Selasa, 10 Januari 2012

ngawur

Cewek pasti kagum sama cowok yang suka membantu a.k.a ringan tangan a.k.a helpful. Apalagi yg mbantuin dia dan tanpa diminta...
uuhh... bisa luluh terkagum kagum sampe pingin dapet suami yang kayak gitu..., dan selanjutnya kenyataan yang terjadi :

Cewek : (kok gue ga dibantu-bantuin ya?) *manyun
Cowok : "Kenapa sih manyun aja? Kalo mau dibantuin bilang dong... aku kan ga ngerti kalo ga diomongin,
emang bisa ngerti bahasa isyarat?"
Cewek "Ohh... ok ok"
Cowok : " Nah, jangan ragu-ragu minta tolong, bilang aja ya... yang jelas..."
Cewek : *tersenyum lebar
***
Cowok : "Kamu kok minta tolong terus, manja banget!! mandiri dikit dong..kerjain sendiri"
Cewek :  *diem, manyun lama, lamaaaaa banget
Cowok : (bingung)
Cowok : (masih bingung, karena lamaaaa banget)
Cowok : *daftar les bahasa isyarat

Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (HR Bukhari)

Seorang sahabat Nabi saw. yang bernama Abu Hurairah, pernah suatu ketika hendak melakukan I'tikaf di masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah. Namun di dalam masjid itu beliau melihat seseorang yang sedang duduk bersedih di pojok masjid. Sahabat Nabi itu segera mendatanginya dan menanyakan perihal kesedihannya. Setelah mengetahui masalahnya, Abu Hurairah r.a. berkata: "Ayo berdirilah bersamaku, aku akan memenuhi kebutuhanmu".  Orang itu berkata: "Apakah engkau akan meninggalkan I'tikafmu di masjid Rasul ini hanya demi aku?". Sahabat Nabi saw. itu menangis dan berkata: "Aku mendengar penghuni kubur ini (Rasulullah saw.) bersabda: 'Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu sekalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada ber'tikaf di masjidku ini selama sepuluh tahun". (HR. Muslim).

Kamis, 22 Desember 2011

dan amanah itu pun dimulai...

Bayi kami sudah lahir, aku terus memandanginya. Makhluk kecil ini yang ada dalam rahimku dulu, makhluk kecil ini yang harus kami jaga dan kami didik, makhluk kecil ini yang akan menjadi tanggungjawab kami…

Mengenai nama, sesungguhnya kami belum terlalu sepakat dengan pilihan yang ada, namun ketika lahir, spontan pilihan kami mantap pada : Sachiatifa Kelana Adigie
Sachi = diambil dari bahasa Jepang, artinya anak  yang bahagia & ceria (akuuh banget)
Athifa = diambil dari bahasa Arab artinya lemah lembut, harapan si Ayah biar ga kayak emaknya nie ^^
Kelana = diambil dari bahasa Indonesia,
Adi = dari nama si Ayah
Gie = diambil dari nama tokoh idola si Ayah yang suka naik gunung, sekaligus suka demo, siapa hayooo heheheee

Di rumah sakit pula Ayah menemukan nama Key, karena mau buat video dan launching nama, ya jadilah diambil dari -K- pada Kelana.
*sebenernya sih sejak awal aku tidak setuju pada nama yg universal, aku ingin ada unsur feminin bila bayi perempuan, sebaliknya, maskulin pada bayi laki-laki, itulah kenapa aku setuju pada Sachiatifa.. tapi kok akhirnya lebih terfokus pada Kelana-nya  ya…

Hari Selasa aku melahirkan, Kamis sore sudah diperbolehkan pulang.  Perjalanan menjadi ibu dimulai…

Sesuai perjanjian saat hamil, aku diminta tinggal dirumah keluarga di Tambun, tapi kok aku rasa sangat berat ya… wajah si Ayah ga rela kalo dipisahkan dengan bayinya. Aku sendiri bingung, antara menuruti keluarga (sesuai janji) atau menuruti rasa ketidakrelaan si ayah.

Akhirnya aku minta ditangguhkan supaya hari Minggu Key baru dibawa ke Tambun, dengan alasan hari Sabtu masih ada teman2 yang mau datang. Dan memang betul sabtu itu banyak tamu, tapi aku lebih memilih didalam kamar, menangis.. huhuhuuu.. ga sanggup pergi besok harinya…

Kakak2ku jemput hari Minggu, ga sanggup juga ngliat wajah suamiku. Sampe disana aku banyak bengong, sms-an sama si Ayah. Dan nangis..

Malam Senin-nya Key nangis terus, kemungkinan karena nippleku tiba2 jd ga muncul, hiks.. ditambah bermacam-macam perasaan aneh muncul, ngeliat pakaian kotor, ndenger tangisan Key, bangun jam 2 – jam 5 begadang sendirian, sebenernya ditemenin kakakku nomor 3, tapi dia ga sanggup melek, emang sih udah capek seharian… so, aku makin parah lah rintihan hati ini…

Besoknya, Senin, aku minta pulang, alasannya : hari Selasa  mau control ke RS, tepat seminggu setelah Key lahir, tadinya aku nekat minta sore itu juga pulang dijemput sodara, tapi batal, mo naik taxy ga boleh trus nangis2 sesenggukan, tapi akhirnya diizininnya Selasa pagi, bareng kakak berangkat kerja. Sempat ada konflik juga disini, kakak-kakakku pingin Key aqiqah disini, tapi ternyata aku & suami sudah aqiqah di rumah kami. Ya sudahlah…

Alhamdulillah Selasa pagi aku sudah dirumah, berkumpul layaknya sebuah keluarga, keluarga kecil baru, dan kami pun akhirnya berpelukaaaaannn…(lebay tapi bermakna, beneran)

Kamis, 13 Oktober 2011

brownies kukus air mata

Kayaknya ini kejadian bikin kue yang paling ga enak. Kalo sekedar bantet, gagal atau ga enak sih biasa, (lhoo!??), maksudnya masih bisa di evaluasi dan diulangi dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tapi brokus buatanku kali ini bener-bener bikin kapok. Rasanya semua keadaan dan kondisi membuat brokusku gagal total. Berlebihan ya? Tp ni beneran lo :(
Awalnya nyontek dari resepnya Ena yang asal muasalnya dari sajian sedap katanya. Brownies kukus coklat keju, kupilih karena pembuatannya yang ga di oven seperti kue kebanyakan, tapi dikukus, jadi kucoba deh…
Tanya2 Ena, udahhh. dilanjut, ok…
Lanjut beli semua bahan-bahan yg ga punya, coklat blok, coklat pasta mentega, tepung, lengkap, sip. ok
Beli peralatan yang belum punya, mm.. belum sip, ga OK. Loyang yang ku beli cuma ngira2 ukurannya (inilah awal petaka terjadi). Perkiraan kan mau ngukus di ricecooker, jadi pilih loyang yang kecil.
Kekecewaan pertamaku, sampe dirumah ternyata loyangnya penyok, kedesak-desak bawaan yang lain dan kedorong2 di busway, bentuknya udah ga kotak lagi, jadi belah ketupat kayaknya. Bagian dasarnya jadi cembung pula, yah dibayangkan begitulah, ya Alloh, mana belinya pake uang makan lagi.. *ga nyambung*

Udah gitu dirumah dicoba di panci kukusannya ternyata masih kegedean… hiks…

Aku kurang bisa menerima kenyataan, tetep pingin terus nyoba, yang penting nanti rasanya enak, pikirku. Hari yang dinanti tiba, aku ambil pulang kantor lebih awal, salah satu alasannya ya pingin buat brokus ini. Karena kalo pulang kerja normal biasanya udah ga bisa diganggu gugat, ada klien penting, sedangkan sabtu-ahad mau ada rencana pergi.

Sejak sore, aku blum mulai ngebaking juga, masih blum konsen. Akhirnya jam 21 baru mulai (tetep aja malem2). Nah, karena ada klien penting yang lain lagi, aku mendelegasikan tugas ini pada art-ku yang emang doyan eksplor ngebaking. Ku kasih instruksi dari jarak 2meter sejelas-jelasnya. Ukuran bahan pun sangat diperhatikan, jangan sampe nanti hasilnya ga pas karena kita terlalu kreatif. Seperti pesan si Ayah, jangan nambahin atau ngurangin takaran bahan, ikutin aja yang di resep. Siaappp!!!

Metode mengukus pun disesuaikan kondisi. Kami (aku & art) berdiskusi , gimana caranya ngukus dengan peralatan seadanya. Setelah berdialog cukup panjang, didapatlah metode mengukus, jangan ditanya ide siapa yang jelas aneh banget. Susunannya dari bawah keatas : kompor – penggorengan diisi air-panci kukus yang bolong2-loyang diatasnya (nangkring doang karena ga muat masuk panci kukusan). ide yang ANEH. Ga lupa art-ku nyelipin sumpit-sumpit ajaib punya Ayah untuk menyangga loyang yang ga rata tadi biar ga jatuh. Keren kan bentuknya…

Senyum kami optimis, adonan yang oke, baunya harum, bentuknya memikat, teksturnya juga meyakinkan. Ternyata itu semua ga menjamin keberhasilan brokus kami. Kalo ngikutin resep Ena yang dipanasin dulu 10 menit, trus dikukus 15 menit-15 menit, ternyata panci ajaib kami ga bisa ikutin pakem. Panci-nya ga panas-panas sodara sodara. 

Panci kukus yang bolong-bolong pun dieliminasi dari susunan panci ajaib supaya lebih cepet panas dan mateng.  Kira2 setengah jam dimasukkan adonan kedua, yang berakibat semua kecampur, ya iyalah adonannya masih cair semua. Ya Alloh. Sedihnya…

Jam 23.00. belum ada perubahan.. kusambi ngelonin Key kalo bangun
Jam 23.30.. ART ku suruh tidur, kasian kalo besok jaga Key ngantuk, nanti ga konsen.
Aku masih tetap nunggu, sesekali nambahin air. Tapi kok ga ada tanda2 mateng ya
Jam 24.00.. kusambi nyuci pakaian
Jam 01.00… bentuk masih sama
Jam 02.00 atas saran si Ayah proses dihentikan.. kami menyerah

Jam 5.00 pagi, kue kucoba, mmm… enak juga, tapi lebih mirip makan adonan, hehehe…  ga tega menampakkan fotonya.

*yang ini bagian air matanya*

Suara hatiku berkata Aku Terlalu Memaksakan Membuat Kue, 
ga punya kukusan mau ngukus, ya beginilah jadinya, apa yang dibanggakan… hiks.
Aku ga pernah berhasil membuat kue.

Walaupun kubeli peralatan dan bahan di pasar naik bajay dan gotong2 barang dengan cinta
Walau berdesak-desakan dibusway dan berat bawanya di tangga, kulalui dengan cinta
Walau kuambil pulang cepat dari kantor dengan cinta
Walau kubuat dan kukus dengan cinta
Walau kutunggui begadang dengan penuh cinta
Dengan harapan akan menumbuhkan cinta, cinta dan cinta lagi, tapi ternyata gagal…

Ga ada esensinya aku ngebaking lagi.. ga ngaruh juga.males.
Ya sudah ya… babay bakiiing.. sampai ketemu lagi (semoga)
sekarang beberes peralatan dulu, masukkan loyang, cetakan, adukan telur, mixer ke dalam kotak penyimpanan

Aku emang ga bisa njait rapi, ngerawat tanaman, ngerawat binatang, menyulam, mbungkus kado, tadinya masih ngarep setidaknya masih berharap bisa masak, ternyata juga engga.. *nangis*

Kamis, 06 Oktober 2011

catatan kelahiran Key kami

Rabu, 13 April 2011
hari ini adalah hari lahirku yang bertepatan dengan jadwal kontrol dengan dr Yenny, sehingga sepulang dari kantor, aku tidak pulang ke kost, melainkan lanjut ke rumah sakit di Cengkareng. Alhamdulillah begitu datang bisa langsung periksa, jadi tidak menunggu sampai malam. Keluar dari rumah sakit, ternyata sudah ada kejutan dari Mas, aku dibawanya ke tempat makan favoritnya dan disuguh menu-menu Kepiting, yihaa...nyam nyam nyam...

Kamis, 14 April 2011
Malam ini Mas ada urusan kantor yang kemungkinan jadi harus pulang malem, kasian kalo Mas harus ke kost dalam kondisi capek & malem banget ( padahal lagi manja aja, ga mau menunggu di kost sendirian sampe malem ). Setelah membujuk rayu, akhirnya Mas ngebolehin aku pulang ke Cengkareng lagi.

Jumat, 15 April 2011
Pagi ini terasa berat, aku hampir ngga sanggup naik tangga busway, pelan-pelan akhirnya terlambat sampe kantor :(..
Pulang jumat ini memang jadwal pulang Cengkareng, besok kan Sabtu.. Sebelum pulang, aku sempatkan dulu ketemu temen2 di TA. Menuju jalan pulang, sekitar jam 9 malam, perutku terasa sakit, sepertinya efek belum makan kenyang, tadi di TA aku makan sedikit batagor. Duuh.. padahal udah janji akan bawakan mas makan malem. Kalo lagi sakit perut gini aku ngga sanggup cari makanan, apalagi si adek sudah terasa beraatt..
Sampe di rumah, Mas belum pulang, masih ada yang dikerjakan, padahal besok pagi juga mau ke anyer. Pasti capek.
Perutku masih sakit, aku rebahan dan ketiduran, bangun jam 12 Malam, Mas belum juga pulang dan aku pun belum membeli makanan, ku ambil menu delivery 24jam dan coba memesan, tapi gagal.. uuhh janji palsu katanya bisa pesen kapan aja.
Sekitar jam 2 Mas pulang. Hingga subuh, sakit perutku belum sembuh juga.

Sabtu, 16 April 2011
Setelah sholat subuh, sakitku makin menjadi, aku muntah. uffhh.. maagku kambuh. Mas memutuskan untuk ke RS, awalnya aku menolak karena ini hanya maag, tapi akhirnya aku iyakan. Setelah pamit dengan teman kantornya karena tidak jadi ikut ke Anyer, barulah kami ke RS.
Sekitar jam 8 aku ditangani medis dan masuk ruang observasi melahirkan. Diagnosa nya ternyata aku sudah mengalami bukaan 2 di kehamilan 35 minggu ini, tapi berat bayi masih kurleb 2,4kg. Belum dianggap cukup untuk lahir. Dr Yenny memutuskan aku untuk opname, bedrest, agar bukaan lahir tidak bertambah dan disuntikkan penguat paru-paru, yang kalaupun harus lahir, bayi memiliki paru-paru yang lebih kuat.
Setelah opname 4 hari di rumah sakit, aku dibolehkan pulang dan kembali cek seminggu lagi.

Selasa, 26 April 2011
Kontrol kehamilan minggu ke 37 ini, Dokter menyatakan aku sudah mengalami bukaan 3 dan sudah boleh melahirkan. Padahal aku tidak mengalami sakit (kontraksi) sama sekali. Setelah di-CTG untuk mengecek detak jantung bayi, yang Alhamdulillah normal, aku diperbolehkan pulang dan kembali bila tanda-tanda melahirkan semakin terasa.

Deg2an nunggu dirumah.. nunggu waktunya tiba, aku banyak melakukan hal-hal yang disarankan orang-orang, ngepel-ngepel, jalan-jalan, bersih-bersih dan hal-hal dengan pengulangan kata yang lain...

Setiap waktu kami memantau ada tanda-tanda kelahiran ngga ya, ketuban pecah, flek, kontraksi, tapi kok belum ada... padahal katanya udah bukaan tiga. Dengan informasi nomor hape dr.Yenny dari Enno, ku konsultasikan ke beliau, aku diminta tetap dirumah sampai tanda-tanda melahirkan muncul dan kontrol lagi Selasa nanti.


Selasa, 3 Mei 2011
Kontrol lagi. jam 12.30 WIB. dokter Yenny cek, ternyata aku sudah di bukaan 4 (ga terasa juga, hee) tapi ketika di usg, air ketuban sudah berkurang, kemungkinan rembes dan bisa berpengaruh ke bayi . Akhirnya dokter menyegerakan aku untuk melahirkan hari ini dengan proses induksi. Aku dibawa ke ruang observasi, mas urus2 administrasi. Bener-bener deg-degan...

Jam 14.00
Suster mulai pasang infus induksi, Mas udah balik ke kantor, nyelesaiin kerjaan dulu, karena kemungkinan proses kerja induksi masih 12 jam-an kata dokter.

Jam 14.30
Perutku mulai mulas, aku sempatkan makan nasi goreng yang disediakan rumah sakit pas lagi jeda ga mulas. Mas kembali ke kantor dan berencana balik setelah jam pulang, jam 5. aku titip pesen untuk bawa kelengkapan di rumah, perlengkapan bayi, perlengkapan aku, kamera, handycam, quran, madu, sarkum, coklat, loh kok jadi banyak makanan ?!!!?...

Jam 15.00
Mulas terus berlanjut, tapi aku masih sempat sms temen kantorku Mba Dian, nanya soal cuti, sms temenku yang jualan T*pperware, dan beberapa temen, hiyaaa.... mulasku makin hebat, kubilang mas untuk datang sekarang aja..
Di sebelah ada ibu juga yang akan melahirkan juga, untuk anak ketiganya. Ku dengar ia sering berteriak bila mulas melanda, kupikir mungkin lebih baik juga buatku, akupun ikut berteriak, hwaaa... dan jadilah ruangan itu lebih rame, hehehe...
saat terasa ingin pip, aku diizinkan suster ke toilet dengan membawa infus, tapi tiba2 kakiku basah terkena tumpahan air, aku kaget.. ketuban pecah ternyata, suster tetap mengizinkan aku ke toilet. sekembalinya ke tempat tidur, air ketuban tidak berhenti mengalir, aku diminta untuk tidur miring dan tidak banyak bergerak.

Jam 15.30
mas gagah ku datang.. Alhamdulillah, ada yang bisa dijadikan sandaran... (baca: objek gigitan)

Jam 16.00
mulasku semakin tak berhenti, sepertinya sudah waktunya, tapi suster masih melarang aku mengejan.

Jam 16.20
dokter datang, prosesi melahirkan dimulai.. Alhamdulillah dimudahkan Alloh, Jam 16.35, bidadari kecil kami lahir, lega, terharu, bahagia, Mas tersenyum bangga padaku... Kami menjadi orangtua.

Subhanalloh Walhamdulillah... terimakasih Alloh..

Rabu, 13 April 2011

matriks, lakaran minda-ku..

Betapa inginku diami sebuah daerah
seindah lakaran minda
Dunia anganan yang damai terlalu sempurna
Bagaikan gambaran syurga
Kesantunan murni menjadi wiritan
Segalanya tunduk dalam ketaatan

Semua manusia merasa dirinya bersalah
Dan lantas memohon ampun
Mendermakan harta sehingga tiada siapa
Yang sudi menrimanya
Tiada terdengar tangis kelaparan
Tiada sengketa peperangan

Kupadamkan mentari kehangatan
Kunyalakan bulan kegelapan

Bebintang kusentuh kupetik
Kutabur di jalanan
Menjadi lampu alam
Berkelip kelipan

Anak-anak minta dipukul
Kerana merasa sakitnya ibu melahirkan
Para isteri memukul diri
Kerana merasa diri derhaka pada suami

Keluarga bagai syurga disegerakan
Para suami rela akui kelemahan

Begitu indahnya dunia mimpiku
Dapatkah kubawa dalam realitiku

Lirik nasyid asal Malaysia ini telah menginspirasi aku & teman2 (sikut Ena) untuk punya impian indah di masa datang nanti. Ya kurang lebih kondisi keluarga dan lingkungan masyarakat ideal seperti di lirik itu lah, yang akhirnya sedikit menghasilkan mimpi yang ternyata (harusnya) bisa juga terealisasi di dunia.

Awalnya tahun 2007, teman-teman di lingkungan rumah dengan lingkup kecamatan seringkali mengadakan bakti sosial kepada masyarakat, bisa berupa pelayanan kesehatan, pembagian sembako, peralatan tulis, perlombaan anak-anak, bazzar murah dan lain-lain dengan titik lokasi yang berpindah-pindah. Namun kegiatan yang positif ini masih aku rasa kurang efektif, karena warga hanya merasakan manfaat berupa uang dan barang sesaat tanpa tindaklanjut. Menurutku ini adalah lahan untuk menjangkau masyarakat penerima bantuan untuk lebih maju dan mengenal Islam. Ketika hal ini kusampaikan kepada teman-teman panitia dan aku menawarkan program-program tindak lanjut, sepertinya kurang mendapat respon yang baik. Mungkin mereka sedang lelah memikirkan kegiatan-kegiatan baksos selanjutnya.

Akhirnya ide ini aku tawarkan kepada teman-teman dekat yang aku yakini memiliki kegelisahan yang sama (saahhhh… ). Untuk lebih memvisualisasikan ide ini aku buatkan konsep proposal kepada mereka. Semangat, terinspirasi lagu lakaran minda tadi dan membawa ide dusun binaan BEM FE dulu akhirnya aku bentuk lembaga bernama MATRIKS, kepanjangan dari Masyarakat Pencinta Generasi Kreatif dan Sholeh. Artinya ini adalah kumpulan orang-orang yang peduli kepada masyarakat untuk lebih cerdas dan terdidik secara berkelanjutan.

Program yang aku tawarkan adalah program beasiswa bagi anak asuh berprestasi, taman pendidikan alquran gratis, taman bacaan, pembinaan remaja, pengajian ibu-ibu yang diutamakan orangtua anak asuh dan murid TPA, serta pembinaan ekonomi. Dana yang didapat adalah dari donatur rutin masyarakat yang mungkin diawal adalah dari teman-teman kita ini (hee…) baik berupa uang (kami terima mulai dari 10ribu perbulan hingga tak terbatas) atau barang (alat tulis misalnya) ataupun donatur insidental yang biasanya ramai di bulan Ramadhan. Kelebihan dari program ini adalah, kami tidak perlu mencari peserta karena telah terdata pada teman-teman panitia baksos lalu dan sudah kami kenal, tinggal kita datang blok tempat tinggal keluarga-keluarga ini lantas jalani program.  

Mengenai dana, ingin rasanya aku tidak membebani teman-teman yang nantinya akan bekerja menguras tenaga dan pikiran, namun aku belum menemukan model lembaga hukum seperti apa yang bisa membuat donator-donatur besar atau lembaga percaya kepada kami, sedangkan untuk membuat yayasan dibutuhkan dana 6juta rupiah.. dooohh… oleh sebab itu sambil menunggu perkembangan kami coba dulu jalani program-program ini dengan dana yang ada.

Teman-teman terlihat antusias dan setuju, mereka siap membantu sesuai dengan apa yang mereka bisa. Sebagai langkah awal terkumpul dana 385ribu rupiah dari teman-teman dan sumbangan buku dari PKS kecamatan larangan. Ditambah dengan dana zakat profesi (setelah aku berkonsultasi dengan seorang ustadzah tentang dibolehkannya pemanfaatan zakat bagi lembaga ini) akhirnya dimulailah proyek ini.

Ku gunakan dana awal itu untuk membeli lemari buku dan peralatan TPA (meja, buku Iqro, buku tulis, alat mewarnai dsb). Sebelumnya aku meminta izin kepada tetangga yang juga membuka pengajian anak-anak, aku menginformasikan bahwa TPA yang akan didirikan ini adalah berorientasi social dan tidak akan mengganggu kepesertaaan TPA milik tetangga tersebut. Beliau memahami. Alhamdulillah.

Alhamdulillah program pertama, TPA, setiap hari senin-kamis jam 18.30-19.30, diasuh oleh dua kakakku bisa berjalan. Sedangkan aku tidak bisa membantu operasional, karena baru sampai dirumah jam 7-8 malam, padahal sih karena tidak bakat mengajar anak-anak, hee…

Program selanjutnya adalah pengajian ibu-ibu. Hufft.. agak berat sih, karena ini debut pertama, aku mengajak ibu-ibu yang jauh lebih tua dari aku, dan biasanya mereka telah mengikuti pengajian mingguan di Masjid, ada kekhawatiran mereka mencurigai undangan kajianku.

Pertemuan pertama diagendakan membaca alquran dan taklim dengan mengundang Ustadzah Ratmi kerumah. Belum banyak pesertanya, tapi Alhamdulillah, mereka tertarik dan aku sudah cukup puas mendobrak kekhawatiran selama ini, heee..

Selanjutnya adalah program anak asuh, sebagai sasaran pertama aku memilih Wahyu, tinggal di ujung gang, orangtuanya memiliki banyak anak, wahyu sebagai putra pertama telah putus sekolah sejak SMP. Saat penawaran itu, orang tuanya memang terkesan tidak terlalu antusias, namun mereka bersedia memberikan dukungan bila kami mau menyekolahkan Wahyu. Langkah selanjutnya aku mencari sekolah gratis yang dekat, agar bisa menghemat transport. Setelah searching, telepon sana-sini, survey ke sekolah-sekolah, akhirnya kami memilih sekolah binaan BaytulMall di jurangmangu. Subhanalloh dari proses pemilihan sekolah ini aku banyak mendapat pelajaran baru. Ada sekolah di atas panggung yang aku temui di daerah bintaro, yang belajar di tengah alam. Siswanya banyak terdiri dari pedagang di sekitar bintaro (yang ternyata masih usia sekolah. Sekolah ini juga menyediakan komputer dan peminjaman sepeda. Namun karena jarak, kami tidak memilih sekolah ini untuk Wahyu.

Kebutuhan Wahyu  untuk sekolah kami penuhi, peralatan sekolah, seragam dan transport, namun sayang kegiatan ini tidak bisa berjalan lama, karena Wahyu tidak mau sekolah lagi, sering bolos dan tidak mau mengikuti TPA. Akhirnya belum sampai setahun program ini terhenti.

Namun tidak hanya Wahyu, kami pun memberikan santunan kepada anak-anak berprestasi dan tidak mampu di wilayah sekitar, namun hanya dalam bentuk santunan bulanan dan tetap mengikat mereka untuk ikut pembinaan pekanan.

Program selanjutnya adalah program dua pekanan pembinaan bagi remaja. Pesertanya adalah anak usia diatas murid TPA untuk dibina lebih intens, namun yang lebih sering dating tidak jauh berbeda dengan murid TPA pula, hehehe... Biasanya berlokasi di Masjid Nurul Amal dan dibimbing oleh rekan-rekan mentor yang nantinya  peserta diarahkan menjadi remaja Masjid aktif.

Sedangkan program terakhir yaitu pembinaan ekonomi, masih dipikirkan, kegiatan produktif apa yang cocok dan prospek bila dilakukan oleh Ibu-ibu.

Selain itu masih ada kegiatan-kegiatan yang kami lakukan bersifat tahunan dan incidental, misalnya outbond anak-anak, rihlah (rekreasi) keluarga, kegiatan ramadhan, penyaluran zakat, infak, dan fidyah masyarakat.

***

Hingga tahun 2011 ini, program telah berjalan kurang lebih empat tahun.  Sejak setahun lalu aku sudah tidak tinggal di daerah Larangan lagi. Kegiatan dipimpin dan dilakukan (sebagian besar sendiri) oleh sahabatku mba Sri, hmm.. maafkan aku mba…

Donasi pun belum bisa berjalan lancar, aku memahami ini, karena mungkin para donator punya kebutuhan lain, apalagi tenaga dan pikiran mereka turut tersumbang bagi program-program Matriks.

  • Kegiatan TPA sudah dibubarkan, :( . hal ini terkait dengan tidak tersedianya tempat dan pengajar. Rumahku sudah dijual dan kami sudah pindah dari sana, dan memang sejak TPA berjalan tidak ada tenaga pengajar yang bersedia mengajar rutin seperti kakakku. Sungguh amat disayangkan harus melepas anak-anak yang antusias belajar. Semua peralatan dan sarana dipindahkan ke rumah mba Sri.
  • Taman Bacaan memang tidak pernah dibuka secara resmi, karena ketiadaan tenaga penjaga pada siang hari. Jadi,  biasanya buku-buku hanya dibaca saat TPA aktif, sambil menunggu, anak-anak bisa membaca.
  • Santunan belum bisa berjalan lagi, karena kami tidak berani memberikan santunan rutin bila donasi tidak bisa dipastikan rutin pula. Apalagi terkait dengan ditiadakannya pembinaan bagi remaja karena tak ada kakak-kakak pembinanya. Miris. Padahal asset produktif nih.
  • Kegiatan yang berjalan sangat baik adalah taklim ibu-ibu, diadakan seminggu sekali. Kami sudah memiliki dua basis massa (halaah bahasane…). Jalan gotong royong dan gang buntu. Insya Alloh ibu-ibu sudah cukup solid. Semula diadakan bergantian di rumah salah satu ibu di gang buntu, namun sekarang telah rutin di adakan di rumah mba Sri. Dengan agenda yang jelas dan familiar, ibu-ibu telah dirangkul dengan baik. Kegiatan ekonomi pun mulai berjalan, sempat ada penawaran program sulam pita dengan system komisi (bener ngga mba) dari seorang teman yang memproduksi barang-barang rumahtangga kerajinan tangan, trus apa lagi mba? hee.. ketauan ga update sekarang.
Masih perlu banyak pembenahan di berbagai sisi, tapi saat ini aku masih belum bisa berbuat banyak. TPA membutuhkan tempat dan pengajar, beasiswa memerlukan dana, bimbingan memerlukan mentor, Taman bacaan memerlukan tempat dan tenaga, begitu pula dengan taklim ibu-ibu, membutuhkan tenaga. Keinginanku sih semua dikelola dengan professional, penyewaaan tempat khusus (tidak menumpang) dan pemberian insentif bagi SDM yang terlibat. Namun saat ini belum bisa dilakukan, selain karena factor dana juga SDM pengelola.

Mungkin masih mimpi untuk menyempurnakan ini semua. Semoga  terbentuknya sebuah yayasan, tersuplainya dana secara rutin dan SDM pengelola yang cukup bisa segera terwujud.

Saat ini akupun baru hanya bisa mensupport mba Sri untuk terus semangat membina ibu-ibu dan berkali-kali meminta maaf karena belum juga bisa membantu atau bahkan datang kesana. Padahal ibu-ibu masih rajin hubungi aku, sms dan telepon.. hiks…

Terimakasih, Jazakumullaoh khoir katsir teman-teman dan/atau donatur yang sudah membantu, baik dana, tenaga maupun pikiran selama ini, semoga Alloh mengganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak
Ya Alloh ridhoi mimpi-mimpi kami… amin.

Sabtu, 02 April 2011

menunggu kehilangan

Tak akan ada yang bisa lepas dari kematian, misterinya hanya Alloh yang Tahu dan Maha Menentukan.  Kita pasti akan bertemu dengan kematian, entah kapan dan dengan cara apa. Bila belum bertemu dengan kematian, bisa jadi kita akan berhadapan dengan kematian orang-orang terdekat yang kita cintai. Sehingga meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal biasa dalam hidup, yang terpenting adalah mengisi bekal terbaik untuk kehidupan setelah kematian.

Aku termasuk orang yang paham teori ini, sudah lama… tapi tak mengira bila harus aku yang mengalami kejadian ini.  Sampai ditinggal Ibu, 1,5 tahun yang lalu, hampir tak percaya, tak sadar dan hampir tak bisa menerima kenyataan bila kematian tidak milik orang lain saja, aku juga…

Agustus 2009, awal mulai mengerti pelajaran kematian ini. Saat itu aku harus berada di rumah sakit dan ruangan bernama Ruang Tunggu ICU. Hari pertama datang aku hanya menangis melihat ibu didorong  tak berdaya diatas ranjang dengan berbagai selang dipasang di tubuhnya untuk kemudian masuk ke ruang ICU, kami tidak boleh masuk. Aku dan keluarga, hanya menangis sambil sesekali dihibur oleh kerabat yang datang. Aku melihat di selasar lorong banyak keluarga penunggu pasien, karena tidak muat lagi berada di dalam ruang tunggu. Setiap keluarga hanya dibatasi tas atau perbedaan alas duduk. Aku melihat mereka yang kebingungan melihat kami yang sedang histeris, seakan-akan mereka tahu apa yang aku rasakan dan mengatakan “selamat datang di dunia nyata ini, sayang…”

Karena jam besuk yang terbatas (jam 12-13 dan jam 19-20) dan ada panggilan sewaktu-waktu dari petugas medis maka kami sekeluarga harus siaga dan bergantian menunggu diluar ruang ICU. Akhirnya kamipun menjadi bagian dari barisan selasar rumah sakit. Kami menggelar tikar panjang, ada tas sebagai bantal, jaket, minum dan sedikit makanan. Pada satu waktu kami bisa saja maju beberapa petak porselen karena ada keluarga pasien yang pindah atau bahkan mengangkat seluruh perangkat karena ada razia dari manajemen rumah sakit.

Dari pengalaman ini aku baru mengerti apa yang dimaksud ruang ICU itu, telat ya… boleh dikatakan, ICU ini ruang yang paling menegangkan, semua perawat difungsikan maksimal, karena kekritisan kondisi pasien, sedang disebelahnya ada ruang Intermediate ICU (lupa apa sebutannya), pasien yang dirawat lebih ringan tingkat kekritisannya dan boleh dijenguk keluarga tanpa dibatasi jam, kecuali pengunjung non penunggu tentu saja dan... pasien yang dirawat masih  memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik dari pasien ICU.

Hari-hari pertama aku berada disana, ada kejadian yang membuat aku kaget.. tiba-tiba ada ranjang keluar dari ruang ICU, pasien ditutup selimut, meninggal. Keluarga sebelahku berbisik.. “itu pasien di bangsal sekian.. iya, yang sakit…, sudah beberapa hari..hhuuufftt..” tak lama kemudian kami bergeser pindah tempat karena ada keluarga yang pergi dan membereskan peralatannya, rupanya keluarga pasien yang meninggal tadi.

Semakin lama, hal ini menjadi kebiasaan. Semua keluarga penunggu yang berada disana, harus bersiap dengan panggilan perawat yang mendadak, karena bisa jadi pasien dalam keadaan kritis. Sedangkan kami tak perlu khawatir bila dipanggil pada jam-jam tertentu yang dipanggil untuk diberi resep obat, yaitu sekitar jam 7.30 pagi atau jam 20.00 malam bila ada panggilan konsultasi dokter.  Selain jam-jam tersebut, kami hanya saling beradu pandang bila ada nama pasien yang disebut untuk memanggil keluarganya…

Pada saat jam besuk dibuka, seluruh keluarga telah mengantri di depan pintu ruangan dan mengambil baju khusus, rebutan pula. Dua jam perhari itu sangat kami manfaatkan untuk bertemu Ibu. Mengajaknya ngobrol, mendoakan atau sekedar memeluk dan menyentuhnya. Kadang ada perasaan enggan untuk masuk, kami tidak bisa menerima kenyataan melihat ibu tersiksa. Tubuhnya dingin, dipasang alat bantu pernafasan, belasan infuse dan bengkak di beberapa bagian. Namun. Inilah yang harus dihadapi, siapa yang akan menemui Ibu jika bukan kami, aku mencoba tegar dan terlihat biasa saat berkomunikasi dengan ibu, walau hati ini terasa pedih tersayat. Sedang kakakku kadang tidak sanggup, melihat ibu hanya menangis, lalu keluar, karena tidak ingin ibu melihat kami sedih lalu pesimis.

Di rumah malam harinya, aku selalu memikirkan ibu menanggung rasa sakitnya, sedang aku tidur dan makan dengan nyaman. Saat itu aktivitasku terasa hampa, tak bermakna, semua seperti berpura-pura. Makan terasa sakit di tenggorokan, kulit kering, sariawan dan tidak ada semangat kecuali untuk segera menemui Ibu.

Semakin lama, kami semakin akrab dengan sesama keluarga penunggu. Terutama yang memiliki masa tunggu yang sama. Posisinya semakin bergeser mendekat. Keakraban kadang diselingi canda, namun tetap miris, seperti terpaksa. Membicarakan keuangan dan biaya yang mahal, dan entah darimana kami mengusahakannya namun ada saja rezeki tersebut, yang dicandakan bahwa “uang yang ada dan bertebaran diruang tunggu ini tak akan hilang diambil, karena beraroma infuse dan obat…” , juga membicarakan keluarga dan kesehatan pasien masing-masing, ini yang biasanya membuat iri hati. Aku iri terhadap satu keluarga yang menunggu ayahnya di Intermediate, huuhh… sang ayah mengalami pendarahan di otak, diduga karena fisiknya terlalu lelah, kemungkinan karena ia adalah guru olahraga.

Diumpamakan pula istilah naik kelas/naik pangkat, yaitu bila pasien Intermediate berhasil pindah ke rawat jalan, atau pasien ICU berhasil pindah ke Intermediate atau langsung ke rawat jalan. Iri. Sedang Ibu termasuk pasien yang menghuni lama di dalam ruang ICU, kurang lebih 28hari.

Berbagai macam keluarga aku temui, banyak pelajaran berharga mengenai perhatian, kasih sayang, kesedihan dan pengorbanan keluarga.  Kami semua merasakan berada dalam kondisi ketidakjelasan dan terombang-ambing, namun tidak boleh lemah atau sakit. Seperti berdiri tegak sambil diiris-iris.

Satu waktu, pasien sebelah ibu, yang dalam keadaan koma, akhirnya meninggal dunia, seorang laki-laki keturunan, saat jam besuk aku sering melihat banyak pendeta (atau rahib ya? ) yang datang untuk mendoakan bapak itu. Keluarganya pun terlihat siap dengan kematiannya, ada yang mengatakan ingin segera berbagi warisan, namun aku pikir keluarga sudah pasrah karena sudah lama koma, sehingga terlihat biasa saja.

Lalu ada seorang laki-laki berusia 45an tahun. Tersenyum indah, istrinya lulus masuk ke rawat jalan. Ia bercerita istrinya memang sering sesak mendadak dan beberapa kali masuk keluar ruang ICU, namun Alhamdulillah menurut dokter kali ini bisa pindah ke ruang perawatan, semoga tidak masuk ke ruang menyeramkan ini lagi.

Penunggu disebelahku ada beberapa anak muda, katanya menunggu paman mereka yang organ pencernaannya sudah tak berfungsi, entah apa, aku pun kurang paham, sehingga diperlukan alat bantu. Sang Paman pun sudah dirawat lebih dahulu daripada Ibu. Tak berapa lama ia pun meninggal.

Kemudian ada pula seorang anak, mungkin usianya baru 12-13 tahun. Masuk ruang ICU karena kecelakaan motor, tidak memakai helm dan melawan arus. Kepalanya diperban dan memakai alat bantu pernafasan. Sang Ibu yang mendampinginya, tidak banyak berbicara pada kami, wajahnya terlihat tegang dan bingung. Yang aku dengar, suami nya belum lama meninggal dan ia masih memiliki satu anak lagi. Beberapa hari kemudian anak itu meninggal, sang ibu sering kali terlihat ada di tangga darurat, merokok.

Satu malam ada lagi seorang laki-laki masuk ke ruang ICU, di ruang ventilasi, keluarganya seorang perempuan ( istri ) dan dua anaknya yang masih kecil mengantar. Dua anaknya terlihat sangat ceria, sepertinya belum mengerti keadaaan ayahnya. Keesokan pagi, sang ayah meninggal, si anak pun masih tetap ceria bermain, sambil mengucapkan bila boss (ayahnya) sedang sakit..

Satu keluarga lagi, keturunan Arab, yang dirawat adalah Ibu mereka, usianya masih muda, 40an tahun, dalam kondisi tidak sadar, terkena serangan darah tinggi, sehingga pembuluh darah di otaknya ada yang pecah. Keluarganya banyak menunggu diluar, tidak juga banyak bercerita pada kami. Beberapa hari kemudian, aku dengar pasien sudah keluar dari ruang ICU, entah lulus atau kemana…

Dan yang paling dekat adalah keluarga Teh Yenny, suaminya dirawat hampir selama ibu dirawat. Usianya masih muda dan baru memiliki satu anak. Hmm.. mungkin aku tidak setegar dirinya bila itu terjadi padaku. Karena tepat di awal Ramadhan, sang suami dipanggil menghadap Alloh SWT, masih berusia 33 tahun.

Setelah itu aku hampir tidak lagi mengenal keluarga pasien, semua terasa asing. Apalagi seminggu kemudian ibu mengalami kritis kemudian koma dan tidak sadar lagi.

***

Selama menunggu Ibu ini, aku memang tidak full sehari semalam, biasanya aku datang dari kantor jam 11 siang (untuk mengejar jam besuk yang jam 12.00) kemudian pulang jam 20-21an setelah jam besuk kedua, begitu setiap hari. Alhamdulillah mendapat kemudahan dari kantor untuk datang hanya dari pagi hingga jam 11 siang. Kakak pertamaku lah yang menjaga dari pagi dan mendapat giliran membeli obat, dan kadang bertemu dokter. Kecuali sabtu minggu, aku bisa ikut membeli obat.

Bila ada pilihan aku ingin segera men-skip masa ini. Terlalu perih dilalui, pelan-pelan dan menyakitkan. Aku dipaksa untuk tetap tegar dan logis menghadapi kenyataan dan mengambil langkah terbaik untuk ibu, padahal airmata ini sudah terbendung lama dan tertahan di dada, apalagi godaan untuk putus asa selalu datang. Doa bisa menenangkan, dukungan saudara dan teman-teman juga membantu tapi tidak lama. Aku tetap sakit.

Kemudian aku berpikir, di hidupku yang normal, saat menjalani aktivitas seperti biasa, menunggu bis, menunggu jemputan, menjalani hal-hal menyenangkan, tak terpikirkan disini ada segelintir orang yang sedang menunggu, setia menunggu sesuatu yang mungkin akan menyakitkan, menunggu ketentuan Alloh SWT malaikat Izrail mencabut dan membawa nyawa orang-orang yang mereka sayangi, menjalani siklus kegiatan tidak seperti biasanya, memiliki tabungan air mata atau bahkan sudah kering sama sekali.
Kematian begitu ramah disini, nyata, lewat begitu saja dan terlihat biasa. Baik untuk lebih dekat dan semakin menggantungkan diri pada Alloh SWT.

Setiap kerabat yang datang, hampir semua berkomentar, bila tiba masanya nanti, mereka tidak ingin merepotkan keluarga, tidak ingin dirawat begitu lama di rumah sakit, ia ingin langsung mati saja. Hah, seperti menyalahkan ibu ...

Ibu sama sekali tidak merepotkan kami. biaya yang dikeluarkan adalah dari uang ibu sendiri, waktu dan tenaga yang digunakan untuk menunggu pun anggaplah balas jasa atas pengorbanan ibu yang tidak akanpernah bisa kami balas. Dan sekali lagi ibu tidak perlu merasa merepotkan, kami persembahkan sebagai tanda cinta kami pada Ibu, paling tidak untuk yang terakhir kali di masa hidupnya.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kematian akan menyapa, cepat atau lambat, dirumah sakit atau bukan, dan dengan cara apapun…  jadi  anggaplah semua yang dilakukan keluarga adalah yang terbaik buat kita dan wujud kasih sayang mereka…


Jumat, 18 Maret 2011

andai

Teringat lagi, dan sepertinya tak akan pernah lupa, penyesalan besarku adalah bila mengingat ibu. Ga habis-habis… Memang, menyesal ga akan membuat ibu kembali, tapi sulit untuk mengingat ibu tidak berbarengan dengan penyesalan .
Andai  aku punya kemampuan lebih. Mampu tenaga, mampu waktu , mampu uang, aku akan lakukan lebih untuk Ibu.
Aku akan bawa ibu berobat  serius sebelum terlambat. Ga peduli walau menolak, aku bawa ibu cek-up, ikhtiar untuk sembuh. Toh, pada dasarnya ibu mau diperhatikan, hanya ibu tidak mau merepotkan anaknya.
Aku juga akan jauhkan ibu dari orang-orang yang menambah beban pikirannya, aku usir kerabat yang memicu sesak napas ibu kemarin. Aku benci mereka…
Dan yang terbesar, aku akan luangkan waktuku lebih banyak untuk ibu, menemaninya.. sekarang baru aku rasakan, waktu itu sangat berharga, andai saja… apalagi sampai sekarang kakakku masih menyinggung  sikapku dulu yang lebih mementingkan waktu untuk diri sendiri dibanding bersama ibu, sedih rasanya…
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ibu pergi menyisakan sedih dan penyesalan…
Ibu, maafin andi ya..