudnya, hee)