Jumat, 18 Maret 2011

andai

Teringat lagi, dan sepertinya tak akan pernah lupa, penyesalan besarku adalah bila mengingat ibu. Ga habis-habis… Memang, menyesal ga akan membuat ibu kembali, tapi sulit untuk mengingat ibu tidak berbarengan dengan penyesalan .
Andai  aku punya kemampuan lebih. Mampu tenaga, mampu waktu , mampu uang, aku akan lakukan lebih untuk Ibu.
Aku akan bawa ibu berobat  serius sebelum terlambat. Ga peduli walau menolak, aku bawa ibu cek-up, ikhtiar untuk sembuh. Toh, pada dasarnya ibu mau diperhatikan, hanya ibu tidak mau merepotkan anaknya.
Aku juga akan jauhkan ibu dari orang-orang yang menambah beban pikirannya, aku usir kerabat yang memicu sesak napas ibu kemarin. Aku benci mereka…
Dan yang terbesar, aku akan luangkan waktuku lebih banyak untuk ibu, menemaninya.. sekarang baru aku rasakan, waktu itu sangat berharga, andai saja… apalagi sampai sekarang kakakku masih menyinggung  sikapku dulu yang lebih mementingkan waktu untuk diri sendiri dibanding bersama ibu, sedih rasanya…
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ibu pergi menyisakan sedih dan penyesalan…
Ibu, maafin andi ya..

si keling & sang pengelana

Aku, perempuan sederhana dari keluarga kurang berada, tidak cantik, tidak juga putih dan menarik. Sejak kecil, aku suka sekali bermain di lapangan, lari-lari, memanjat pohon, mencari ikan di got, mencari tanaman di kebon, naik sepeda keliling kampung, mengolah tanah, kayu pohon & pasir jadi mainan (berani kotor itu baik :D), maka itu, ibu selalu mencari aku sepulang sekolah.

Bila aktifitas outdoor tadi dilakukan setelah pulang kerumah (tidak langsung dari sekolah), maka kakak dan ibu selalu berpesan supaya aku tidak bermain kotor-kotoran, tempat yang panas atau berhubungan dengan daun/pohon pisang, karena khawatir menimbulkan noda di pakaian dan wujud dan aromaku bisa lebih buruk ( hahaha...). gampaaang yang penting ga dilarang. Oh ya..tak jarang aku dijuluki si keling, karena saking hitamnya dan banyak bekas luka sisa-sisa kejayaan saat itu disana sini.

Di sekolah pun, aktifitasku tidak jauh berbeda. Mulai SMP, saat mulai ada pengidolaan (baik karena kecantikan atau kekayaan) di sekolah, aku pun termasuk anak yang (hampir) tidak pernah terlihat, maka itu aku mengupayakan hal lain, prestasi. Tidak terlalu menonjol sih, tapi paling tidak, bisa puas dengan hasil sendiri. Maka terbentuklah aku yang harus mencari keunggulan lain dalam diri yang bisa membuat percaya diri. Persaingan prestasi dimulai.

Teman-teman dekatku juga orang yang tidak terlalu terkenal pula, lebih nyaman bersama mereka, polos, apa adanya. Ada beberapa segelintir, tak banyak, temen-temen nge-top pun ada (dari sisi manapun) tapi sedikit, hee... sebagian dari mereka teman SD, teman berangkat ke sekolah, atau teman ya teman aja.. Jangan bicarakan lawan jenis ya, mana ada yang mau ngelirik aku.. wuahahha...

Disaat menumpuk kepercayaan diri selapis selapis, keluarga memutuskan aku harus sekolah di SMK, sama sekali bukan pilihanku, pupus deh.. waktu itu aku merasakan, apa yang aku bangun pelan-pelan ga terlalu bermanfaat. Jadilah tiga tahun di SMK rasanya datar saja..

Di akhir kelas 1 SMK aku mengalihkan konsentrasi dari prestasi ke  pencarian pohon jati. dengan bimbingan kakak kelas, aku mulai mengenal Islam, yang berlanjut ke menutup aurat. Alhamdulillah, dengan segala proses pencarian kali ini, baru sadar ternyata selama ini aku salah. Kepuasan diri bukan begini caranya, prestasi & percaya diri hanyalah sebagian kecil dari kepuasan batin. Aku mulai merasa percaya diri ketika mulai belajar islam dan bisa menjalankan sedikit-sedikit, kepuasan didapat atas pandangan Alloh, bukan pandangan manusia, ternyata masih banyak yang belum aku pelajari dan yang selama ini aku pahami banyak yang salah.

Aku masih harus banyak belajar dan proses ini tak akan pernah selesai. Fokus hidup beralih, semua terasa lebih jelas & menenangkan. Aku tidak lagi "berambisi", tidak lagi minder di depan teman-teman dan orang lain (baca: ga terlalu peduli selama aku ngga ngerugiin mereka, hee), karena mereka pun tak memikirkan aku. Cuma berpikir menabung kebaikan, cari yang benar dan belajar konsep-konsep tarbiyah untuk ngumpulin pahala dari Alloh SWT. Aku yakin kemudahan, nikmat dan ujian hidup adalah bagian dari kasih sayang Alloh dan kebaikan-kebaikan manusia adalah bonusnya. Mudah-mudahan selalu istiqomah.

Begitu juga, pandangan tentang jodoh. Sebelum hijrah aku masih berpendapat bahwa jodoh segaris lurus dengan kecantikan, kekayaan kepandaian dan sebagainya, jadi perasaan pesimis lebih banyak mendominasi. Namun sejak mengenal tarbiyah, aku semakin yakin bila Alloh Maha Menentukan, manusia tidak bisa memaksakan keinginan sendiri, serahkan pada skenarioNya saja, Alloh menjanjikan lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, begitu juga sebaliknya, berpasangan. maka tugasku hanyalah mengusahakan menjadi baik karena Alloh saja. Aku yakin, walau tidak cantik, tidak kaya, tidak pintar dan tidak banyak keunggulan juga, tapi Alloh akan memberikan seorang yang tidak mementingkan kriteria itu. Ia Maha Tahu Yang Terindah, siapa dan kapan.

Sampai tiba waktunya (menurutku sih sudah waktunya), ternyata sang pangeran belum datang juga. keluarga mulai mengkhawatirkan, aku tidak, karena sudah sangat yakin bila ia akan tiba pada waktunya nanti, urusan Alloh itu tidak perlu dipikirkan, fokuskan saja pada yang ada didepan mata, keluarga, pekerjaan, dan teman-teman (plus proyek akhirat bersama mereka).

Bertukar pikiran dan banyak mendengar pengalaman teman-teman juga membuat aku lebih paham kalau pernikahan bukan awal kebahagiaan dan akhir dari masalah, tetapi, ia adalah fase dari kehidupan ini, bertambahnya amanah dan tanggungjawab, jadi tak usah diburu-buru, ikuti saja alurNya dan nikmati apa yang ada. Belum menikah bukan berarti tidak bisa bahagia, dan menikah bukanlah alasan besar seseorang menjadi bahagia, namun personalnya lah yang harus mengupayakan kebahagiaan di dalam pernikahan. Subhanalloh, terlalu banyak alasan yang membuat aku harus banyak bersyukur dengan kondisi yang ada. aku semakin yakin Alloh telah menyiapkan pasangan terbaik dalam waktu dekat, di masa datang atau bahkan di akhirat nanti.

Seketika Alloh telah mengatur semua, ia mengirimkan seseorang buat aku. Pintu gerbang amanah itu telah terbuka. Tidak terlalu lama, namun diwaktu yang tepat. Ada yang mau menerima aku, yang awalnya saja keluargaku hampir tak percaya, hahahha, ia siap menjaga dan mencintai sampai nanti. mengerti kelemahanku dan memperbaikinya. Bersama belajar menuju Alloh.

Alhamdulillah, kini ia nyata berada di sampingku, kupandang tidurnya, kupeluk, tak percaya, Alloh mengirimkan seorang ini. melebihi apa yang aku uraikan dalam doa. Kata seorang sahabat, pangeranmu tuh masih menumpas naga jahat, jadi datengnya agak lama, eh ngga ding, dia traveling dulu, nyari kamu dimana... heee

Syukur pada Alloh, si keling yang minder ini, walau tidak cantik, ngetop dan gaul, telah memiliki tautan hati yang dicintai, utuh... (huhuuuu gr).. 
terimakasih ya mas..

Kini aku sedang mengandung calon buah hati pertama kami, belum percaya juga, dititipi Alloh amanah ini, semoga Ia memberikan kemudahan bagi kami menjadi orangtua yang baik. Subhanalloh, aku akan punya bayi, duhh, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?

upss.. dia bergerak, wuaaah... "tidur dek.. "
katanya aku aneh, suka ngliatin kalo tidur, xixixiiiiiii

uppss...

Senin, 07 Maret 2011

aneh ^^

tengah malam aku terbangun..
minum
loh kok kulkas menghadap ke tempat berbeda?
loh kok ini bukan dapurku?
aku jalan ke kamar
bukan kamarku juga
ada laki-laki...
haaaa... bukan tempat tidurku...
bukan rumahku juga..
ini dimana?..
tak seharusnya aku disini

***

kupikirkan baik-baik

***

hufft..
inilah rumahku
sekarang dan besok
dan dia suamiku
yang kan selalu disini,
sekarang dan besok

***
ternyata aku sudah menikah....

Selasa, 22 Februari 2011

ini aku

aku,
pengulang salah yang tulus menyayangimu dengan banyak alasan,
si banyak kekurangan dan akan terus mencintaimu tanpa syarat.
inilah aku.

Senin, 21 Februari 2011

kata orang...

Kata orang, ibu hamil :
  • tak boleh marah, 
  • tak boleh protes,
  • tak boleh kesal,
  • tak boleh memendam perasaan,
  • tak boleh sedih, 
  • tak boleh menangis. 
Lantas, perasaan apa yang boleh dimiliki ?
kata orang (lagi), ibu hamil :
pokoknya harus berpikir positif dan bahagia selalu

Kenapa?
karena bisa mempengaruhi psikologis bayi nanti.

Pertanyaan saya selanjutnya, (bukan dari orang lain) :
  • bagaimana bila berada dalam kondisi ibu hamil harus marah?
  • apa yang harus dilakukan kalau ibu hamil harus memprotes sesuatu? sedangkan memendam perasaaan pun tak boleh?
  • bagaimana bila kondisi membuat ibu hamil menjadi kesal?
  • apakah semua perasaan harus dipendam menunggu sampai tidak hamil lagi? 
  • bagaimana bila orang-orang sekitar dan lingkungan membuat ibu hamil harus sedih?
  • dan apakah airmata bisa dibendung?
Ibu hamil juga manusia berperasaan yang memiliki emosi beragam, wanita tidak hamil pun juga begitu, tinggal bagaimana menyikapinya dengan berpikir dan bertindak positif. Bagi saya, kekhawatiran itu malah akan berpengaruh pada psikologis bayi, jangan terlalu jadikan momok negatif, hal itu malah membuat takut melangkah dan tidak punya sikap.

Bayangkan, bila ibu hamil harus diam, tidak berpendapat dan tidak berekspresi bila diperlakukan seperti apapun. Menurut saya, asalkan tindakan ibu hamil tersebut masih bermuatan positif, solutif dan tidak berlebihan ya tidak masalah.

Mungkin ungkapan orang lain diatas tadi untuk menyikapi agar ibu hamil lebih berpikir positif dalam kesehariannya, bukan untuk mematikan peran dan perasaan. Yups, itulah kekhususan ibu hamil, sikap, reaksi dan tindakannya lebih diperhatikan orang lain, dibandingkan orang yang tidak hamil dengan segala sikap negatifnya.

Atau seharusnya pernyataan diubah menjadi ditujukan pada orang-orang sekitar ibu hamil,
  • jangan membuat ibu hamil sedih
  • jangan membuat ibu hamil marah
  • jangan membuat ibu hamil menangis
bisa? kayaknya engga.. :(


Bagi saya, tak mengapa saya berbicara (yang kata orang protes), bersedih, menangis, kecewa dan beragam emosi lainnya. Toh saya juga memiliki canda, tawa, bahagia, sayang dan cinta (jiaaahh)..


Pesan Bun,
Nak, didunia itu tidak hanya akan ada bahagia, tapi juga ada tangis.
Engkau akan berani berkata benar dengan santun dan berilmu, sehingga engkau tak hanya diam dan menunggu,
Engkau mungkin akan merasakan ketidaknyamanan, namun agar engkau mampu bertindak untuk perbaikan,
Bisa jadi engkau akan merasakan kesulitan agar mampu bangun untuk meraih kemudahan dan kesuksesan,
Engkau akan memiliki rasa ketidaksukaan pada kekerasan, karena engkau memiliki kelembutan dan rasa cinta,
Engkau akan bisa merasakan empati kepada orang lain bila memiliki kesedihan dan air mata,
Dan Engkau pun akan mengalami ketidakberdayaan, agar selalu mengingat dan kembali pada Yang Maha Memiliki Daya Upaya..

Anakku sayang,
Ayah dan Bunbun sayang padamu
Selamat (hampir) lahir kedunia nak. 
Kecup sayang dari sini, tapi Bun ngga bisa, jadi titip Ayah aja ya ^^

*terinspirasi obrolan Bun pada seorang sahabat, makasih Tante Vinna Dien..

Sabtu, 19 Februari 2011

transjakarta koridor ix, solusi bun untuk pulang?

Sebentar lagi, aku segera cabut dari kost-an di Tebet untuk kembali PP Tebet-Cengkareng. Selain boros, aku juga mau membiasakan diri lagi pulang pergi ngebis, udah gitu males juga euy disana, suka kangen sama rumah cengkareng, apa sih hehehe. 

Namun, karena jalur Pancoran-Grogol yang biasa ditempuh menggunakan P46 atau P6, sekarang ngga bisa lagi. Tergantikan dengan Transjakarta koridor IX. aku sudah beberapa kali mencoba jalur busway ini kalau weekend dengan transit di grogol, lanjut ke jalur Kalideres, entahlah koridor berapa.

Dari pengalaman kemarin, berikut kesulitan yang kemungkinan akan aku hadapi kedepan :
1. Di halte pancoran ngga ada petugas yang atur turun naik penumpang dari bus, jadi penumpang agak crowded, so hukum rimba dan hukum sikut berlaku deh... padahal halte ini selalu rame karena strategis. Aku liat banyak petugas yang berkumpul di tempat beli tiket, ngobrol, dll, ngga tersentuh tuh jiwa membantunya (atau semangat kerjanya ya?).

2. Jam pulang kerja selalu penuh, mungkin armada yang kurang kali ya. Apalagi jalur macet yang dilalui membuat jarak tempuh jadi lebih lama, siap-siap bawa betis cadangan.

3. Jalurnya masih tetep macet, terutama dari semanggi ke slipi, katanya sih karena jalur bus bersinggungan dengan pintu tol. Lalu di slipi palmerah yang emang semrawut, udah sering banget bustrans keluar jalur, baru deh bisa jalan, sampe nyenggol2 ke kiri menuju trotoar gitu, ngeriii...

4. Tangga & jalur penumpang berliku dan jauh, uhh.. ada ngga sih yang bisa memperpendek jarak, serasa masuk ke dalam labirin sambil diajak ber-ular tangga. Belum lagi kalo hujan, licin.. ini aku alami di halte Grogol dan Tugu Pancoran.

5. Klo arah berangkat (Grogol ke Pancoran) ada satu halte yang aku ngga tau kenapa, bisa berhenti lama banget. Halte Kuningan. bisa 15menit sendiri. aku berangkat jam 6.15 dari rumah, mepet, berangkat jam 6 juga hampir telat, nyoba jam 6 kurang sama aja. selalu terhambat di halte ini, kenapa ya?

6. aku pikirkan juga, kalo orang-orang pulang setelah jam 22.00, naik apa ya? bustrans udah ngga beroperasi, bus sejalur juga udah dieliminasi. weww... Jakarta semakin ngga ramah..

7. Yang paling aku harapkan dan kayaknya susah terwujud, yaitu ada mushola dan toilet di halte, mimpi kali ya. Hmm..paling ngga halte-halte transit yang besar dan ramai, contoh : harmoni dan grogol. ngarep banget. Kabulkan ya Alloh. amin.

Setelah melahirkan nanti, mungkin naik motor ke kantor jadi pertimbangan juga, haii akechi.. bun kangen nih ^^. Sepertinya bisa mempercepat waktu aku untuk bisa ketemu adek mungil dirumah..

Oke, untuk kali ini menyemangati diri ya kalo tantangan di depan begitu besar, yang tangguh ya nak.. (yel buat bun maksudnya, hee)

Senin, 31 Januari 2011

cengengnya bunbun... (_ _!)

Many things happen :D  bisa untuk pelajaran, sayang juga kalo di lupakan

Satu : Mba di Patas 46
Kejadiannya waktu kira-kira kehamilan 3 bulan. Setiap pulang kantor biasanya aku naik bis 46 jurusan Grogol. Walaupun selalu penuh, Alhamdulillah kali ini aku dapet duduk. Tepatnya di deret paling belakang. Posisi duduk : pojokan (kosong), si mba-mba (tersangka yang akan aku bahas), aku, penumpang lain-lain.
Nah, aku liat mba ini ga mau geser ke pojokan yang kosong, ia malah naro tas nya di pojokan itu, padahal bis lama-kelamaan penuh, kasian banyak penumpang yang berdiri. Aku coba menegur untuk geser ke pojokan, tapi si mba ga respon, ga tau kenapa. Lama kelamaan aku sering geser aja pake badan, tapi ga bergerak juga, dia malah sibuk megangin hidungnya karena lagi pilek, bunyi-bunyi soalnya. Aku sebel sampe ketiduran (padahal ga sebel juga di bis pasti tidur :D).  Sampe rumah aku cuman manyun trus nangis dikit. Mas bingung, aku bilang lagi sensi ajah.

Dua : Petugas busway yang sokteu
Waktu itu kira-kira kehamilan 4 bulan. Perutku belum keliatan besar. Pulang kerja aku mencoba jalur berbeda : kantor-pancoran-dukuh atas (metromini 640)-busway harmoni-busway kalideres. Nyoba jalur baru karena menurut info dari Mas, di harmoni ada jalur khusus ibu hamil. Sesampai di Harmoni, antrian ke Kalideres udah mengular, aku pede aja kedepan, yang aku pikir jalur ibu hamil, tapi disana kosong, mungkin antrian sebelumnya udah naik.
Aku tanya ke petugas : “Pak, maaf ini jalur ke Kalideres?”, aku baru mau melanjutkan pertanyaan apa bener ini jalur ibu hamil, eh si petugas langsung ngeloyor pergi ke arah antrian paling depan trus pidato keras2 di depan orang banyak sambil ngeliat ke aku,  “ibu liat ngga? Disini antrian ke kalideres banyak sekali, ibu malah maju kedepan, sudah banyak yang antri disini dan ngga rela kalo ibu nyerobot duluan, antri di belakang dong Bu.. ”
Hiks, tanpa sempat membela diri menjawab apa-apa, aku langsung ngeloyor ke antrian, orang2 ngliatin aku, malu… trus jadi ragu juga, kalo di harmoni ini ada jalur khusus ibu hamil.
Sambil berkaca-kaca, aku sms Mas, trus akhirnya di telepon, nangis deh… ngantri sambil ngadu sesenggukan huhuhu…
“huu dasar petugas sokteu, bukannya dengerin dulu, malah mempermalukan orang”
“hiks.. mas kan baik banget sama perempuan, kok aku ga dibaikin.. hiks”
“biar aja Alloh yang bales..”
Tapi akhirnya pas sampe depan, petugas tengil tadi ngga ada, aku bilang ke petugas lain, kalo aku hamil trus dapet deh jalur prioritas naik duluan & duduk.. akhirnya, walau harus lewat antrian panjang yang bikin pegel.

Tiga : Sholat jamaah yang berairmata
Di kantorku cuma ada satu mushola dan ga begitu besar, hanya berisi 4 shaf. Satu shaf kira-kira untuk 5-6 orang. Shaft pertama untuk satu orang aja, imam lah ya, sedangkan shaft terakhir hanya bisa untuk 3 orang, karena kepotong pintu dan rak mukena. Nah, di shaft terakhir inilah aku biasanya sholat bersama jamaah muslimah lainnya, yang memang pegawai wanitanya sedikit.
Biasanya ndak pernah ada masalah kalo kami (muslimah) ikut di shaft terakhir itu. Cuma beberapa hari belakangan, di sholat gelombang pertama (setelah adzan) lebih rame dari biasanya, dan saat itu aku sering sholat sendiri (mungkin temanku sedang berhalangan), kadang aku mengalah juga (ok, bukan ngalah sih, tapi pengertian karena wudhu belakangan), beberapa kali membiarkan jamaah bapak2 memakai shaft terakhir itu, karena bisa maksimal dipakai 3 orang.
Tapi di hari itu aku kepingin banget sholat duluan, walaupun ngga ada temen muslimah lain. Mungkin karena aku mudah batal wudhu (maklumlah..), juga aku berpikir, sholat kan bisa bertahap, yang wudhu belakangan masih bisa sholat setelah gelombang pertama selesai, no problemo kan... dan... yang terjadi beberapa bapak-bapak di shaft depan "mengusir" aku, untuk sholat belakangan, karena cuma sendiri, lebih baik shaft itu dipakai bapak2 yang sedang mengantri juga. Kata2 itu bersahut-sahutan, semua seakan setuju..grrr... emosi juga, aku pingin menjawab, tapi airmata keluar duluan, akhirnya aku pergi dari jamaah sholat, masih memakai mukena menuju meja kerjaku.
Sejak saat itu aku ngga pernah lagi sholat di gelombang pertama, males ketemu dengan wajah2 pengusir jamaah sholat... aku sih punya argumen (dan akhirnya sempat tersampaikan juga):
1. Sejak dulu juga ga masalah muslimah sholat di shaft terakhir itu
2. Harusnya fair dong, kalo wudhu belakangan ya sholat ikut antrian, jangan dateng belakangan maunya duluan, apa ituh? aku juga fair kok, kalo dateng belakangan ya sholatnya sesuai aja.
toh sholat belakangan juga berjamaah, lagipula kalo aku mundur, yang bisa sholat cuman 3 orang, trus yang lain?
3. Trus aku dikenakan syarat, kalo mau sholat jamaah, harus mengumpulkan 2 jamaah muslimah lagi, syarat yang aneh. aku juga bisa buat syarat, kalo mau sholat jamaah yg full laki2 , kumpulkan dong jamaah laki2 itu, suruh siap sholat buru2 di gelombang awal, jangan maunya dateng belakangan tapi minta diistimewakan. orba juga.
4. Kalo mau solusi lebih konkrit, buatkan kami mushola khusus muslimah dong, aku juga ga pingin2 banget sholat sama mereka kalo ngga kepepet.
huh, jadi emosi juga nulis ini :p

Empat: Annoying person
Ada tiga kejadian :
Satu. Waktu itu di busway, ada dua orang ngobrol di depanku, ngobrol banyaaaaak banget. Aku kurang suka dengernya, karena berisik, laki-laki, suaranya nyaring dan berlogat salah satu suku, maaf ya bukan sara, tapi emang kedengeran lembut tapi ngga berhenti2 ngomongnya dan ngga berspasi. Pingin aku suruh diem sambil aku getok, tapi kan mereka ngga salah ya…
Dua. temen kantor aku. Dia ini sih ga banyak omong, tapi banyak komen. Di awal-awal hamil dia sering ngajak aku ngobrol, kalo dia dateng ke mejaku, kalo aku dateng ke seksi-nya, ketemu di toilet, ketemu di aula, dimanapun, pasti ada aja yg diobrolin, menyenangkan sih awalnya, tapi kok lama2 aku ngga nyaman dg komen2nya. Hmm.. biasanya bernada kurang enak dan kurang penting dibahas. Misalnya barang apa yang aku bawa, ditanyakanlah olehnya, ketemu aku dijalan yg emang lagi  diem (karna mau milih tempat sarapan) dibahas juga. Aku butuh sesuatu ke tempatnya dibahas, aku muntah dibahas, apa yang aku lakukan trus dia liat dibahas.. semuanya dehhh, want to know banget.. sampe sekarang kalo ketemu dia aku suka pura-pura ngumpet gitu hahahhaha.. lebay ngga sih
Sebenernya ga ada yg salah dg dia kali ya, tp buat aku ni temen bagaikan alien, ups..
Tiga, ini sih ngga spesifik pelakunya, agak panik juga kalo deket2 sama orang yang banyak geraknya, biasanya ini rawan terjadi di dalam bus (kalo berdiri) atau di antrian sesuatu atau kalo berdesakan lah. Biasanya orang2 ini berdiri di samping atau depanku. Sambil ngobrol atau entah ngapain, tapi sambil nggerak-nggerakin tangannya, aku udah berusaha ngeles, masih bagus kalu “cuma” dapet kibasan rambut, tapi susah juga menghindar gerakannya yang ngga terprediksi, tas atau sikutnya kena perut ku deh… lumayaaan…
Peringatan buat kita semua, kalo di tempat rame jangan terlalu banyak gerak ya, gaya kanan, gaya kiri, karena siapa tau di belakang atau di samping anda ada ibu hamil yang sibuk menghindar dari rambut, tas dan atau sikut anda, kasian kan…

***

Banyak ya ujian psikisnya, harus banyak banyak bersabar, harus pinter-pinter menjaga mood, walaupun ga hamil ya memang mesti banyak sabar, tapi demi kenyamanan adek & perilakunya nanti, jangan kayak bunbun-nya ini, hikss...
Jangan terpengaruh sikap jelek bun-mu ini ya nak sholeh.. love you...